Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Kebersamaan Legenda Persik Kediri yang Tetap Terjalin hingga saat Ini, Dulu Mess Jadi Tempat Sharing dan Bikin Kompak

Emilia Susanti • Kamis, 16 April 2026 | 16:51 WIB
Para legenda Persik Kediri era 200-an. (FOTO: Emilia Susanti/JPRK)
Para legenda Persik Kediri era 200-an. (FOTO: Emilia Susanti/JPRK)

 

Mereka adalah saksi kejayaan skuad Macan Putih dua dekade silam. Bahu-membahu mengangkat prestasi klub Kota Kediri ini. Kebersamaan yang tetap terjaga meskipun mereka telah rehat sebagai pemain.

EMILIA SUSANTI, Kota, JP Radar Kediri

Ballroom Hotel Lotus Garden, Rabu siang (15/4), terasa riuh. Penuh dengan sosok-sosok yang lekat dengan sepak bola. Ada barisan para legenda Persik. Yaitu mereka yang berseragam ungu-ungu di era 2000-an. Hingga para pemain Macan Putih musim sekarang. Seperti Faris Aditama, Bayu Otto, hingga Moch. Supriadi. Terlihat pula Manajer Persik Mochammad Syahid Nur Ichsan.

Di baris kedua dari depan berkumpul para legenda Persik. Baik ketika masih di divisi I maupun ketika sudah masuk di divisi utama Liga Indonesia di era 2000-an. Nama-nama seperti Patmawi, Andi Yanuar Pribadi, Suswanto, Luckman Harsono, Heri Supriyanto, hingga Pujianto duduk melingkari meja bundar. Saling berbincang, mengobrol, dan bercengkerama. Terlihat keakraban mereka yang jauh dari dibuat-buat.

Baca Juga: Suporter Persik Kediri Keluhkan Penjualan Tiket Online, Beberapa Pihak Merasa Lebih Rumit

“Tanggal 23 nanti kami main lagi. Lawan alumni Persik juga, yang (musim) 2006,” kata Andi Yanuar Pribadi, pemain yang ikut mengangkat trofi juara pada musim 2003.

Para legenda Persik itu kemarin menghadiri acara silaturahmi dan halal bihalal komunitas sepak bola Kediri bersama Pengkot PSSI Kota Kediri. Acara yang juga dihadiri perwakilan sekolah sepak bola, football class yang dimiliki oleh SMPN 2 Kota Kediri, serta perwakilan sepak bola wanita.

Yang mereka obrolkan memang masih seputar si kulit bulat. Seperti mengenang laga amal untuk almarhum Kuncoro-legenda Persik yang telah meninggal dunia-beberapa waktu lalu.

“Tapi ini fun game aja. Tenaganya nggak kayak dulu,” canda Patmawi buru-buru. Pemain belakang Persik yang sempat dijuluki Gerandong karena kegarangannya menjaga lini pertahanan di era divisi I ini memberi disclaimer bahwa pertandingannya hanya untuk bersenang-senang.

Andi kemudian melanjutkan, mengatakan bahwa kebersamaan para legenda Persik Kediri memang masih erat. Meski tidak sering berkumpul seperti dulu. Komunikasi masih tetap terjalin dengan baik. Bahkan, berkat komunikasi yang baik, hubungan yang baik, laga amal untuk almarhum Kuncoro bisa berlangsung. Sempat membuat para legenda dari Malang sempat iri.

“Teman-teman yang ada di Malang sampai terenyuh. Padahal Kuncoro sudah tidak di Kediri tapi teman-teman dari Kediri bisa membuat laga amal. Jadi mereka sampai terenyuh,” ucap Andi.

Para legenda itu berharap kebersamaan tidak hanya terbina di antara mereka. Juga pada pemain Persik saat ini. Sebab, bila merunut informasi yang mereka dengar, suasana mess pemain Persik sudah tidak seperti dulu. Padahal di mess itulah berawal kebersamaan dan kekompakan para pemain.

Di mess itulah para pemain sharing. Membuat mereka bisa kompak.

“Dulu ya kumpul tiap hari di mess. Sekarang katanya pemain sudah tidak tinggal di mess lagi ya? Padahal kalau kami kumpul gini, pasti ada sharing, kata Andi, menyiratkan sedikit rasa penasaran.

Terlepas dari benar atau tidaknya, dia menilai kebersamaan tim Persik Kediri yang sekarang sudah berbeda. Hanya saja, para legenda berusaha memahami hal itu. Pasalnya, setiap manajemen pasti memiliki cara yang berbeda. Bahkan targetnya mungkin tak lagi sama.

Baca Juga: Sinyal Bahaya Rayco, Persik Kediri Bakal Berikan Kawalan Ketat

Namun demikian, ada kritikan keras yang disampaikan para legenda Persik Kediri ini. Tidak lain adalah komitmen klub dalam mencetak generasi penerus dari putra daerah. Pasalnya, Liga Internal Persik Kediri yang digaungkan musim lalu mandek di tengah jalan. Padahal, kompetisi itu diresmikan dengan meriah. Namun tak ada kelanjutan di tengah-tengah kompetisi.

“Kompetisi di tengah-tengah putus. Saya juga bingung mungkin nanti harus ada pengawalan. Itu bagus sekali, karena belum ada bibit dari Kediri yang muncul. Karena ke depannya saya minta ada Mas Sus yang dulu, Patmawi yang dulu, Luckman yang dulu, ada tergantikan nanti,” kritik sekaligus harapan Andi, yang mendapat anggukan dari para legenda yang lain.

Walau begitu, Andi dkk yakin bahwa Kediri memiliki potensi besar untuk menciptakan pesepak bola andal. Dia percaya akan ada para penerus Persik Kediri yang memang dari Kediri. Sehingga dia menyarankan agar kepengurusan Persik Kediri yang sekarang memiliki komitmen untuk hal tersebut.

“Tapi kendala lain juga datang dari PSSI sendiri yang terkait kuota pemain asing. Kalau dulu kan tiga pemain asing, sekarang tujuh ya?” sela Patmawi yang ingin menambahkan pendapatnya terkait sulitnya pemain lokal bisa bermain.

“Tapi sekali lagi saya minta agar ada wadah kompetisi untuk usia dini, termasuk U17. Karena di usia tersebut mulai terlihat pemain yang bagus. Dan untuk anak-anak, harus giat berlatih untuk berprestasi lagi,” tandas Andi, menutup obrolan siang itu.(fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
#persik legenda #persik kediri #sepak bola kediri #skuad macan putih #pemain persik