Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Di Balik Meninggalnya Balita MAM yang Diduga Korban Penganiayaan di Nronggo Kota Kediri, Ini Yang Wajib Kamu Ketahui!

Hilda Nurmala Risani • Jumat, 17 April 2026 | 22:56 WIB
DUKA MENDALAM : Warga sekitar berkumpul di area rumah korban. (ASAD MS/JPRK)
DUKA MENDALAM : Warga sekitar berkumpul di area rumah korban. (ASAD MS/JPRK)

 

Bocah ini tinggal di keluarga yang tertutup. Jarang bergaul dan bertetangga meskipun rumahnya berdempetan di gang sempit. Banyaknya bekas luka di tubuh korban menguatkan dugaan penganiayaan yang berlangsung lama.

                                                      

HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri

 

Gang ini, di Lingkungan Baubendo, Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota, biasanya adem ayem. Jarang terjadi kehebohan kecuali riuh rendahnya aktivitas keseharian warganya. Namun, semuanya berubah di Rabu malam (15/4). Orang-orang silih berganti datang. Tujuannya melihat lokasi tempat tinggal bocah bernama MAM. Bocah yang kematiannya diduga akibat penganiayaan yang dilakukan orang tuanya.

MAM, bocah empat tahun itu selama ini tinggal bersama sang ibu, Ria Novita Sari. Rumah yang mereka tinggali itu milik Sumilah, ibu Ria Novita Sari. Selain ketiganya, penghuni lainnya adalah Suwito, suami Ria Novita Sari, serta dua kakak perempuan MAM yang juga masih balita, Fif, 5, dan Fit, 6.

Baca Juga: Mohammad Zainuri, Juru Pelihara Situs Calon Arang yang Tertua di Kabupaten Kediri Bikin Riset Mandiri demi Cari Data Valid

Tempat tinggal keluarga ini berada di gang sempit yang jalannya cuma selebar satu meteran. Hanya cukup dilewati satu sepeda motor saja. Tak bisa digunakan untuk berpapasan.

Untuk mencapainya juga tak bisa langsung. Harus melewati beberapa gang. Pertama, dari jalan besar, Jalan Sersan Suharmaji, masuk gang di sebelah ritel modern. Dari gang yang relatif besar ini, sekitar 50 meter ke timur, masih belok lagi ke kanan masuk ke gang yang lebih kecil. Setelah kira-kira 30 meter akan bertemu gang yang lebih kecil. Tandanya ada pagar rumah bercat hijau.

Dari mulut gang ini rumah tinggal keluarga Ria Novita Sari berjarak 50-an meter. Berpintu kayu dan berjendela kaca dengan tembok warna putih kusam. Di bagian depan ada teras yang memisahkan rumah dengan jalan gang berpaving. Lebar terasnya hanya setengah meteran, yang lantainya sudah rusak. Juga ada pagar pembatas antara teras dan jalan berpaving yang bisa untuk duduk-duduk.

Baca Juga: Kisah Marsiah, Penjual Jenang yang Berhaji di Usia 104 Tahun Asal Kecamatan Semen Kediri

“Gang ini masuk wilayah RT 3 RW 6,” kata Ketua RW 6 Baharuddin Yusuf, sesaat setelah kejadian Rabu malam.

Menariknya, meskipun di berbagai catatan resmi nama ibu MAM itu adalah Ria Novita Sari, tetangga lebih mengenal dengan nama Hariyani. Termasuk sang ketua RW. Tak ada yang tahu apakah ibu korban ini berganti nama atau memang punya nama sebutan.

Di mata para tetangga, keluarga ini tergolong tertutup. Jarang srawung atau berhubungan dengan tetangganya. Pintu rumah juga lebih sering tertutup.

" Jarang srawung tangga (berhubungan dengan tetangga, Red)," ucap Suparno, warga yang rumahnya tepat di sebelah kiri rumah Sumilah.

Sifat itulah yang membuat warga tak terlalu akrab dengan Ria dan keluarganya. Hanya bertegur sapa ketika bertemu di depan rumah atau berpapasan di jalan saja.

"Anak-anaknya juga mainnya cuma bertiga di rumah. Jarang bergaul sama sepantarannya," imbuhnya.

 Baca Juga: Mohammad Zainuri, Juru Pelihara Situs Calon Arang yang Tertua di Kabupaten Kediri Bikin Riset Mandiri demi Cari Data Valid

Pria yang akrab disapa Parno itu juga tak tahu silsilah keluarga Ria. Termasuk siapa suami dan anak-anaknya. Meskipun sudah bertetangga selama belasan tahun.

Hanya saja, dua  tahun lalu Ria pulang merantau dari luar Jawa dan membawa tiga anaknya itu. Kemudian, awal tahun ini, dia menikah siri dengan suaminya saat ini, Suwito.

“(Suaminya, Red) yang ini baru. Sepertinya baru sebelum Lebaran kemarin menikah,” beber kakek dari tiga cucu itu.

Apakah pasangan itu temperamental? Parno tak tahu pasti. Hanya, yang dia ketahui, yang keras dan ringan tangan justru ayah tiri dan nenek para bocah itu. Sedangkan Ria hanya keras dalam perkataan.

Baca Juga: Meniti Jejak Derita Yesus di Bukit Puhsarang Kediri dalam Peringatan Jumat Agung

Tiga balita anak Ria juga jarang bermain ke rumah tetangga. Karena itulah Parno tak tahu pasti berapa lama korban mendapat perlakuan seperti itu.

“Selama ini tidak pernah mendengar (teriakan  anak kesakitan). Hanya saja sering mendengar kalau sedang menangis. Tapi karena apanya juga tidak tahu pasti,” terang Mujayati, 52, tetangga yang lain.

Sehari-hari tiga anak ini menghabiskan waktu dengan sang nenek. Menurut keterangan para tetangga, wanita ini dulunya kerja di salah satu pabrik rokok di Kediri.

Bagaimana dengan Ria? Para tetangga menyebut wanita parobaya ini merupakan tukang menggoreng. Bekerja di penjual gorengan. Kadang dia juga menerima permintaan memijat.

Baca Juga: Setelah Enam Dekade, Radio ‘Humor’ Itupun Berhenti Mengudara, Ini Kata Pendengar Setia RWS!

“Kalau bapaknya (suami Ria, Red) juga bekerja tapi saya kurang tahu kerja apa,” aku ibu dua anak itu.

Melihat background keluarganya seperti itu terkadang Mujayati juga berbelas kasihan. Tak jarang dia memanggil anak-anak Ria untuk sekadar diberi makanan.

“Karena jarang ngobrol, kadang kalau ngasih itu ada perasaan tidak enak. Takut dikira menghina. Tapi biasanya kalau ada makanan anaknya saya panggil,” kenangnya.

Bagaimana dengan tingkah laku dan sifat MAM selama ini? Mujayati menyebut biasa, seperti anak pada umumnya. Bocah empat tahun itu tak terlalu lincah atau aktif.

Baca Juga: Para Relawan Penjaga Perlintasan Kereta Api Tanpa Palang Pintu yang Tetap ‘Bertugas’ saat Lebaran: Sempatkan Terima Tamu bila Tak Ada Kereta Melintas

“Setiap saya ke rumah nenek, anaknya (MAM, Red) selalu tidur. Pendiam,” ujar Muhammad Wahyudi, 26. Lelaki yang akrab dipanggil Edi ini adalah kakak korban namun beda bapak.

Edi juga tak tahu pasti apakah adiknya itu korban penganiayaan atau bukan. Dia juga tak pernah menerima aduan maupun melihat langsung ada bekas luka di tubuh adik-adiknya itu. Namun, dia tak bisa mengatakan dengan pasti karena tinggal di rumah yang berbeda.

“Saya saudara tapi tidak serumah, ujarnya singkat.

Kini, dua kakak MAM dititipkan di rumah kerabatnya. Setelah keduanya juga sempat dibawa ke Mako Polres Kediri Kota setelah kejadian.

Baca Juga: Keluar-Masuknya Melipir, Malamnya Pernah Sulit Tidur, Ini Kisah Mereka Yang Harus Beradaptasi karena ‘Berteman’ Proyek Tol Kediri-Tulungagung

“Kondisinya baik, bisa beraktivitas. Kami juga sudah menyampaikan terkait kejadian ini, namun namanya anak kecil mungkin mereka belum paham apa yang terjadi sebenarnya,” papar Bagas Muhammad Suryadi, saudara sekaligus pemilik rumah yang menampung dua anak perempuan itu.

Namun dia mengakui ada ketakutan yang terlihat pada Fit dan Fif. Terutama ketika didekati oleh orang lain. Entah karena trauma atau masih mencerna peristiwa yang sebenarnya terjadi.

“Selama ini tahunya kalau nangis ya karena dimarahi. Tidak pernah cerita kalau dianiaya,” pungkasnya, sembari menyebut jika pada tubuh anak perempuan ini ada tanda memar di punggungnya. 

 

 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#penganiayaan anak #kelurahan ngronggo #tewas #nenek #kota kediri