Mereka ada di garda depan konservasi. Menjaga kawasan hutan dan sumber air agar tetap lestari. Pilihan hidup berat yang teguh mereka jalani, meskipun mendapat banyak perlawanan.
AYU ISMA, Kabupaten, JP Radar Kediri
Hery Susanto melangkahkan kaki di sela-sela pepohonan rapat. Terus menyibak vegetasi hutan yang lebat. Hingga tiba di dekat sebatang pohon raksasa.
Begitu besarnya pohon itu, ketika kita mencoba membentangkan kedua tangan, belum menyentuh setengah lingkar batang pohonnya. Bila dikira-kira, diameter batang paling bawah bisa mencapai 4 meter.
“Ini namanya pohon leses. Salah satu endemik di hutan ini,” Hery Susanto mengenalkan pohon raksasa itu.
Saat itu Hery dan seorang temannya, Amar Widodo, tengah berada di hutan penyangga kawasan Sumber Pedet. Lokasinya ada di Desa Tempurejo, Kecamatan Wates.
Baca Juga: Jaga Ekosistem Mata Air, Pengelola Sumber Jembangan di Wates Kediri Lakukan Reboisasi
Hery adalah salah seorang perangkat di desa tersebut. Tepatnya sebagai kepala seksi pemerintahan (kasipem). Namun, dia juga seorang relawan Penggerak Pelestarian Hutan dan Sumber Air.
Di desanya, ada satu kawasan hutan yang menjadi penyangga beberapa sumber air. Luas totalnya mencapai hampir dua hektare dan berstatus kawasan lindung. Separo di antaranya ada di kawasan Sumber Cetok, nama sumber lain.
Nah, pohon leses itu ada di kawasan hutan Sumber Cetok. Areanya ada di tengah lahan produktif milik warga yang banyak ditanami tebu dan ubi jalar.
Keberadaan hutan lindung ini ibarat oase. Sebagaimana pohon raksasa bernama ilmiah Ficusalbipila itu, Hery ingin alam yang ada sekarang juga bisa bertahan dan dinikmati generasi penerus. Bahkan kalau bisa, hingga ratusan tahun yang akan datang.
Baca Juga: Tim Ekspedisi Penyelamatan Mata Air Ekspolorasi Tiga Sumber di Wilayah Timur Kediri
“Kami inginnya, kelak bisa meninggalkan jejak bahwa ini loh hutan kita masih terawat, sumber airnya terjaga. Belanda saja meskipun menjajah tapi sangat merawat hutan. Seperti Sumber Banaran dan Alas Karetan itu juga peninggalan Belanda,” ujar Hery.
Perjalanannya menggaungkan semangat pelestarian hutan di desanya dimulai pada 2001 lalu. Berawal dari keprihatinannya melihat kawasan hutan Sumber Jembangan yang rusak.
Banyak pohon tumbang. Sumber airnya pun tidak terawat. Bersama relawan hutan lainnya, pria yang biasa dipanggil Pak Bayan itu mulai gencar menanam pohon.
“Awalnya dulu pokoknya menanam. Tapi nggak mikir pohon itu invasif atau tidak. Seperti Mauni itu ternyata invasif karena merusak sumber air,” kenangnya.
Baca Juga: Tim Ekspedisi Penyelamatan Mata Air Kunjungi Sumber Panguripan di Banyakan Kediri
Seiring waktu dia dan para relawan hutan mulai berjejaring dan belajar tentang karakteristik tumbuhan untuk pelestarian hutan dan sumber air. Ilmu dari akademisi itu juga membuka wawasannya bahwa vegetasi hutan di Desa Tempurejo cukup unik.
Contohnya, vegetasi hutan Sumber Jembangan yang mirip dengan yang ada di kawasan Cagar Alam Simpenan atau Alas Simpenan. “Kami juga banyak belajar ke sana,” katanya.
Diakuinya, menjadi penjaga hutan adalah jalan sunyi dan terjal. Apalagi sebagai relawan, mereka hanya bisa bergantung pada diri sendiri dan kawan seperjuangan. Cacian hingga penolakan dari warganya bahkan sering dia dapati.
“Yang mencaci-maki itu banyak. Terkadang juga upaya konservasi ini berbenturan dengan kepentingan wisata (pengembangan pariwisata, Red),” ungkapnya. Dia mencontohkan, membuat bangunan permanen dan membabat pepohonan untuk kepentingan wisata itu tidak sejalan dengan upaya konservasi.
Selain itu, sering kali pohon yang baru ditanam, habis dibabat warga untuk pakan ternak. Ada juga yang memburu ikan endemik dengan cara disetrum. Pria kelahiran 1970 itu mengenang, pernah ada 125 bibit pohon beringin yang baru ditanam di hutan, hilang karena dicuri kolektor.
“Dulu juga pernah menanam 700 bibit pohon nangka di lingkungan desa. Itu saya beli sendiri bibitnya. Tapi belum sampai besar, habis diramban orang,” sambung Amar Widodo, relawan lain.
Baca Juga: Tiga Sumber di Kota Kediri Jadi Tujuan Tim Ekspedisi Penyelamatan Mata Air
Amar termasuk warga yang juga militan soal pelestarian hutan dan sumber air. Baginya, ada kepuasan tersendiri melihat hutan tetap rimbun. Meskipun sebagai relawan, dia tidak dibayar sama sekali. Justru kerap menyisihkan waktu dan materinya untuk belajar dan berburu bibit ficus hingga ke berbagai daerah.
“Ada kepuasan tersendiri seumpama hutannya jadi rimbuh, mata air jadi besar. Karena itu kan banyak manfaatnya juga bagi masyarakat,” tandas Amar.
Upaya melestarikan hutan di kampung halaman itu tidak hanya mereka lakukan dengan menjaga hutan yang sudah ada. Melainkan juga membangun hutan dari nol.
Untuk menopang Sumber Truneng di desa tersebut, Hery dan beberapa relawan hutan membangun hutan dengan konsep arboretum. Atau, ‘hutan mini’ dengan banyak koleksi pohon, utamanya jenis ficus. Tujuannya tak hanya untuk pelestarian alam. Tetapi juga sarana edukasi dan penelitian.
“Itu saya mulai tahun 2013. Dulu lahan kosong dan sempat jadi lahan sengketa,” ujar Hery.
Lahan itu hampir dijarah masyarakat. Sampai berujung pada penebangan pohon. Hingga akhirnya, dia memutuskan menanami lahan seluas 0,5 hektare itu dengan tanaman ficus sebagai penyangga sumber air.
“Waktu itu tahunya pohon beringin, atau kimeng. Kami beli di Pasuruan cangkokannya sebanyak 200 pohon dan ditanam di sini,” kenangnya.
Yang juga dia pelajari dari proses itu adalah bahwa membangun hutan itu tidak mudah. Tak sekadar menanam dan ditinggal begitu saja. Perlu perawatan yang konsisten. Belum lagi berhadapan dengan masyarakat yang justru membabat dan merusak pohon.
Kini, setidaknya, ada 39 jenis ficus di arboretum itu. Menjadi rumah bagi berbagai satwa. Termasuk beragam ular dan burung. Seperti camperling, kutilang emas, trucuk hutan, dan lainnya.
Baca Juga: PPK Ormawa Himabio UNP Kediri Kemas Potensi Hutan Tempurejo Jadi Ekowisata dan Produk Herbal
“Kami ingin arboretum ini jadi pusat penelitian dan memberikan manfaat bagi sektor pertanian,” tandasnya.
Hingga saat ini, sudah cukup banyak peneliti dari berbagai perguruan tinggi yang singgah. Bahkan tak jarang, menginap demi menggali ilmu pengetahuan di balik kekayaan hutan Desa Tempurejo. Dia berharap, penelitian-penelitian itu bisa menjadi gerbang awal menuju pelestarian alam yang semakin masif, khususnya di Kabupaten Kediri. (fud)
Editor : Andhika Attar Anindita