Udara Dingin masih menyelimuti lereng Gunung Wilis Jumat (3/4) pagi. Jika di beberapa sudut Kecamatan Semen masih terlihat sepi, bunyi ratusan tapak kaki sudah terdengar di kompleks Gereja Puhsarang.
Sedikitnya ada sekitar 700 umat Katolik dari berbagai daerah di Indonesia yang kemarin berkumpul di sana. Mereka berkumpul di dekat Gua Maria Lourdes Puhsarang untuk satu tujuan: napak tilas pengorbanan Yesus Kristus melalui prosesi Jalan Salib.
Ibadah di kawasan yang tahun 2025 lalu ditetapkan sebagai Sanctuarium atau tempat suci ini memang bukan sekadar ritual rutin saja. Melainkan jadi momentum untuk refleksi secara mendalam.
Karenanya, setiap tahunnya ada ratusan umat yang rela datang jauh-jauh demi mengikutinya. Selain warga lokal, tidak sedikit peziarah dari luar kota, bahkan dari luar pulau yang datang ke sana.
“Jemaat yang datang tidak hanya dari Puhsarang. Ada banyak yang dari luar kota juga,” kata Yohanes Sucipto, ketua Stasi Gereja Puhsarang.
Baca Juga: Geliat Penginapan di Sekitar Gereja Puhsarang Kediri, Belum Pulih sejak Anjlok saat Pandemi
Prosesi dimulai pukul 07.30. Tepatnya setelah ibadah pagi usai digelar di Gereja Puhsarang. Ratusan umat bergerak perlahan dari satu pemberhentian ke pemberhentian lainnya.
Total ada 14 diorama yang menggambarkan perjuangan dan kesengsaraan yang harus ditanggung Yesus Kristus. Di tempat-tempat itu pula, umat memanjatkan doa dengan khusyuk. Merenungkan kembali arti penebusan dosa dalam hidup mereka.
Penghormatan terhadap pengorbanan Yesus tidak hanya digelar dalam ritual Jalan Salib dan ibadah pagi saja. Sekitar pukul 15.00 kemarin mereka juga menggelar ibadah kisah sengsara atau penghormatan salib. Ibadah tersebut sekaligus untuk memperingati wafatnya Yesus Kristus.
Jumat Agung merupakan bagian tidak terpisahkan dari rangkaian Trihari Suci. Diawali dengan Kamis Putih untuk memperingati perjamuan terakhir Yesus bersama para muridnya. Dilanjutkan dengan Jumat Agung untuk memperingati wafat Yesus. Selanjutnya ditutup dengan Malam Paskah pada Sabtu (4/3) untuk memperingati kebangkitan Yesus.
“Selama masa Prapaskah mulai Rabu Abu sampai Jumat Agung ini, kami juga melaksanakan perintah gereja untuk berpuasa dan berpantang. Berpuasa itu berarti makan kenyang hanya satu kali dalam sehari,” lanjut Sucipto.
Dalam Jumat Agung kemarin umat juga wajib puasa dan berpantang. Untuk anak usia SMP hingga SMA, mereka diminta menahan diri dari mengonsumsi makanan, minuman, atau melakukan kebiasaan tertentu yang disukai.
“Misalnya anak-anak biasanya suka jajan, dia diminta tidak jajan selama berpantang. Uangnya itu digunakan untuk Aksi Puasa Pembangunan yang dikumpulkan dan dipersembahkan di gereja dan nanti digunakan untuk pembangunan masyarakat,” bebernya.
Kepedulian terhadap masyarakat memang jadi pesan utama yang disampaikan kepada umat. Khususnya terhadap masyarakat kurang mampu. Selama masa pra-Paskah, umat diharapkan belajar untuk lebih bertanggung jawab. Baik terhadap paroki masing-masing maupun di lingkungan masyarakat.
“Sejak dulu gereja memiliki perhatian terhadap orang kecil. Jadi diharapkan umat Katolik juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang kecil, sebagaimana Yesus mau menderita untuk menebus dosa kita,” tandasnya.
Baca Juga: Di Gereja Puhsarang Kediri, Hari Jumat Legi Punya Daya Pikat yang Kuat
Dengan merenungi kisah Yesus, umat diharapkan memiliki kepedulian terhadap orang-orang kecil. Khususnya yang menderita dan mengalami ketidakadilan.
“Lebih dari itu, umat Katolik sesuai arah dasar keuskupan juga harus terlibat dalam masyarakat. Jadi tidak boleh memisahkan diri. Melainkan harus menjadi garam dan terang dunia di tengah masyarakat,” imbuhnya. (ut)
Editor : Andhika Attar Anindita