Rumah-rumah itu terdiri dari dua lantai. Berada di sekitar Gereja Puhsarang. Si pemilik juga menawarkan sebagai penginapan. Namun, tidak ada pengumuman yang menandakan bahwa rumah tersebut dapat dinikmati oleh pengunjung gereja maupun wisatawan.
“Ini sebenarnya bisa rumah sendiri, buat keluarga kalau banyak yang pulang. Tapi ya biasanya ada langganan (jemaat gereja, Red) yang sering nginep di sini,” ujar Yati, salah satu warga yang membuka penginapan di lantai dua rumahnya.
Namun, dia mengaku, beberapa tahun terakhir pengunjung Gereja Puhsarang yang menginap jauh menurun jumlahnya. Hal itu yang membuat halaman rumahnya pun tampak lengang.
Meskipun saat Natal seperti sekarang ini. Hanya ada beberapa jemaat gereja yang lewat lalang. Atau beberapa pelaku usaha kuliner yang sibuk menyiapkan hidangan. Padahal, rumah sederhananya terletak jauh dari kawasan Gereja Puhsarang, destinasi ziarah yang selama bertahun-tahun menjadi denyut perekonomian warga.
“Sekarang ini agak sepi,” aku Yati dengan suara lirih.
Perempuan paruh baya itu sudah belasan tahun membuka jasa penginapan rumahan. Empat kamar di rumahnya ia siapkan untuk peziarah luar kota. Dulu, sebelum pandemi Covid-19, hampir setiap akhir pekan terisi. Kini, kamar-kamar itu disewakan kala ada momen tertentu. Misalnya saja saat ibadah Jumat Legi.
“Dulu sebelum pandemi, tiap minggu pasti ada orang nginep .Biasanya empat kamar bisa penuh,” ucapnya mengenang masa-masa ramai dulu.
Kini, suasananya jauh berbeda. Tamu yang datang kebanyakan hanya singgah semalam. Bahkan tak jarang, hanya satu atau dua kamar yang terisi.
“Kalau sekarang, semalam saja. Kadang cuma satu kamar,” sebutnya.
Pandemi seolah menjadi titik balik. Sejak Covid-19 melanda, arus peziarah terhenti. Ketika dicabut ternyata kondisinya belum sepenuhnya pulih. Jumlah kunjungan tak lagi seramai dulu. “Belum balik normal,” tegasnya.
Yati tak sendirian. Di lingkungannya, hanya tersisa tiga rumah warga yang masih membuka penginapan. Rata-rata juga rumah tinggal yang disewakan. Bukan khusus wisma atau motel.
Tak melakukan promosi agar okupansi terdongkrak? Yati kepala sekolah. Dia memilih bergantung pada jemaat berlangganan. Atau memanfaatkan momentum ibadah tertentu. Ketika pengunjung luar kota banyak datangan.
“Khawatirnya jika telanjur dipromosikan, ternyata ruangannya sudah penuh terisi sama saudara yang pulang,” ungkap perempuan yang sehari-hari berjualan masakan rumahan itu.
Memang, bagi perempuan ini, penginapan itu bukan mata pencaharian utama. Hanya usaha sambil memanfaatkan beberapa kamar yang tak terpakai. Oleh karena itu, promosi hampir tidak pernah dilakukan.
Kalaupun ada pengunjung, sebagian besar datang dari Jakarta, Malang, dan Jogjakarta. Mereka biasanya peziarah yang hendak mengikuti misa, doa khusus, atau novena. Untuk novena, tamu bisa menginap hingga sembilan hari. Namun jumlahnya terbatas.
Momentum sempat terasa pada tahun yubileum gereja. Januari Sepanjang Januari hingga Desember, kunjungan agak terangkat.
“Lumayan ramai saat itu,” kata Yati. Banyak peziarah datang karena Pohsarang termasuk salah satu lokasi ziarah wajib.
Keramaian masih muncul pada momen tertentu: Jumat, Sabtu, Minggu, atau musim libur panjang. Itu pun tak sampai membludak.
“Ramai, tapi nggak seperti dulu,” ucapnya.
Yati ingat betul masa awal Pohsarang dikenal luas, sekitar awal tahun 2000-an. Saat itu, rasa penasaran masyarakat masih tinggi. Peziarah datang berbondong-bondong. Penginapan seadanya pun tetap terisi.
“Dulu luar biasa ramainya,” kenangnya.
Kini, setelah nama Puhsarang sudah lebih jauh dikenal, tantangannya justru berbeda. Tanpa inovasi dan promosi, warga penginapan bergantung sepenuhnya pada arus peziarah. Sementara pandemi telah mengubah pola perjalanan banyak orang.
Meski begitu, Yati tetap membuka pintu. Menerima mereka yang ingin menginap.
“Kalau ada ya diterima,” katanya sambil tersenyum.
Serupa dengan Yati, Siswandi juga menyewakan beberapa kamar di rumahnya untuk jemaat. Berbeda dengan penginapan pada umumnya, pelanggannya hanya dari kalangan jemaah gereja saja. Selain itu, lima kamar di rumahnya hanya diperuntukan bagi sanak saudara yang pulang kampung.
"Sebenarnya kan buat keluarga. Karena keluarganya banyak di luar kota biasanya pulang. Tapi biasanya ada tamu dari luar yang nyari penginapan. Biasanya kalau di wisma sudah penuh, diarahkan ke sini," ungkapnya.
Sama seperti Yati, dia pun tak secara khusus memasarkan tempatnya sebagai penginapan. Apalagi untuk wisatawan umum. Dia hanya menerima tamu atas dasar solidaritas membantu jemaat gereja dari luar kota yang mencari penginapan.
"Kan kasihan jauh-jauh dari luar kota, capek . Mungkin dari Solo atau Jakarta. Jadi minta tolong nginep di sini. Kalau di sini kan dekat sama gereja," tandasnya.
Dia pun membenarkan adanya perubahan tren pengunjung saat ini. Sehari jelang Natal tahun ini, tak ada tamu yang menginap. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, terutama sebelum pandemi, setidaknya satu kamar selalu terisi setiap momentum Natal dan tahun baru.
Meski bukan mata pencaharian utama, namun dia bersyukur jika ada tamu di tempatnya. “Bisa buat tambah-tambah biaya sekolah,” akunya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian