JP Radar Kediri - Usianya baru 25 tahun, masuk golongan generasi Z. Namun jalan yang dia ambil berbeda dengan sebayanya, memilih menekuni dunia ternak. Hasilnya, sapi miliknya jadi yang terberat di wilayah Kediri.
Pemuda bertubuh gempal itu mengelus kepala sapi raksasa yang ada di dekatnya. Tangan kirinya memegang kuat tali kekang yang melingkar di kepala hewan piaraannya itu.
Sapi berwarna hitam dengan garis putih di bagian tengah kepala tersebut memang layak disebut raksasa. Bobot hewan memamah biak itu bisa bikin geleng kepala. Lebih dari satu ton! Persisnya, 1 ton 2 kuintal lebih 14 kilogram! Atau, kalau ditulis dalam satuan kilogram bobot sapi jenis simental pegon itu adalah 1.214 kilogram!
Wajar bila kemudian sapi yang dia beri nama Raden Armogo tampil perkasa di ajang Kontes Ternak Kabupaten Kediri 2026 di Lapangan Desa Wonorejo, Kecamatan Wates. Menjadi juara di kategori Kereman Ekstrem.
Baca Juga: Kisah Wahyudi Purniawan, Pelukis Otodidak yang Karyanya Melanglang Buana hingga Luar Negeri
Toh, gen Z peternak ini terlihat belum benar-benar puas. Masih menyimpan ambisi yang akan terus dikejar.
“Saya mau mengejar rekor berat sapi nasional, di angka 1.405 kilogram. Jadi, belum ada rencana dijual,” jawab pemuda bernama lengkap Eko Wahyuda itu, usai ditanya Bupati Hanindhito Himawan Pramana yang mendatangi.
Bagi pemuda yang biasa disapa Yuda tersebut membawa sapi yang tampil perkasa dalam kontes ternak bukan pertama kali. Kontes yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri tersebut juga bukan yang pertama kali dia ikuti. Dia pernah mengikutkan sapi andalannya di Boyolali, Bojonegoro, Tulungagung, hingga Jember. Di Jember itu di meraih juara kedua melalui sapi jenis Brahman berbobot 1.355 kilogram.
Kecintaannya pada dunia peternakan sudah tumbuh sejak usia 18 tahun. Awalnya, ia berguru pada sang ayah yang merupakan peternak kambing. Namun, Yuda merasa beternak sapi jauh lebih seru. Selain tantangannya lebih besar, ia merasa lebih mudah membangun relasi dengan sesama peternak sapi.
“Kalau ada kontes seperti ini jadi tambah semangat. Bisa kumpul dengan peternak lain dan saling sharing ilmu,” katanya.
Di kandangnya, di belakang rumahnya yang ada di Desa Srikaton, Kecamatan Ringinrejo, berisi empat ekor sapi. Jenisnya beragam, mulai simental limosin hingga simental pegon.
Paling istimewa tentu saja ya si Raden Armogo itu. Sapi yang dia beli sejak usia 22 bulan dan kini menginjak empat tahun umurnya.
“Yang paling kesayangan ya yang ini. Sudah seperti keluarga sendiri. Kemarin Idul Fitri juga kami sekeluarga foto dengan sapi ini,” ungkapnya sambil tersenyum.
Keakraban Yuda dengan sang piaraan memang terlihat mata. Juluran rumput gajah dari tangannya langsung disambut dengan kunyahan terus-menerus dari sang sapi.
Meski beberapa sapinya dijual untuk kebutuhan kurban, Yuda memastikan Raden Armogo tidak akan dilepas. Sapi tersebut dipeliharanya khusus untuk kontes dan memotivasi peternak lain.
Sebelumnya di momen menuju Hari Raya Kurban ini, Yuda juga pernah menjual empat ekor sapi jenis Brahman dan Simental Moncong kepada artis kondang Raffi Ahmad.
“Iya dibeli Raffi Ahmad, katanya untuk kurban anaknya,” ujarnya.
Setiap hari, rutinitas Yuda dimulai sejak pagi. Menuju kandang untuk memberikan pakan tambahan atau nyombor. Lalu mencari rumput hingga siang hari. Setelah itu, ia kembali memberi makan dan membersihkan kandang.
Menurutnya, merawat sapi membutuhkan kesabaran dan ketelatenan tinggi. “Bukan soal makan banyak tapi bagaimana pakan itu bisa memenuhi kapasitas perut sapi dan dicerna dengan baik. Vitamin dan nutrisi juga penting,” jelas bungsu dari enam bersaudara, yang hanya mengenakan kaus tanpa lengan ketika tampil di kontes tersebut.
Untuk pakan, Yuda membuat konsentrat sendiri. Sedangkan rumput yang digunakan biasanya rumput gajah maupun rumput liar dari area persawahan. Kebetulan, selain beternak ia juga membantu pekerjaan di sawah dengan menanam padi dan sayur-mayur.
Sebagian besar waktunya kini memang dihabiskan bersama para peternak lain. Ia mengaku jarang nongkrong dengan teman sebayanya. Lebih menikmati berdiskusi soal ternak dan memperluas relasi.
Baginya, tantangan terbesar sebagai peternak adalah memahami karakter sapi. Sebab, hewan ternak juga bisa mengalami stres dan kehilangan nafsu makan jika perawatannya tidak tepat. Ia pun pernah menghadapi ancaman penyakit mulut dan kuku (PMK). Pengalaman itu menjadi pelajaran penting untuk meningkatkan perawatan ternak.
Baca Juga: Hilang Penglihatan, Pasutri Asal Kediri Ini Gantungkan Hidup dari Bantuan Pemerintah
Kini Yuda rutin melakukan vaksinasi dengan bantuan dokter hewan, mulai tiga bulan sekali hingga enam bulan sekali. Kebersihan kandang juga selalu dijaga agar sapi merasa nyaman.
“Kalau kandang bersih, tidak banyak lalat dan nyamuk, sapi juga lebih nyaman. Itu berpengaruh ke kualitas daging,” pungkasnya, sambil terus mengelus-elus sapi yang punggungnya ada warna cokelat itu.
Editor : Andhika Attar Anindita