Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Terinspirasi Tahu Kuning Kediri, Muhammad Zidane Ciptakan Motif Batik Unik hingga Terdaftar HAKI

Diana Yunita Sari • Kamis, 15 Januari 2026 | 22:58 WIB
Zidane menunjukkan batik motif tahu kuning karyanya (Diana Yunita Sari/JPRK)
Zidane menunjukkan batik motif tahu kuning karyanya (Diana Yunita Sari/JPRK)

JP Radar Kediri - Bagi pemuda ini tahu kuning bukan sekadar makanan khas Kediri. Juga inspirasinya dalam menyusun tugas akhir. Sekaligus menjadi motif khas buatannya yang sudah dia daftarkan ke DJKI. 

Pemuda 20-an tahun itu mengembangkan senyuman. Tangannya meraih tas ransel yang awalnya tergeletak di meja salah satu kafe di Kecamatan Ngasem itu.

Membukanya, kemudian mengeluarkan beberapa lembar kain. Juga buku katalog bergambar model-model yang mengenakan busana batik, dengan teknik draping.

Lembaran kain yang dikeluarkan pria bernama lengkap Muhammad Zidane Eka Prasetya itu mencolok mata.

Warnanya oranye kekuningan. Bergambar deretan tahu kuning yang dipadu dengan ornamen lain. Kain yang dia tunjukkan itu bukan kain biasa. Kain itu adalah batik bermotif Tahu Kuning.

Karya orisinal dari mahasiswa program studi seni rumpa di Universitas Negeri Malang (UM) itu. Motif yang terinspirasi dari kuliner ikonik kota kelahirannya, Kota Kediri.

“Ide batik ini sebenarnya sudah muncul sejak awal semester. Tapi baru benar-benar terwujud lewat skripsi ini,” ungkap pemuda asal Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kota ini.

Lahirnya motif unik ini bermula dari satu pengamatan kecil. Saat itu, Zidan-demikian dia biasa dipanggil-melihat satu kelompok tari tradisional membawakan tari bertema tahu kuning.

Zidan merasakan ada yang kurang dalam penampilan di suatu lomba itu. Yaitu kostum yang dikenakan para penari dia anggap belum kuat menonjolkan unsur visual tahu kuningnya.

Fenomena itulah yang kemudian ia tangkap menjadi topik tugas akhir. Tak mau setengah-setengah, Zidan langsung terjun melakukan observasi mendalam.

Ia mewawancarai kelompok tari tersebut. Juga blusukan ke pabrik pembuatan tahu kuning di Kota Kediri untuk melihat proses produksinya secara langsung.

“Saya sampaikan ide ini ke dosen pembimbing saya, Dr Ike Ratnawati. Beliau setuju, dan seluruh prosesnya berada di bawah bimbingan beliau,” lanjutnya.

Baca Juga: Kenalan dengan Suwari, Pembuat Patung Macan Putih Viral di Balongjeruk Kediri

Zidan tidak hanya menciptakan satu motif. Berdasarkan hasil pengamatannya di pabrik, ia melahirkan enam motif berbeda.

Semuanya merepresentasikan alur pembuatan tahu. Mulai dari motif panen kedelai, giling kedelai, cetak tahu, penguningan tahu, besek tahu, hingga motif utamanya, yaitu tahu kuning.

Keenam motif tersebut dituangkan di kain primisima-jenis kain katun yang punya kualitas tinggi-ukuran 2 x 1 meter. Prosesnya relatif panjang.

Kain harus "dimasak" terlebih dahulu untuk menghilangkan sisa tepung dan membuka pori-pori sebelum dibilas, dikeringkan, dan disketsa menggunakan pensil dengan pola-pola geometris.

Setelah sketsa rampung, barulah ia mencanting. Untuk pewarnaan, Zidan menggunakan jenis remasol yang dicampur soda ash dan air hangat agar warna cepat menyatu.

“Pewarnaannya pakai spon. Setelah selesai baru masuk proses waterglass untuk pengunci warna,” papar pemuda yang butuh waktu setahun merampungkan semua karyanya itu.

“Kendalanya hanya saat hujan. Karena proses ini butuh sinar matahari penuh,” lanjut Zidan.

Dia harus kerja keras dalam mengerjakan proyek itu. Di tengah kesibukan padatnya di semester delapan.

Juga di sela-sela kesibukannya sebagai asisten dosen, sampingannya sebagai master of ceremony, hingga mengisi workshop batik tulis di sekolah-sekolah maupun desa-desa.

Hebatnya, karya orisinalnya itu mendapat apresiasi tinggi. Itu terjadi ketika Zidan menggelar pameran busana di Malang Creative Center (MCC).

Karya-karyanya dia pamerkan dengan audiens yang beragam. Baik dari dalam negeri hingga luar negeri.

“Di hari ketiga pameran, ada orang tua dari perwakilan Putra Putri Kebudayaan Jawa Timur yang mengajak kolaborasi fashion show. Di sana juga ada teman-teman dari kelompok disabilitas,” kenangnya.

Zidane mengiyakan tantangan tersebut, meskipun waktunya mepet. Baginya, kesempatan emas tidak datang dua kali. Dan, hasilnya luar biasa.

Anak-anak disabilitas tersebut tampil memukau dengan balutan kain batik motif tahu kuning yang ditata menggunakan teknik draping-busana yang diatur dalam balutan tanpa jahitan.

“Ternyata mereka punya kemampuan luar biasa. Sangat penurut saat diatur dan punya kharisma tersendiri di panggung,” puji Zidan.

Keberhasilan Zidane dalam show itu bukan kebetulan. Sebab, ketertarikannya pada dunia desain sudah terasah sejak SMA. Kala itu, ia pernah menjuarai lomba desain busana. Hal itulah yang memantapkan langkahnya memilih jurusan seni rupa. Karena ingin mendalami teknik membatik secara profesional.

Kini, kerja kerasnya berbuah manis. Batik motif tahu kuning miliknya telah didaftarkan untuk mendapatkan sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum, dengan dukungan dana dari kampusnya.

Ke depan, jika motif ini diproduksi secara massal, Zidane berencana memodifikasinya menjadi batik cap agar proses pengerjaannya lebih efisien dan mudah dijangkau masyarakat luas.

Editor : Andhika Attar Anindita
#kabupaten kediri #mahasiswa #kediri #batik kediri #pembatik #batik tulis #tahu kuning kediri #tahu kuning #batik