Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dokter Maha dan Obsesinya Mendirikan Sekolah Khusus Toksilogi 

Hilda Nurmala Risani • Minggu, 20 Juli 2025 | 17:00 WIB

Dr Maha menunjukkan ular-ular yang telah dibekukan. Ular-ular itu dia dapat dari pasien yang dia rawat selama ini.
Dr Maha menunjukkan ular-ular yang telah dibekukan. Ular-ular itu dia dapat dari pasien yang dia rawat selama ini.

Agar Penanganan Cepat dan Banyak Nyawa Terselamatkan

Nama dr Tri Maharini sebagai ahli toksilogi sudah tak terbantahkan. Menangani kasus di berbagai penjuru negeri. Kini, dia berkeinginan menelurkan dokter-dokter spesialis toksilogi yang hebat.

 

Wanita yang akrab disapa dr Maha itu menata ular-ular di meja ruang tamu rumahnya, di Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota. Tentu saja, ular-ular itu telah mati. Kaku karena diformalin. 

“Ini semua ularnya dapat dari pasien yang saya tangani. Tentu jenis dan asal daerahnya sangat beragam,” ujar pemilik nama lengkap Tri Maharani ini seraya melepas senyum.

Dokter Maha memang sengaja mengatur ular-ular yang telah mati itu di meja. Sebagai salah satu cara mudah untuk menjelaskan keahliannya dalam menangani bisa ular.

Keahlian yang dia miliki itu sudah terlihat sejak usia anak-anak. Maha kecil kerap bermain dan berbicara dengan hewan yang ada di sekitar rumahnya. Baik itu ayam, bebek, maupun kucing.

Aktivitasnya itu dilatarbelakangi kesibukan kedua orang tuanya. Sang ayah adalah seorang tentara. Sedangkan sang ibu sebagai perawat.

“Kalau orang tua kerja dan kakak kuliah, saya sering sendirian di rumah. Temannya ya hewan-hewan itu,” kenangnya, sambil menyebut jika cita-citanya sedari kecil memang ingin menjadi dokter. 

Meskipun bercita-cita menjadi dokter, Maha tidak pernah berpikir jika akan menjadi spesialis toksikologi atau pakar bisa ular. Keahliannya itu mengalir begitu saja. 

Dia percaya ini salah satu panggilan dari Tuhan untuknya. Guna menyelamatkan ribuan nyawa manusia. Baik dewasa maupun anak-anak.

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini mulai terjun ke dunia toksikologi pada 2012. Setelah menempuh pendidikan dokter spesialis di Belgia. 

“Setelah menempuh pendidikan ini (dokter spesialis, Red) pulang ke Indonesia. Lalu bertemu ahli toksin dari Malaysia yang menyebut penanganan gigitan ular di Indonesia salah kaprah,” ujarnya.

Mendengar pernyataan itu, sontak hatinya terketuk untuk mempelajari ilmu toksikologi lebih dalam. Terlebih selama tujuh tahun dia bertugas di daerah seperti Nganjuk, Bondowoso, hingga Madiun kasus gigitan ular setiap hari terjadi. Bahkan sudah bukan menjadi hal luar biasa lagi.

“Yang membuatku suka itu karena pasienku banyak dan sayang sama hewan. Tapi bukan ular, karena aku tahu ular tidak boleh dipelihara,” tandasnya.

Kepeduliannya terhadap nyawa manusia membuatnya kembali belajar di Australia pada 2017. Ketika menempuh pendidikan di Australia, kesehariannya adalah menghitung jumlah sisik ular. Itu untuk membedakan antara ular yang berbisa dan tidak berbisa.

Maha menyebut, ilmu yang didapatkan di Australia inilah yang menjadi bekalnya dalam menangani berbagai kasus gigitan ular di Indonesia. Apalagi ular di Indonesia ini terkenal dengan keganasannya. Itu dibuktikan ketika penanganan membutuhkan lebih dari satu botol anti-bisa. 

“Pernah ada kasus pada 2023. Saat itu anggota BIN (Badan Intelijen Negara, Red) membersihkan bandara karena Presiden Jokowi mau datang. Ternyata dia digigit ular death adder Papua yang terkenal sangat mematikan. Dan dia membutuhkan satu anti-bisa dengan harga per botol anti-venom Rp 170 juta,” bebernya.

Melihat banyaknya kasus gigitan ular yang tidak sebanding dengan anti-bisa yang tersedia membuatnya berpikir keras mencari solusi. Yaitu bekerja sama dengan stakeholder terkait. Agar bisa menciptakan anti bisa. Dan kini hampir semua jenis ular berbisa sudah ada anti-bisanya.

Menurutnya, anti-bisa ini sangat dibutuhkan ketika seseorang mendapatkan gigitan ular. Itu karena bisa menyelamatkan nyawa manusia, yang jika terlambat memberikan anti-bisa nyawa akan melayang begitu saja.

Untuk diketahui, tren kasus gigitan ular ini selama lima tahun terakhir juga mengalami kenaikan. Didukung dengan adanya climates change seperti sekarang ini. Yang membuat ular semakin bertelur banyak.

“Estimasi gigitan ular itu ada 135 ribu per tahun di Indonesia. Dengan angka peningkatannya per tahun bisa mencapai 10 sampai 30 persen,” ungkapnya.

Peningkatan kasus gigitan ular setiap tahun menjadi perhatian khusus baginya. Dia menyadari terbatasnya jumlah dokter yang memiliki keahlian.

Hal itu yang dia anggap menjadi kendala dalam penanganan kasus gigitan ular. Padahal, setiap hari di berbagai daerah Indonesia terjadi kasus seperti itu. 

Maka tak heran jika Maha terus berinovasi untuk mempercepat penanganan kasus tergigit ular. Salah satunya membuat aplikasi virtual poison center.

Aplikasi ini bisa menghubungkan pasien terkena gigitan ular dengan dokter. Sekaligus mempercepat pasien memperoleh penanganan meskipun di daerah yang berbeda-beda.

“Saya juga akan membangun sekolah khusus mempelajari ilmu toksikologi. Agar lebih banyak dokter yang memiliki keahlian seperti saya. Sehingga penanganan lebih cepat dan lebih banyak nyawa yang terselamatkan,” jelasnya.

Selain itu, tekadnya ingin mendirikan sekolah karena dia menyadari jika ilmu toksikologi ini sulit dan membutuhkan biaya yang sangat mahal. Sekali sekolah biayanya mencapai ratusan juta.

“Doakan saya bisa mendirikan klinik toksikologi. Sehingga lahir dokter spesialis toksikologi yang hebat. Agar nantinya mitos dan mistis yang hidup di tengah masyarakat perlahan bisa beralih ke medis,” pungkasnya. (*)

Editor : Mahfud
#spesialis #bisa ular