Tak Cuma Baca Tulis, Juga Ajarkan Belajar yang Menarik
Komunitas ini beranggotakan 40-an anak muda Kediri. Dari latar belakang beragam, pelajar hingga karyawan. Mereka berkumpul untuk tujuan sama, menyebarkan semangat literasi kepada anak-anak.
Namanya Gerakan Perpustakaan Anak Nasional. Tahun berdirinya pada 2017. Sosok pendirinya adalah Choirul Anam, seorang mahasiswa yang tertarik pada dunia literasi.
Anggotanya, saat itu, juga tak banyak. Choirul hanya mengajak beberapa temannya. Namun, sekarang komunitas ini mulai membesar. Jumlah anggotanya hingga puluhan orang.
“Perjalanan komunitas ini pasang surut. Terutama untuk mengajak orang bergabung. Sekarang, alhamdulillah, mulai menarik perhatian pegiat literasi baru. Mayoritas mahasiswa yang ingin berkegiatan sosial,” ungkap Muhammad Imam Bahruddin.
Imam adalah ketua GPAN Kediri saat ini. Lucunya, awal bergabung komunitas ini justru karena tidak suka membaca buku.
“Saya ingin bisa suka baca buku. Dan, para anggota relawan memiliki vibes positif. Bisa menyebarkan senyum ke semua orang. Dapat teman baru. Dapat insight baru,” aku sang ketua.
Vibes positif itulah yang kini terus disebarkan oleh semua anggota komunitas. Wujudnya dengan berbagai kegiatan rutin. Seperti lapak baca setiap Minggu di lokasi strategis. Seperti di Jalan Dhoho, Taman Hijau, ataupun Taman Ngronggo.
Setiap kali membuka lapak baca, yang mereka hadirkan adalah bacaan anak-anak hingga buku ilmu pengetahuan umum. Buku-buku itu adalah senjata mereka memikat masyarakat, terutama anak-anak, untuk mau dan menggemari baca tulis.
Tak hanya lapak baca, mereka juga memiliki program lain untuk menjangkau sasaran lebih luas. Terutama anak-anak sekolah dasar (SD) di pelosok dan panti asuhan. Salah satu program unggulan adalah "Ramadhan Ceria" yang diadakan setiap bulan puasa.
Kegiatan itu tidak hanya berfokus pada membaca tetapi juga memberikan materi Islami yang dikemas dalam permainan. Seperti simulasi tata cara wudu, fikih (hukum Islam), serta lomba-lomba edukatif seperti azan dan iqomah.
“Bukan hanya kegiatan literasi baca tulis, kami juga mengenalkan pembelajaran dengan cara menarik. Seperti eksperimen sains sederhana 'gunung berapi' dan mengenalkan sosok bersejarah lokal seperti Raja Jayabaya,” lanjut Imam.
Di Oktober ini GPAN menjalankan program "Gala Literasi Nusantara". Acara ini merupakan pelatihan story telling dan kepenulisan kreatif. Berhasil menarik 150 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
"Alhamdulillah, di kegiatan ini kami didukung oleh Kemendikdasmen. Dan semoga ini bisa membuat komunitas kami lebih dikenal di Kediri," harap Imam.
Anggota relawan lain, Diawati Sri Nur Indah, adalah seorang guru bahasa Inggris. Hasrat besarnya bergabung dalam komunitas ini adalah menularkan ilmu yang dimiliki.
“Senang sekali ketika diundang ke sekolah-sekolah dan merasa bisa bermanfaat serta menularkan ilmu yang dimiliki,” ujar Diawati.
Kenangan paling berkesan bagi para relawan adalah saat mengisi acara di tempat pelosok. Mereka bebarengan menempuh perjalanan jauh menggunakan sepeda motor.
“Ada niat, dan fakta bahwa ada yang menunggu kita di sana. Meskipun jauh, tetap ditempuh,” kenang Diawati.
Di balik semangat tersebut, GPAN tetap menghadapi tantangan klasik komunitas. Seperti komitmen anggota, jumlah SDM, dan nama komunitas yang belum dikenal luas.
Untuk pendanaan, mereka mengandalkan iuran relawan, donasi, dan sponsor dari mitra sosial. Meskipun dengan berbagai keterbatasan itu mereka berharap dapat menjamah lebih banyak anak-anak dan pegiat literasi di Kediri. Demi memperkuat minat baca dan tulis.(*)
Editor : Mahfud