Tak hanya teknik melukisnya yang khas, seniman ini juga mengusung sesuatu yang berbeda pada karya-karyanya. Setiap goresan pensilnya adalah teriakan hati sang pelukis. Menjadi corong meluapkan apa yang dia rasakan.
HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri
Namanya Dyah Pornawati. Profesinya adalah guru seni dan budaya. Mengajar di salah satu sekolah menengah atas milik negara, SMAN 4 Kota Kediri.
Tapi, menjadi pengajar bukan satu-satunya profesi yang ditekuni wanita 52 tahun ini. Kemampuannya melukis membuat dia bisa menghasilkan lebih dari 60 karya. Jumlah itu dia hasilkan selama 30 tahun berkarya.
“Sejak TK (taman kanak-kanak, Red) suka corat-coret,” ucap perempuan yang akrab disapa Dyah ini.
Baca Juga: Kisah Eko Wahyuda, Peternak Gen-Z Kediri Pemilik Sapi Raksasa Seberat 1.214 Kilogram
Bila melihat latar belakang keluarganya, tak heran Dyah memiliki darah seni. Mengalir dari keluarga besarnya yang juga mayoritas punya kemampuan dalam bidang seni. Ada yang bisa menyanyi, memainkan alat musik, hingga melukis.
Hanya, mereka semua melakukan sekadar hobi. Bukan sebagai ladang cuan.
Itu yang membedakan dengan Dyah. Dia menyeriusi hasratnya melukis dengan bersekolah di jurusan tersebut.
“Waktu SMA itu hasil gambaran saya sering dapat apresiasi dari teman-teman. Tak jarang saya juga dimintai tolong untuk menggambarkan dan diganti dengan semangkuk bakso,” kenangnya.
Senyum mengembang ketika dia bercerita kenangan masa remaja itu. Tahapan yang menjadi titik munculnya kepercayaan diri dalam melukis.
Pujian-pujian sederhana itu menjadi penyemangat tersendiri. Membuatnya bertekad melanjutkan kuliah di jurusan yang sesuai minat dan bakatnya, yaitu seni. Maka, masuklah dia ke jurusan seni rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Riak kecil sempat mewarnai pilihan jalannya itu. Orang tua sempat menentang. Mengkhawatirkan seperti apa masa depan sang anak nanti. Untungnya, ada kompromi yang terjadi.
“Awalnya tidak boleh mengambil seni. Kecuali ambil di keguruan. Berupaya meyakinkan ke orang tua bahwa nanti saya juga bisa jadi guru,” imbuh perempuan berusia 52 tahun itu.
Selama menempuh pendidikan di Unesa idealisme dalam menghasilkan karya lukis mulai terbentuk. Berprinsip bahwa orang yang akan mengikuti selera seninya. Bukan hasil karyanya yang harus mengikuti permintaan orang.
Hasil karyanya cenderung menyampaikan keresahan pada lingkungan sekitarnya. Hingga meluapkan apa yang sedang dirasakan.
“Mayoritas memang isu lingkungan. Sebelum ramai tentang deforestasi baru-baru ini, tahun 2019 saya sudah menggambar terkait itu,” terangnya sembari menunjukkan gambarnya tentang penebangan kayu yang kemudian dibuat menjadi rumah berbahan dasar kayu.
Sebenarnya gambar yang dituangkan dalam kertas itu juga mewakili keresahan banyak orang. Resah melihat penebangan hutan di mana-mana. Belum lagi lahan kosong yang semakin sedikit sehingga membuat harga beli tanah mahal.
Baca Juga: Hilang Penglihatan, Pasutri Asal Kediri Ini Gantungkan Hidup dari Bantuan Pemerintah
“Itu secara tersirat saya tuangkan di gambar, apa nanti kita bangun rumah di atas batu saja,” tuturnya disertai gelak tawa.
Teknik melukis yang digunakan wanita ini sedikit berbeda. Hanya menggunakan peralatan sederhana, tanpa cat dan kuas. Bentuk-bentuk di kanvas dari kertas manila itu dibuat dengan aneka pensil.
Untuk keperluan melukisnya itu dia menyiapkan satu set pensil di kotak khusus. Pensil-pensil itu berbeda tingkat ketebalan. Menjadi peralatan utama dalam teknik drawing yang dia terapkan di kanvas kertas berukuran A2 hingga A5.
“Lukisan saya menggunakan goresan pensil, bukan lukisan yang mencampurkan berbagai kombinasi warna,” terangnya.
Memang terlihat simpel, tapi ide atau simbol yang dimunculkan dalam karya lukisnya tidak sesederhana itu. Seringkali dia harus menimbun ide-ide itu selama satu bulan untuk menghasilkan karya dengan simbol yang tepat.
Menurutnya cukup sulit menyederhanakan sebuah konsep menjadi satu kesatuan. Utamanya dalam memilih objek-objek apa yang akan hadir di gambar.
“Misalnya gelondongan kayu kemudian di atasnya ada rumah. Jadi pada dasarnya manusia menebang kayu untuk membuat rumah dari kayu. Setiap objek harus bisa merepresentasikan apa yang saya maksut,” bebernya.
Tak melulu isu lingkungan, tak jarang dia melukis dari apa yang dilihat. Misalnya pakaian dalam yang sedang digantungkan di sebuah pohon.
“Ide saya kadang juga nakal. Tidak melulu isu-isu yang berat,” tuturnya.
Idealismenya yang tinggi dalam menghasilkan karya membuat Dyah diundang untuk mengikuti berbagai pameran yang ada di Kediri hingga luar kota. Mulai dari Surabaya, Malang hingga Solo.
Meski tak selalu laku terjual, Dyah menyebut jika keikutsertaannya saja sudah menjadi kebanggaan baginya. Karena karya yang dimiliki bisa dinikmati oleh banyak orang.
Menurutnya, karya lukis yang dimiliki memiliki mangsa pasarnya sendiri. Orang-orang yang memiliki kedekatan emosional dan rasa yang mampu memahami karya miliknya.
Menjadi pelukis selama 33 tahun sudah banyak karya yang dihasilkan. Begitupun pengalaman-pengalaman pahit yang telah dilalui.
Hanya satu pesan yang ingin disampaikan. Yaitu anak-anak muda harus tetap memiliki jiwa seni. Jika memang berpikir realistis jadikan seni sebagai hobi bukan sumber mata pencaharian.
Editor : Andhika Attar Anindita