Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Setelah Enam Dekade, Radio ‘Humor’ Itupun Berhenti Mengudara, Ini Kata Pendengar Setia RWS!

Hilda Nurmala Risani • Rabu, 1 April 2026 | 16:13 WIB
Lek Dul dan Mbak Anggi siaran terakhir di studio Radio Wijang Songko kemarin (31/3). Suasana siaran terakhir itu haru biru. (Foto : HILDA NURMALA RISANI/JPRK)
Lek Dul dan Mbak Anggi siaran terakhir di studio Radio Wijang Songko kemarin (31/3). Suasana siaran terakhir itu haru biru. (Foto : HILDA NURMALA RISANI/JPRK.

 

Bagi penyuka radio di Kediri dan sekitarnya, nama-nama seperti Lek Dul, Temon, Ginuk, Gembrot, hingga Kangeno begitu akrab di telinga. Bertahun-tahun mengisi ruang dengar mereka. Namun, nama-nama itu bakal tinggal kenangan, menyusul keputusan RWS, radio tempat mereka berkarya, berhenti siaran sejak kemarin.

 

HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri

 

Sejak pagi, suasana studio RWS-Radio Wijang Songko-sudah ramai. Tidak ada acara khusus sebenarnya. Mereka adalah pendengar setia radio yang berada di Jalan Kilisuci itu. Sengaja datang untuk menikmati momen-momen terakhir kebersamaan mereka dengan penyiar dan radio kesayangannya.

Ya, suasana studio radio yang berusia nyaris enam dekade itu terasa berbeda. Jauh dari keceriaan seperti biasa. Berganti dengan suasana haru nan membiru. Dua penyiar yang saat itu bertugas-Lek Dul dan Mbak Anggi-beberapa kali menyapa pendengar dengan suara tertahan serta tetes air mata. Pengasuh rubrik Hello Dangdut itu menitikkan air mata ketika mengucap salam perpisahan.

Baca Juga: Inilah Sosok Muji Rahayu, Penyiar Radio yang Sukses Banting Setir Jadi Pengusaha Fashion dan Kecantikan

Ya, kemarin, RWS memang menutup kisah kebersamaan mereka dengan penggemar radio di Kediri Raya dan sekitarnya. Setelah ini, studio siaran yang terkenal dengan nuansa humornya itu berhenti mengudara. Mengakhiri kiprah setelah hampir enam dekade bersiaran.

“Keputusan berat hari ini, tepat di usia RWS 58 tahun disiarkan bahwa radio terakhir mengudara,” ucap Asti Wibowo, kepala Divisi Program Radio Wijang Songko, berusaha menahan sedih.

Kesedihan yang dirasakan para kru radio ikonik di Kediri itu juga merembet keluar studio. Beberapa pendengar setia memeluk penyiar idolanya ketika ditemui. Sambil memberikan buah tangan tanda kecintaan mereka.

“Saya ke sini membawakan kue. Tapi tidak membawakan pukis kesukaan Lek Dul,” ucap Tata Tomato, penggemar RWS yang rumahnya di wilayah Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Baca Juga: Dinas Kominfo Mengenalkan Radio Broadcast dan Podcast pada Pelajar

Begitu antusiasnya ingin bertemu penyiar pujaan, ibu rumah tangga ini rela berkendara sepeda motor dari rumah ke studio. Padahal jaraknya lebih dari 30 kilometer. Hanya ingin menyampaikan salam perpisahan pada Lek Dul.

Bagi Tata, RWS adalah teman setianya ketika menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga. Menemani ketika memasak dan bersih-bersih rumah.

“Sudah lima tahun terakhir saya menjadi pendengar. Karakternya yang ramah membuat saya merasa kehilangan,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Kata-kata Tata seakan mewakili ribuan pendengar lain. Wajar, karena RWS tergolong stasiun radio legendaris di Kediri Raya. Usianya yang 58 tahun menjadi salah satu buktinya. Telah melewati beragam badai kehidupan. Namun, terpaksa harus mengakhiri ‘hidup’-nya setelah mengarungi kerasnya bisnis penyiaran hampir enam dekade.

“RWS berdiri tahun 1968 dengan nama awal Radio Pattimura,” kenang Lindawati, manajer RWS.

Baca Juga: Lawan Keterbatasan, Mukari Hidupi Diri dengan Buka Servis Radio

Nama Pattimura dipilih karena letak awal stasiun radio ini di Jalan Pattimura. Saat itu statusnya adalah radio yang menyampaikan informasi resmi dan edukasi ke masyarakat melalui frekuensi amplitudo modulation (AM).

Setelah itu, namanya berganti menjadi Radio Wijang Songko. Nama yang diambil dari bahasa Jawa. Maknanya putih bersih. Seiring arah radio ini yang merefleksikan identitas lokal dan misi melestarikan budaya Jawa.

“Setelah itu kami berpindah ke frekuensi FM (frequency modulation, Red) 99.0 MHz pada 1997,” lanjut Linda.

Asti menambahkan, RWS memiliki wilayah jangkauan yang luas. Tak hanya di wilayah mataraman tapi hingga Mojoagung, Jombang. Program-programnya pun menarik minat semua kalangan. Contohnya Selamat Pagi RWS, Hello Dangdut, Kontak RWS, Pamor (Pesona Humor), hingga Pak Piket.

“Program itu berjalan 20 tahun terakhir,” sebut Asti.  

Baca Juga: Lawan Keterbatasan, Mukari Hidupi Diri dengan Buka Servis Radio

Program-program itu punya pendengarnya sendiri. Misal, program pagi hari yang on air mulai pukul 05.00 ditungga karena membantu pendengar beraktivitas pagi. Mulai bersiap kerja hingga menyiapkan keperluan anaknya bersekolah.

Lalu, Pak Piket, yang mengudara mulai pukul 22.00 menemani mereka yang biasa jaga malam. Program ini bertahan hingga radio memilih mengakhiri aktivitasnya.

Penyiar yang membawakan program-program tersebut juga punya nyawa tersendiri. Dari yang awalnya orang biasa kini menjadi punya nama dan menjadi ikon. Contohnya Lek Dul, Temon, Ginuk, Gembrot, dan Kangeno.

“Nama-nama itu muncul dengan sendirinya. Kami fasilitasi mereka untuk memunculkan karakter baru. Sehingga masing-masing penyiar bebas mengeskpresikan diri. Sekiranya cocok di karakter apa,” tandas Asti.

Baca Juga: Di Penjara karena Narkoba, Mantan Bintang Radio Kediri Jadi Ahli Tenun

Lalu, mengapa akhirnya RWS memilih mengakhiri siaran? Apakah akibat disrupsi teknologi informasi yang membuat bisnis publisher atau penyiaran mendapat tantangan berat?

Linda menggeleng. Menurutnya RWS sudah melakukan antisipasi dengan mengikuti perkembangan zaman. Baik itu membuat aplikasi di Playstore untuk menjangkau lebih banyak pendengar atau membuat akun medsos Instagram, Facebook, hingga TikTok. Keputusan menutup siaran semata-mata faktor usia.

“Pimpinan RWS ini dipegang kepemilikan tunggal. Beliaunya sudah menginjak usia 83 tahun. Jadi ya dengan usia yang sudah banyak ini beliau memutuskan untuk pensiunm istilahnya,” dalih Linda.

Tapi tidak menutup kemungkinan RWS bakal muncul kembali. Kapankah itu? Kami belum bisa menentukan,” lanjutnya.  

Lantas terkait nasib karyawan, Linda mengaku terpaksa merumahkan terlebih dahulu per 1 April 2026. Itu atas dasar pertimbangan yang sudah dipikirkan bertahun-tahun.

Baca Juga: Maji dan Tutik, Pasutri Lansia yang Eksis Jadi Penyiar Radio di Pare

“Ya untuk karyawan per 1 April kami rumahkan. Kalaupun nanti bertemu lagi akan selalui berupaya membangun komunikasi,” tandasnya sembari menyebut jika seluruh penyiar sudah menyampaikan salam perpisahan kepada pendengar setia RWS.

Bagi karyawan, berhenti on air-nya RWS menyisakan kesedihan. Terlebih bagi penyiar yang telah mengudara puluhan tahun. Kesedihan yang terlihat dari suara serak menahan tangis saat bersiaran terakhir kali.

“Saya jadi penyiar di RWS sudah 29 tahun. Pernah mengisi di Rubrik Kota maupun Campursari. RWS sudah jadi rumah kedua. Ketika hari ini siaran terakhir rasa sedih menyelimuti. Terlebih ketika melihat antusias pendengarnya,” aku Eni Nur Hidayati sedikit terisak.

Baca Juga: Mengenal 3 Sosok Pria yang Pernah Jadi Suami Titiek Puspa, Mulai dari Penyiar Hingga Musisi

Pemilik nama udara Enida ini mengaku, tetap akan menjalin komunikasi dengan rekan-rekannya. Meskipun bukan dalam wadah formal.

“Kami (karyawan RWS, Red) akan tetap keep in touch. Kalau wadah tertentu dalam arti formal tidak ada. Tapi ada grup untuk tetap menjalin silaturahmi,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, jika perasaan yang dirasakan hari ini berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya ketika cuti ada perasaan suatu saat kembali. Berbeda halnya dengan sekarang ini yang tidak tau kapan akan kembali.

Editor : Andhika Attar Anindita
#radio wijang songko #lek dul #ginuk #kak so #kota kediri