KEDIRI, JP Radar Kediri - Perbaikan Jembatan Kaliombo I di Jalan Urip Sumoharjo, Kota Kediri sontak membuat kehidupan sosial masayrakat di sekitarnya berubah. Ada yang menganggap proyek selama sekitar tujuh bulan itu sebagai musibah. Namun, ada juga yang mendapat berkah.
“Pasti terdampak secara ekonomi. Biasanya ramai pengendara yang melintas, sekarang hanya ada beberapa saja. Alhasil yang membeli di lapak juga berkurang sampai 50 persen,” ujar Tini, warga yang berjualan nasi bungkus di Jalan Urip Sumoharjo
Diakuinya, pembeli di lapaknya mayoritas adalah pengendara yang melintas di jalan raya penghubung Kediri-Tulungagung itu. Biasanya, lapak Tini ramai pembeli saat pagi. Yakni saat orang-orang berangkat kerja atau mengantar anaknya ke sekolah.
Secara lokasi, warung Tini memang cukup strategis. Lokasinya di pinggir jalan raya. Mudah diakses tanpa harus membayar parkir. Saat sedang ramai, dia bisa menjual 30 bungkus nasi dalam hitungan jam.
Namun, saat proyek perbaikan Jembatan Kaliombo I dimulai atau Jl Urip Sumoharjo ditutup, omzetnya langsung terjun bebas. “Ya sekarang laku 15 bungkus saja sudah bagus. Omzetnya semula Rp 300 ribu jadi Rp 150 ribu saja,” beber perempuan asal Kecamatan Pesantren, Kota Kediri itu.
Meski omzetnya turun, Tini mengaku tak ingin pindah lokasi berjualan. Alasannya, dia takut kehilangan pelanggan jika harus pindah ke tempat yang baru. Opsi yang bisa diambil adalah bertahan di lapak sambil berharap pengerjaan jembatan bisa lebih cepat selesai.
“Banyak yang mengeluh ini pedagang-pedagang kecil. Mereka menggantungkan hidup dari berjualan ketika sepi ya susah,” tandasnya.
Senada dengan Tini, Marsudi, salah satu pemilik toko kelontong di Jl Urip Sumoharjo juga mengeluhkan sepi pembeli. “Pendapatan turun hampir 70 persen,” keluhnya sembari menyebut dalam sehari hanya ada 5-10 pembeli yang merupakan warga sekitar.
Sama dengan Tini, pembeli di toko Marsudi pun mayoritas warga yang sedang melintas. Karenanya, begitu jalan ditutup karena terdampak proyek, tokonya langsung sepi. Jika biasanya Marsudi bisa mendapat uang sampai Rp 300 ribu dalam sehari, sekarang maksimal tinggal separonya saja.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, pemberitahuan perbaikan Jembatan Kaliombo I ini memang cukup mendadak. Sebelumnya mereka tidak pernah mendapat sosialisasi terkait proyek dari Pusat itu. Padahal, tidak sedikit masyarakat yang menggantungkan periuk rumahnya dari sana.
Selain pemilik warung dan toko kelontong, ada pula Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), toko ritel, hingga bengkel sepeda motor. “Kalau dari SPBU 5464148 penurunan omzetnya sampai 85 persen. Tanpa pemberitahuan dan musyawarah dahulu akan potensi yang timbul,” sesal Sales Branch Manager (SBM) Pertamina Regional Kediri Anwar Hidayat.
Baca Juga: Semprit Kendaraan Berat Lewat Jalur Alternatif Imbas Penggantian Jembatan Kaliombo I Kota Kediri
Jika biasanya dalam sehari bisa menjual 17-18 kiloliter, kini tinggal 2-3 kiloliter saja. Tak hanya omzet yang merosot, menurut Anwar mobil tangki Pertamina juga tidak bisa masuk ke SPBU.
“Harapan kami perbaikan dapat dipercepat. Ada opsi lain yang bisa diterapkan agar omzet tidak menurun drastis,” tuturnya.
Penurunan omzet hampir 80 persen juga dirasakan oleh salah satu kedai di sana. Menghadapi penjualan yang lesu, Ren, manajer tempat makan yang jadi jujukan berkumpul anak muda itu rajin meng-update kondisi lalu lintas. Dengan cara tersebut, dia bersyukur omzet perlahan bisa naik.
Yang membuat Ren pusing, meski omzetnya turun, dia tetap harus membayar pajak sebesar 10 persen. “Harapannya bisa ada kompensasi penurunan pajaknya. Dan dipercepat proses perbaikannya,” pintanya.
Tak hanya dampak ekonomi, kehidupan sosial warga juga terdampak. Salah satunya warga yang tinggal di Gang Durian. Jika semula lingkungan mereka relatif sepi hingga anak-anak bisa bebas bermain, kini jalan sempit itu jadi akses utama yang padat kendaraan.
Akibatnya, anak-anak tidak bisa lagi leluasa bermain atau beraktivitas. Bahkan, warga mulai anak-anak hingga dewasa ikut terjun mengarahkan pengendara yang melintas di jalan labirin tersebut.
“Awal-awal banyak yang kebingungan. Karena jalannya memang kecil dan banyak cabangnya. Kami sukarela untuk membantu saja,” ungkap Tar, warga asli Kelurahan Kaliombo, Kecamatan Kota itu.
Ya, warga memang berjaga di ujung gang sepanjang hari. Mereka membawa kotak kardus dan memberikan arahan jalan yang bisa dilalui pengendara. Beberapa pengendara memberikan uang secara sukarela.
Baca Juga: Kota Kediri Makin Padat, Ini Penjelasan Soal Perlunya Rekayasa Lalu Lintas
“Kalau ada yang memberi alhamdulillah. Jika tidak juga tak apa kami tidak memaksa. Hanya saja minta pengertian mereka berkendara dengan pelan karena banyak anak kecil,” lanjut Tar.
Sementara itu, tak melulu berdampak negatif, ada pula warga yang mendapat berkah dari perbaikan Jembatan Kaliombo I. Mereka adalah penyedia jasa penyeberangan perahu tambang di Sungai Brantas. Jumlah penumpang meningkat sampai dengan 50 persen sejak revitalisasi jembatan dimulai.
Seperti pada Sabtu (6/6) lalu, penyeberangan perahu tambang di Kelurahan Manisrenggo, Kota Kediri ramai dipadati warga. Pengendara lebih memilih menyeberang menggunakan perahu tambang untuk menghindari jalur alternatif yang lebih jauh dan padat.
“Jumlah penumpang meningkat signifikan sejak jembatan ditutup untuk revitalisasi. Jika biasanya satu kali penyeberangan hanya mengangkut sekitar 10 orang. Kini meningkat menjadi sekitar 15 penumpang,” aku Ali, pemilik usaha perahu tambang.
Baca Juga: Kaliombo I Kediri Dibongkar, Macetnya di Mana-Mana, Ini Alasan Perbaikan Membutuhkan Waktu Lama!
Meski jumlah penumpangnya naik sekitar separo, Ali tidak mau aji mumpung menaikkan tarif. Melainkan tetap Rp 2 ribu untuk sepeda motor sekali menyeberang.
Untuk diketahui, penyeberangan perahu tambang menghubungkan Kelurahan Manisrenggo, Kota Kediri dengan Desa Bulu, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Jalur ini menjadi pilihan utama sebagian warga yang memiliki mobilitas harian.
“Penyebrangan perahu menjadi solusi tercepat pasca penutupan Jembatan Kaliombo 1. Selain tarifnya murah, waktu tempuh juga lebih singkat dibanding memutar lewat jalur alternatif yang sampai 6 kilometer. Belum lagi ada kepadatan di beberapa titik,” sambung Joko, warga Kelurahan Manisrenggo itu.
Editor : Andhika Attar Anindita