JP Radar Kediri - Kediri tak pernah kekurangan seniman bertalenta. Bibit baru bermunculan, melengkapi seniornya yang lebih dulu menghiasi panggung nasional. Salah satu rising star itu bernama Prigel Pangayu Anjarwening.
Perempuan muda itu bergerak anggun. Menguasai panggung yang ada di ruangan Tegowangi, salah satu hall di Grand Surya Hotel. Di bawah tatapan mata ratusan undangan, gadis berkebaya biru tua dipadu jarik cokelat menyanyikan lagu ‘Kusuma Wijaya’.
Tak cukup satu lagu, suara merdunya kembali mengumandang. Menghipnotis penerima Radar Kediri Awards 2025 dan undangan lainnya. Kali ini yang dinyanyikan gadis 25 tahun ini adalah ‘ Jogja Istimewa’
Aksinya malam itu kian menarik dengan imbuhan tari oleh anak-anak Sanggar Ande-Ande Lumut. Lebih-lebih, ada sosok Embran Nawawi yang juga ikut melenggokkan tubun, mengikuti irama lagu nan syahdu. Sosok ini adalah seniman wastra yang namanya sudah go Internasional dan meraih salah satu predikat dalam Radar Kediri Awards malam itu.
Prigel, demikian sapaan sinden muda ini namanya sudah tidak asing lagi. Dia adalah salah satu seniman asal Kediri yang namanya terus melejit. Buah dari kerja kerasnya selama belasan tahun.
Ya, pemilik nama lengkap Prigel Pangayu Anjarwening sudah lama bergelut di dunia seni. Jauh sebelum namanya dikenal luas seperti saat ini
“Awalnya tari dulu. (Saat) TK (kelas) nol kecil diikutkan Sanggar Tari Kembang Sore. Lalu (ketika) kelas 3 SD baru dikenalkan ke vokal,” ucap Prigel, di ruang tunggu guest house star.
Prigel mengatakan bahwa ketertarikannya pada dunia seni didorong oleh dua faktor. Yaitu hasrat pribadi dan darah seni yang telah mengalir dari almarhum sang ayah. Dulu, sang ayah memiliki grup ketoprak.
"Keluarga almarhum ayah itu keluarga seni. Pakpuh (pakde, Red) saya dalang wayang kulit. Ayah juga MC manten dulu, dan kebetulan sekarang adik juga menari," jelasnya.
Perkenalannya dengan dunia vokal membawanya ke panggung wayang kulit. Hanya butuh waktu sekitar enam bulan berlatih sinden hingga akhirnya tampil di panggung wayangan semalam suntuk. Saat itu dia baru kelas 4 SD.
Kemampuan olah vokal menyindennya dibantu pelatih asal Kecamatan Kandat secara privat. Latihan dilakukan seminggu sekali saat hari libur sekolah.
Bila diianya pilihan antara menari dan menyanyi, Prigel mengaku suka keduanya. Sebagai orang seni, ia merasa jiwanya bebas sehingga menyukai berbagai kesenian. Namun, untuk hobi yang menghasilkan bayaran, ia memilih menjadi sinden.
Pengalaman pertamanya sebagai sinden terjadi di Kecamatan Kandat, di rumah pelatih vokalnya, Bu Katini. Kebetulan suami Bu Katini adalah seorang dalang. Mereka membuat pementasan di rumahnya sendiri (gebyakan). Prigel pun diminta ikut tampil sekaligus belajar di depan banyak orang.
“Mulai dari panggung itu, aku dikenal sama dalang-dalang lain dan orang-orang. Dan di situ awal mula dapat job,” jelas perempuan berkulit putih tersebut.
Setelah itu, Prigel semakin aktif tampil di panggung-panggung wayangan. Kemudian di bangku SMP, ia mencoba panggung baru dengan mengikuti audisi menyanyi The Rosta oleh AINI Record. Saat itu kaset DVD masih ramai dan banyak artis terkenal di label tersebut, seperti Nella Karisma. Di ajang itu, ia berhasil meraih juara 2.
Dari ajang tersebut Prigel juga sering mengisi event The Rosta dan direkrut oleh dalang asal Blitar, Ki Rudi Gareng. Dari sinilah dia sering kolaborasi dengan Cak Precil. Lalu namanya semakin banyak dikenal orang.
Banyaknya job saat SMA, dan seringnya ikut wayang semalam suntuk, membuat ia jadi jarang mengerjakan tugas. Laju akademisnya pun jadi terganggu. Tak berjalan lancar.
“Saat nyinden semalam suntuk itu tidak pegang HP jadi tidak bisa mengerjakan tugas. Akhirnya tugas-tugas itu keteteran. Aku malu dan sempat tidak sekolah. Namun akhirnya tetap lanjut dengan pindah sekolah,” kenangnya.
Prigel pun lulus di salah satu SMA di Ngadiluwih pada 2019. Setelah lulus, ia melanjutkan karir sambil berkuliah di Universitas Terbuka (UT) jurusan hukum.
“Yah, meskipun sering re-medial karena jarang mengerjakan tugas, sebentar lagi lulus. Yang penting karir dan pendidikan jalan semua,” ungkapnya.
Saat ini Prigel lebih banyak menjadi guest star dalam acara event saja dan jarang ikut panggung wayang. Hal ini karena waktu di event lebih singkat dan tak banyak lagu yang ditampilkan. Berbeda dengan panggung wayang yang mengharuskannya duduk bersimpuh dalam waktu lama.
Ditanya pengalaman paling berkesan sepanjang karier, Prigel menyebut ada salah satu cerita lucu. Dulu saat ia masih SD, ada momen wayangan ngedur (setiap hari jadwalnya) yang mengharuskan ia membagi waktu. Malam wayangan lalu paginya sekolah. Begitu terus, hingga di hari keempat saat gara-gara-fase munculnya punakawan dalam pentas pewayangan, sekitar pukul 3.00 pagi- Prigel tak kuat menahan kantuk. Dan akhirnya jatuh ke belakang, tepat ke bagian kelir atau empat wayang ditancapkan.
“Malu, Mbak. Untungnya jam segitu penonton sudah sepi. Dan saat itu aku tidak dibayar. Sampai sekarang aku masih ingat, dalangnya siapa dan lokasinya di mana,” ceritanya.
Ia menjadikan semua pengalamannya sebagai pembelajaran. Hingga saat ini, ia hampir setiap hari selalu mendapat job. Kadang hingga suaranya habis karena setiap hari menyanyi.
“Kalau suara habis, obatnya itu ya tidur istirahat. Biasanya juga pilih lagu-lagu yang aman. Alhamdulillah, rezeki ada saja,” pungkasnya.
Editor : Mahfud