Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Perjalanan Haru Anang Soetomo Melawan 'Sexual Ambiguity' Hingga Temukan Titik Terang

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Selasa, 3 Februari 2026 | 12:34 WIB

 

Anang Soetomo sedang melakukan pemeriksaan di Puskesmas Semen (Foto: Asad MS)
Anang Soetomo sedang melakukan pemeriksaan di Puskesmas Semen (Foto: Asad MS)

Sepuluh tahun sudah Anang Soetomo berjuang mendapatkan kepastian genital akibat menderita sexual ambiguity. Itupun masih belum sempurna, dan sudah harus bersiap ke meja operasi lagi. Posisi genital yang belum pas membuatnya mengalami ‘kebocoran’.

ASAD M.S., Kabupaten JP Radar Kediri

Sepeda motor tua menderu masuk ke halaman Puskesmas Semen pagi kemarin (2/2). Pengendaranya seorang pemuda berpakaian polo shirt warna kuning. Di boncengan, duduk seorang wanita yang belakangan diketahui sebagai ibu sang pemuda. Begitu tiba, pria dengan rambut lurus pendek itu langsung mengambil nomor antrean.

Mendapat nomor urut 83, dia kemudian mengambil tempat duduk sembari menunggu panggilan. Sepanjang waktu menunggu laki-laki ini kebanyakan diam. Hanya sesekali menoleh ke kanan atau ke kiri.

Mengamati sekitarnya dengan wajah yang terlihat tegang. Tak bisa menutupi sikap gugupnya menunggu diperiksa petugas. Pemuda itu adalah Anang Soetomo. Namanya sempat dikenal banyak orang karena menjadi penderita sexual ambiguity alias ketidakpastian jenis kelamin. Kedatangannya ke puskesmas masih terkait dengan hal tersebut. Alat genitalnya bocor.

“Sudah agak lama (bocor) sebenarnya. Tapi bingung mau gimana,” aku warga Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, Kecamatan Semen ini. Kebocoran itu, menurut Anang, sudah dia rasakan usai operasi ketiga. Namun, dia baru berani memeriksakan saat ini. Itupun, dia tak berani sendiri.

Meminta ditemani oleh wartawan Jawa Pos Radar Kediri. Kebetulan, Jawa Pos Radar Kediri terus memberitakan ketika kasusnya mencuat sepuluh tahun silam. “Lebih enak kalau ditemani,” akunya ketika ditanya alasan ingin ditemani oleh wartawan.

Sebelum menjalani operasi, Anang dikenal berjenis kelamin perempuan. Namanya, sejak lahir, adalah Ani Kasanah. Setelah diketahui menderita ambiguous genitalia, akhirnya dia naik ke meja operasi.

Operasi pertama berlangsung pada 2015 di RSUD Dr Soetomo Surabaya. Demikian pula dengan operasi kedua. Dia dinyatakan laki-laki karena memiliki kromosom 46 XY. Namanya pun berganti menjadi Anang Soetomo. Nama belakangnya diambil dari rumah sakit tempat dia menjalani operasi.

Meskipun menjalani dua kali operasi, perjuangan Anang belum berakhir. Setelah empat tahun lebih dari yang pertama dia naik operasi lagi. Kali ini, pada 2021, berlangsung di RSUD Kabupaten Kediri (RSKK). Dokter yang menangani adalah dr Dodo Wikanto.

Selesai? Ternyata belum. Karena Anang kembali merasakan keluhan. Yaitu ada kebocoran pada genitalnya. Ketika hendak mengobati keluhannya itu sempat ada masalah. Meskipun kartu tanda penduduk (KTP)-nya sudah diubah dengan nama dan jenis kelamin baru, kartu BPJS Kesehatannya masih atas nama Ani.

Hal itulah yang membuat Anang bingung. Kemudian meminta bantuan Jawa Pos Radar Kediri. Setelah JP Radar Kediri berkonsultasi ke beberapa pihak, mulai dinas sosial hingga dinas kesehatan, Anang diarahkan periksa ke puskesmas terlebih dulu.

Sekaligus meminta surat rujukan. Hingga akhirnya dia mendatangi puskesmas itu kemarin pagi, ditemani sang ibu. “Gak sakit. Cuma bocor saja,” jawabnya saat ditanyai oleh petugas kesehatan.

Setelah melalui skrining oleh nakes, berikutnya giliran dr Achmad Faisal Arganata yang memeriksa. Sang dokter juga melemparkan beberapa pertanyaan. Sebelum akhirnya  membawa ke ruang pemeriksaan fisik.

Sekitar 10 menit di ruang periksa, Anang pun keluar. “Kata dokternya memang salurannya masih belum pada tempatnya. Akhirnya bocor,” jelas Anang, menceritakan hasil pemeriksaan.

Anang juga mendapat surat rujukan periksa ke RSKK. Rujukan itu juga kemungkinan melakukan operasi lanjutan. Namun, dia memilih ke rumah sakit esok harinya.

“Kalau sekarang belum berani. Karena ini juga masih naik motor sama ibuk,” dalihnya.

Terpisah, Kepala Puskesmas Semen dr Imron Efendi mengatakan, secara prinsip Anang harus dirujuk ke RS. Tujuannya untuk perbaikan tindakan sebelumnya.

“Betul dirujuk ke RSKK untuk operasi lanjutan,” terangnya.

Sementara itu, Lik bocah berkelamin ganda asal Kecamatan Badas akhirnya menjalani operasi kemarin. Hal itu setelah bocah itu harus bolak-balik ke RSUD dr Soetomo sejak pertengahan tahun lalu.

“Alhamdulillah kak, masuk gedung bedah setengah delapan (pukul 7.30 WIB). Terus jam sebelas kula dipanggil teng ruang pemulihan (di) lantai tiga (RSUD dr Soetomo), Niki sampun pindah teng kamar rawat inap lagi” jelas Zia, ibu Lik melalui pesan WhatsApp sekitar pukul 12.00 kemarin.

Untuk diketahui, Lik terlahir dengan genital dominan perempuan. Beriring bertambahnya usia, ada tonjolan di genital perempuannya yang menyerupai penis. 

Baca Juga: Keren! Sinden Aviathun Nisak Buktikan Jadi Budayawan Tak Harus Kuno, Begini Caranya Pikat Gen Z Lewat Medsos

Semakin hari, tonjolan mirip penis itu terus tumbuh. Karenanya, saat Lik duduk di bangku kelas 3 SD, orang tua Lik disarankan untuk memeriksakannya ke dokter. Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa area genital Lik secara kasat mata lebih dominan laki-laki.

Namun, hasil pemeriksaan terbaru, yakni pemeriksaan imuno serologi terkait 17-OH progesterone di RSUD Dr Soetomo hasilnya menunjukkan angka 279,96. Selanjutnya, Lik juga menjalani pemeriksaan laboratorium untuk melihat kromosomnya.

Setelah hasil dua pemeriksaan itu keluar, pada Rabu (3/9/2025) lalu dilakukan pembacaan di RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Dari sana diketahui jika kromosom Lik dominan perempuan. Yakni kromosom 46 XX.

Menurut Zia, pasca operasi, Lik selalu menangis ketika dia bangun dari tidurnya. Karena merasa sakit. “Tiap melek nangis sanjang sakit (setiap membuka mata menangis mengaku sakit, Red),” jelasnya.

Ketika di ruang pemulihan, Lik juga menggigill karena efek bius. “Pas larene melek semerep wonten kulo terus mular.  Nangis banter sambat sakit ngoten terus (ketika anaknya tahu ada saya terus menangis. Menangis keras mengeluh sakit, Red),” terangnya.

Berikutnya, setelah didatangi dokter, dia diberi obat yang disuntikkan ke infus. Akhirnya sakitnya mereda.

Niki wau nangis maleh terus minta dikeloni. Kula naek teng bayang tak keloni terus tilem maleh sakniki (Ini tadi nangis lagi lalu minta dikeloni. Saya naik ke tempat tidur memeluknya, sekarang tidur lagi, Red),” jelasnya.

Menurut Zia, proses pra hingga pasca operasi anaknya tergolong dramatis. Karena Lik selalu menangis karena takut.

Terlepas dari hal itu, dia bersyukur anaknya bisa segera mendapatknan kepastian kelamin karena sudah dilakukan operasi melalui pembiayaan BPJS. Saat ini, dia juga menunggu bagaimana nanti proses berikutnya. 

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

 

Editor : rekian
#Anang Soetomo #sexual ambiguity #kediri #Rskk #puskesmas