Kisah Rizky Kurnia, Petinju Peraih Emas Porprov Jatim yang Gamang Masa Depan Keatletannya
Emilia Susanti• Kamis, 28 Agustus 2025 | 15:51 WIB
Rizky Kurnia dengan medali emas yang diraih dari Porprov Jatim.
Tak Katut ke PON, Pilih Ternak Menthok Jumbo
Fisiknya yang berbeda tak menciutkan nyali prestasinya. Memicunya jadi petinju berbakat yang dia buktikan dengan koleksi emas Porprov Jatim. Namun, sang atlet merasa gamang dengan masa depan karir bertinjunya.
Nama lengkapnya Rizky Kurnia. Biasa dipanggil Risky. Usianya baru 23 tahun.
Secara fisik, dia agak berbeda. Leher besarnya terlihat agak miring posisinya dalam menopang kepala. Salah satu bahunya memang lebih rendah dari yang lain. Itu yang membuatnya seperti itu.
Saat kecil Risky juga sempat jadi sasaran perundungan sebayanya. Penyebabnya ya kondisi fisiknya yang seperti itu. Namun, justru hal itu yang memicu motivasinya untuk berprestasi.
“Bully-an itu seperti bahan bakar. Saya buat motivasi untuk membuktikan kalau saya bisa (berprestasi),” aku pemuda asli Desa Deyeng, Kecamatan Ringinrejo ini.
Jalan yang dia pilih adalah bertinju. Mengantarkannya jadi atlet yang menembus ajang pekan olahraga provinsi (porprov) Jatim. Dua kali mendapatkan emas, meskipun untuk dua kota berbeda.
“Ikut porprov empat kali. Yang pertama nggak dapat (emas). Kedua, medali emas. Ketiga, belum sempat main pertandingan dihentikan karena ada yang meninggal. Dan keempat yang di (Kota) Batu kemarin,” jelentreh petinju yang turun di kelas 57 kilogram ini.
Dua emas itu untuk dua kota berbeda. Sebab, awalnya Risky memperkuat kontingen Sidoarjo. Baru pada ajang terakhir itu dia masuk kontingen Kota Kediri.
Sayangnya, dua medali emas ternyata tak membuatnya percaya diri meneruskan karir di tinju. Ketika disinggung ajang yang lebih tinggi, seperti Pekan Olahraga Nasional (PON), nada bicara Risky menurun. Seakan menyiratkan surutnya asa terjun ke ajang bergengsi di Indonesia itu.
Mengapa? Ternyata, Risky tak dipanggil dalam pemusatan latihan daerah (puslatda) Jatim. Sebagai syarat agar bisa masuk kontingen Jatim dalam PON mendatang.
“Saya juga nggak tahu kenapa. Padahal atlet lainnya dapat panggilan tetapi nama saya tidak. Mungkin karena saya nggak ada faktor kedekatan,” duganya dengan suara yang bernada pasrah.
Kendati demikian, Risky tidak ingin larut dalam kegamangan. Memilih menyibukkan diri dengan aktivitas lain. Yang juga bisa dia jadikan gantolan untuk masa depan.
Ya, selain bertinju pemuda ini juga terjun di bidang ternak. Memelihara menthok jumbo. Hewan sejenis itik yang dipelihara untuk kepentingan kontes.
“Jadi, saya bagian pemasarannya saja. Untuk peternaknya saya punya mitra,” akunya.
Sebagai pemasar, dia tak setengah-setengah. Menthok jumbonya sudah dia pasarkan hampir di seluruh pelosok tanah air. Tak hanya di Jawa, juga Sumatera dan Kalimantan. Kota-kota seperti Lampung dan Medan sudah sering dia sasar.
Omzetnya pun juga tak kecil. Mencapai puluhan juta rupiah dalam satu bulan.
“Tapi itu omzet kotor,” ucapnya buru-buru.
Kendati demikian, bisnisnya itu tidak selalu berjalan lancar. Dia pernah ditipu saat awal merintis. Bahkan, dulu, ketika sempat beternak sendiri dia juga pernah mengalami kerugian yang besar. Semua menthoknya mati terserang virus.
“Dari situ saya berpikir untuk mencari mitra dan saya bagian pemasarannya saja,” katanya.
Berbicara mengenai bisnisnya ini, dia mengaku sudah memulainya sejak sekolah menengah atas. Kala itu, dia menyisihkan uang dari pemusatan latihan kota (puslatkot) yang diterima dari KONI Kota Kediri. Mulanya, dia membuat peternakan itik jumbo sendiri. Lalu setelah terserang virus, dirinya vakum dari bisnis tersebut.
“Terus saya buka angkringan. Modalnya dari bonus medali emas pas saya ikut porprov untuk Sidoarjo 2023 itu,” ingatnya sembari menyebut bonus tersebut mencapai Rp 40 juta.
Hanya saja, dia merasa tak cocok dengan bisnis angkringan. Setelah tiga bulan, dia menjual angkringan itu. Lalu berpikir untuk memulai bisnis menthok jumbo lagi. Namun, seperti yang dikatakan sebelumnya, dia hanya melakukan pemasaran saja.
“Saya jual lewat online. Facebook dan Tiktok,” katanya sembari menyebut followers Tiktoknya sudah mencapai delapan ribu dalam satu tahun ini.
Karena kesibukan pada bisnisnya inilah dia tidak terlalu mengejar prestasi ke ajang yang lebih tinggi lagi. Dia pun menyadari butuh tingkat fokus yang tinggi jika ingin terus melanjutkan karirnya sebagai atlet.
“Pasti harus ada yang dikorbankan,” ujarnya.
Meski begitu, dia tetap ingin terus berkontribusi dalam dunia cabor tinju. Terutama dalam hal regenerasi atlet. (*)