Alat Bikin Sendiri, Aspal Minta Sisa Proyek
Pria ini bersedia berpanas-panas menambali jalanan yang berlubang. Tak ingin mendapat pujian, apalagi imbalan. Tujuannya hanya satu, agar bisa bermanfaat bagi banyak orang.
Heri Purnomo berdiri di depan rumahnya. Di sebelah sepeda motor beroda tiga, yang juga miliknya. Warga Desa Langenharjo-salah satu desa di Kecamatan Plemahan-ini kemudian memasukkan tabung gas elpiji ukuran tiga kilogram ke gerobak kendaraan.
Setelah itu, yang dia masukkan berganti. Alat penyembur api, tongkat besi sebagai penumbuk, dan sapu lidi.
“Ini alat-alatnya buatan sendiri,” kata pria yang sudah memiliki banyak kerutan di wajahnya itu.
Alat-alat itu dibuat bukan tanpa alasan. Heri menggunakan untuk menambal jalan aspal yang berlubang. Karena itulah, bagian terakhir yang dia angkut adalah campuran aspal dengan batu koral.
Setelah semua peralatan terangkut, giliran dia langsung menaiki sadel sepeda motor. Setelah memencet tombol start, bergegas dia lajukan kendaraan bercat merah tersebut. Berkeliling, mencari ruas jalan yang berlubang-lubang.
Kala menemukan, Heri menepikan kendaraan. Dia pun turun, kemudian menyiapkan diri. Memasang traffic cone di kedua sisi lubang. Tanda bahwa sedang ada aktivitas penambalan. Agar pengendara yang melintas bisa berhati-hati.
Dengan cekatan Heri langsung bekerja. Membersihkan lubang dari pasir dan debu. Kemudian memasukkan material aspal. Memanasinya dengan semburan api yang keluar dari tongkat buatannya. Tongkat ini terhubung dengan tabung gas elpiji tiga kilogram.
Setelah itu, tahapan selanjutnya adalah menumbuk lapisan aspal yang lembek karena panas itu. Heri melakukannya hingga padat.
Langkah-langkah itu tidak dilakukan hanya sekali. Melainkan berulang kali hingga aspal padat dan menutup lubang dengan sempurna.
“Ini bisa bertahan sampai dua tahun,” terangnya sembari terus menumbuk aspal yang baru dia bakar.
Rambut laki-laki itu sudah dipenuhi dengan uban. Namun laki-laki kelahiran 1972 ini tidak pernah lelah melakukan hal seperti itu.
Hebatnya, semua itu dia lakukan dengan suka rela. Dia bukanlah petugas penambal jalan yang digaji pemerintah. Dia melakukan karena inisiatif sendiri. Juga dengan biaya sendiri.
Lubang jalan yang pernah dia tambal juga tak terbilang. Mulai dari wilayah Kecamatan Kepung, Kandangan, Badas, hingga Papar. Pernah pula dia menambal jalan yang masuk wilayah Kabupaten Nganjuk.
“Saya kasih batas maksimal lokasinya 15 kilometer,” aku Heri.
Ya, karena kebiasaan Heri menambal jalan berlubang, dia kerap dipanggil warga. Untuk membantu menambal jalan berlubang. Ketika pemerintah tak juga kunjung melakukan penanganan.
“Ketika ada jalan berlubang, lalu saya benahi gitu, biasanya besoknya atau dalam waktu dekat langsung dibenahi oleh PUPR,” aku laki-laki 53 tahun itu.
Heri mengaku, kebiasaannya menambal jalan berlubang sudah sejak dia duduk di bangku SMA. Mulanya, dia melihat ada jalan berlubang yang membuat pengendara kecelakan. Dari situ, hatinya tergugah untuk menambal jalan.
“Selain itu, mbah-mbah saya juga pernah bilang, lek enek eri ning dalan disingkirne. Ben oleh pahala (kalau ada duri di jalan disingkirkan. Agar mendapatkan pahala, Red),” ucapnya, menyebut salah satu motivasinya menambal jalan berlubang.
“Intinya biar orang lewat tidak celaka. Tidak ada motivasi lain,” imbuh Heri.
Dia mengatakan, ketika masih remaja, mulanya dia menggunakan bahan seadanya. Menyesuaikan budget anak SMA. Mulai dari tanah, sampai dengan semen. Kebiasaan itu terus dia lakukan hingga dewasa.
Berikutnya, pada 2010, saat dia menjadi Kaur Pembangunan di Desa Langenharjo, dia mendapatkan ilmu dari pemborong. Soal bagaimana cara menambal jalan berlubang.
Dari situ Heri belajar. Berikutnya, ketika ada material sisa pembangunan jalan yang tidak terpakai, Heri pun manfaatkannya.
“Dikasih dari sisa proyek,” kenang laki-laki. Yang memutuskan keluar dari perangkat desa pada 2019 lalu.
Selain dari sisa proyek, material yang dia pakai untuk menambal jalan berlubang adalah bekas pembongkaran aspal. Ketika ada pembongkaran jalan, dia akan meminta beberapa aspal yang dibongkar untuk dibawa pulang.
“Aspal yang dibongkar itu bisa dipakai. Aspal itu dipecah kecil-kecil. Setelahnya saat dipakai itu dibakar, dia akan meleleh lagi dan bisa dipakai,” jelasnya.
Heri menunjukkan tumpukan bongkahan aspal yang dia ambil dari pembongkaran jalan. Material itu dia simpan di pekarangan belakang rumah.
Dulu, ketika tidak ada sisa proyek, atau pembongkaran jalan, dia rela menggunakan uang sendiri. Merogoh kocek dalam-dalam. Untuk membeli bahan baku aspal cair.
“Alhamdulillah sekarang ada donasi dari teman-teman,” akunya.
Karena kebiasaannya itu, Heri juga kerap diminta bantuan oleh warga desa lain.
Selain untuk menambal. Ada pula yang ingin diajari ilmunya itu. Agar hal tersebut bisa ditiru. Jadi ketika tidak Heri tidak bisa, warganya bisa melakukan sendiri.
Kegiatan ini tidak pernah dia tinggalkan. Di sela-selanya menjaga toko, dia terus melakukan. Hal itu juga. Didukung oleh istri dan tiga anaknya.
“Gunakan waktumu untuk hal yang bermanfaat. Selama masih ada nyawa di badan. Itu yang terus saya tanamkan dalam hati saya,” Heri menegaskan prinsip hidup yang jadi pedomannya.
Karena kebaikannya itu, Heri juga pernah mendapatkan piagam penghargaan. Dari Satlantas Polres Kediri. Sebagai relawan di bidang lintas. Penghargaan yang dia terima pada 2023 lalu.(*)
Editor : Mahfud