Pasangan ini bukan sekadar seniman batik. Mereka juga kukuh hanya membuat batik tulis maupun cap.
Bukan sekadar mempertahankan integritas brand, sekaligus agar seniman batik tulis tidak punah.
ASAD M.S., Kabupaten, JP Radar Kediri
Rumah itu sudah terlihat berbeda dari penampakan luar.
Setidaknya bila dibandingkan dengan hunian lain di sepanjang Jalan Pepaya, salah satu gang yang ada di Desa Semanding, Kecamatan Pare.
Tidak hanya paling tinggi, terdiri dari dua lantai, juga karena gaya atau modelnya.
Rumah berpagar besi warna cokelat itu menonjolkan arsitektur bata ekspose.
Baca Juga: Kisah Suyati si Pemilik Rumah yang Dihantam Bus Harapan Jaya saat Laka Beruntun di Muning Kediri
Bata-bata penyusun bangunan dibiarkan terlihat. Tidak ditutupi dengan plester yang kemudian dilapisi cat.
Pembedanya lagi, ada banner melintang tepat menggantung di atap teras rumah.
Bertuliskan Ndalem Batik Tulis Srigaya. Tulisan serupa juga ada di neon boks yang ada di atas pagar.
Wajar, pemiliknya adalah sosok yang berkecimpung di dunia batik.
Tak hanya seorang, dua orang yang juga pasangan suami istri itu semuanya boleh disebut sebagai seniman batik.
Pasutri itu adalah Rifky Fandanu dan Ega Shinta Gaya Paramitha.
Kebetulan lagi, keduanya juga berprofesi sebagai guru. Juga sama-sama guru mata pelajaran seni.
“Saya (mengajar) di SMAN 3 Kediri. Istri di SMPN 2 Pare,” ucap Rifky. Saat itu dia baru pulang dari mengajar.
Pria berkaca mata itu kemudian mengajak berjalan melewati lorong rumah.
Begitu masuk ke bagian dalam, kian terlihat jelas perbedaan antara hunian milik pasutri ini dengan para tetangga.
Salah satunya adalah adanya galeri seni. Yang dipajang adalah karya mereka, batik tulis, yang sudah menasional.
Banyak dikenal tokoh-tokoh besar. Semuanya tak lepas dari idealisme yang kukuh mereka pertahankan.
Rifky dan sang istri memang kukuh meneguhkan idealisme. Mempertahankan batik tulis maupun cap.
Baca Juga: Read Aloud Kediri Raya, Komunitas Buku yang Bangun Kesadaran Literasi sejak Usia Dini
Mereka anti dengan batik printing. Setidaknya demi menjaga brand.
Harga batik printing memang lebih murah dibanding yang tulis.
Karena itu, Rifky mengaku jika mereka masuk ke batik jenis tersebut akan membuat pembelinya bingung.
“Jangan-jangan ini enggak asli (tulis), kan pembeli kan gitu. Jangan-jangan ini tidak batik tulis asli tapi dijual dengan harga yang tinggi. Jadi, kalau kami benar-benar mempertahankan citra murni di (batik) tulis,” urainya, menjelaskan alasan kukuh bertahan di batik tulis.
Ada lagi alasan lain. Keduanya ingin melestarikan keberadaan batik tulis. Agar seniman dan karyanya tidak hilang begitu saja.
“Konsep besarnya kami ingin nguri-nguri budaya sendiri, dituangkan dalam wastra . Jadi bukan pada nominal yang kita dapatkan tapi kepada kepuasan bagaimana kita menuangkan ke dalam karya seni,” jelasnya.
Satu bukti bahwa bukan uang yang dicari paling utama adalah ketika dia mendapat pesanan dari salah satu instansi di Kabupaten Kediri.
Memesan batik untuk keperluan seragam. Nilainya tak sedikit, mencapai Rp 1 miliar.
Namun, tawaran itu dia tolak. Sebab, jumlah itu tak bisa dia penuhi bila menggunakan batik tulis atau cap. Harus menggunakan batik print.
“Dengan jumlah sebanyak itu enggak mungkin ditulis karena harganya pasti akan sangat tinggi. Kami enggak bisa. Walaupun secara nominal oke, tapi kami berpikirnya jangka panjang,” dalihnya.
Toh, berkat idealisme itulah batiknya banyak dikenal.
Diminati tokoh-tokoh nasional seperti Luhut Binsar Panjaitan, Emil Dardak beserta Arumi Bachsin yang sudah langganan, termasuk Hanindhito Himawan Pramana dan Eriani Annisa, Dewi Mariya Ulfa, dan banyak lagi.
Lalu, bagaimana kisahnya pasangan suami istri ini sama-sama mencintai batik?
Di sela-sela waktu luangnya usai pulang mengajar, Rifky bercerita, dia dan istrinya mengenal batik sejak kecil.
Nenek-nenek mereka juga suka membatik. Bukan sebagai pelaku usaha besar, melainkan hanya sekadar mengisi waktu luang. Namun, ketika karyanya jadi juga dijual di pasar.
“Mbah-mbah dulu, ketika selesai melakukan pekerjaan rumah tangga, di waktu senggang, bikin batik. Terus dijual di pasar,” kenangnya.
Meskipun sudah berinteraksi dengan batik sejak kecil, saat itu ketertarikan belum terlalu muncul.
Rasa sukanya itu baru tumbuh ketika dia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Negeri Semarang (Unes).
Kebetulan jurusan yang dia ambil adalah pendidikan sendratasik, yang juga membahas seni rupa seperti batik.
Ditambah lagi, Semarang juga sentra batik. Banyak warganya yang berkutat dengan dunia itu.
“Dari situ jadi semakin paham, oh batik itu bagus ya. Seiring berjalannya waktuakhirnya tahu oh berarti tulis itu value-nya gini, oh batik cap itu begini. Terus batik print begini. Dari awalnya tidak tahu kita terjun di lapangan akhirnya sekarang kitabelajar dari lapangan,” kenangnya.
Ketemu dengan sang istri? Rifky menyebut saat mengambil program magister. Dia kebetulan bertemu Ega.
Keduanya sama-sama suka batik dan saling support. Singkat cerita keduanya cocok dan menikah pada 2022.
Mereka kemudian berburu ikutan lomba desain batik. Bertujuan membangun brand.
Berusaha bersaing dengan brand lama. “Jadi akselerasinya ya ikut lomba. Kalau menang kan namanya bisa terangkat,” tandas pria kelahiran 1995 ini.
Pada 2021, ketika mengikuti lomba desain batik khas Kabupaten Kediri, mereka menciptakan motif Lereng Gening Sritanjung.
Idenya dari relief di Candi Surowono. Bercerita tentang kisah Sritanjung yang dibunuh sang suami akibat fitnah.
Baca Juga: Mengenal Ponpes Ashluddiniyyah Kediri, Tempat Santri ODGJ Menemukan Jalan Kesembuhan
“Dapat juara satu. Alhamdulillah bisa menyalip seniman-seniman batik yang lebihsenior,” kenangnya.
Nama mereka pun kian dikenal. Kemudian membentuk brand Srigaya. Tujuannya tidak semata bisnis.
Juga niatan untuk melestarikan batik. Sebab, mereka melihat, rata-rata pemilik brand batik di Kediri usianya 40-an tahun ke atas.
“Kalau yang lainnya sudah senior, sepuh-sepuh, kami memulai dari anak muda.Menggerakkan bagaimana batik tulis tetap lestari, karena sejak 2004 dinobatkansebagai warisan tak benda,” ucapnya mantap.
Editor : Andhika Attar Anindita