Belajarnya Otodidak, Pasarnya Kini hingga Borneo
Usia yang tak lagi muda tidak menjadikan semangat berwirausaha pasutri ini melemah. Sebaliknya, justru kian meninggi. Meskipun harus bekerja keras akibat keterbatasan peralatan yang mereka miliki.
-----------------------------------
Di teras rumah pasutri itu beraktivitas. Duduk beralas tikar. Menghadap meja lipat portable sepanjang satu meteran.
Di meja berbahan plywood dan berkaki alumunium itu beragam peralatan milik mereka bertempat. Kotak penyimpanan dari plastik dua layer ada di sisi kiri si perempuan. Isinya, aksesori dan peralatan untuk mengkreasikan perhiasan buatan mereka yang berbahan mutiara.
Sedangkan di sisi kanan terdapat kotak penyimpanan mutiara. Tersedia dalam berbagai jenis dan ukuran.
“Setiap ada pesanan, proses pembuatan ya kami lakukan di sini (teras rumah, Red),” ucap si wanita, sembari meletakkan butir kecil mutiara di peralatan yang digunakan untuk membuat lubang.
Pasangan itu adalah suami istri Hariyadi dan Nike Hermawati. Keduanya adalah pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Usahanya adalah pembuatan perhiasan dari mutiara.
Saat ditemui itu, pasutri yang beralamat di Desa Sambirejo, Kecamatan Gampengrejo ini baru saja pulang. Setelah sejak pagi hingga siang hari menjajakan barang kerajinannya di lokasi car free day (CFD) Simpang Lima Gumul (SLG).
“Usaha saya ini berdiri sejak 2008,” terang Nike, sambil terus memproses pesanan pelanggan.
Tentu saja, saat itu omset dan pelanggannya tak sebanyak sekarang. Bahkan, awal berjualan dia pernah beromset Rp 125 ribu saja. Itu pun ditawar hingga harga terendah oleh pelanggan.
Tak menyerah, keduanya terus memasarkan hasil karya ke berbagai daerah. Setiap ada event baik dalam maupun luar kota selalu diikutinya. Kunjungan door to door juga dilakukan.
“Setiap minggu selalu saya jadwalkan untuk pergi keluar kota. Itu untuk promosi dan memperluas jangkauan pelanggan,” kenangnya.
Seiring berjalannya waktu, usaha perhiasan mutiara mereka dikenal banyak orang. Bahkan pengirimannya sudah ke luar daerah hingga luar pulau. Seperti Surabaya, Malang, Sidoarjo, Solo, Yogyakarta, Jakarta, Tangerang, Cikarang, Sulawesi hingga Kalimantan.
Total pemesanan juga tidak sedikit. Sekali pemesanan nilai barangnya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Yang terdiri dari cincin, gelang, kalung, dan anting.
“Pelanggan dari Sulawesi dulu pemesanan hingga Rp 58 juta. Terdiri dari dua cincin. Sedangkan dari Kalimantan memesan gelang rantai, cincin, dan anting senilai Rp 48 juta,” ujar perempuan berusia 46 tahun itu.
Bagi orang menganggap harga jual kerajinan ini terlalu mahal, mereka tak mengetahui betapa sulitnya proses sebelum berwujud seperti itu. Selain bahan baku yang tidak mudah didapat, juga skill atau keahlian membentuk tidak dimiliki sembarang orang.
Bahan baku yang digunakan adalah mutiara yang berasal dari kerang. Dengan usia panen yang harus matang. Jika mutiara diambil dari kerang yang masih muda, warna dan kualitasnya tidak sebagus mutiara berusia tua.
Selain itu, mutiara yang digunakan harus didatangkan dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kualitas kerang dari tempat itu bagus dan terjamin. “Mutiara yang bagus itu asli dari Lombok. Sebab disana (Lombok. Red) pusatnya,” ungkapnya.
Tak heran jika Pasutri ini seringkali membutuhkan waktu lama jika pelanggan meminta mutiara dengan warna dan kualitas terbaik. Selain bahan baku yang susah didapat, keahlian dalam pembuatan juga tidaklah mudah.
Menariknya, keahlian yang dimilik pasutri ini diperoleh secara otodidak. Keduanya benar-benar belajar dari nol. Itulah mengapa jasa yang ditawarkan dihargai cukup mahal.
“Namun demikian harga yang ditawarkan masih sesuai dengan hasil akhirnya. Kami pastikan pelanggan juga puas,” ungkapnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri.
Barang buatannya berada di kisaran harga Rp 100 ribu hingga belasan juta. Tergantung dari model dan tingkat kesulitan dari pembuatannya. Tetapi hasil akhirnya sesuai dengan keinginan customer. Meskipun peralatan yang digunakan serba terbatas. Sehingga waktu yang diperlukan dalam melayani orderan membutuhkan waktu cukup lama.
Setiap orderan yang diterimanya memiliki bentuk permintaan yang berbeda-beda. Sehingga mereka selalu belajar hal baru melalui pesanan pelanggan tersebut. Tak jarang satu pesanan perhiasan bisa 2 sampai 3 kali revisi. Itu terjadi karena pasutri ini menginginkan yang terbaik untuk pelanggannya.
Pesanan yang dibuat secara manual tentu membuatnya harus bekerja lebih keras. Hasilnya pun tidak bisa seratus persen rapi. Sebab perhiasannya bukan dibuat dari mesin.
Sebelum memulai usaha mutiara. Pasutri ini juga memiliki usaha di bidang kuliner. Yaitu usaha olahan jamur. Dengan total franchise mencapai puluhan outlet.
“Dulu sempat usaha olahan jamur. Mitranya bisa mencapai 30,” tandasnya.
Tampaknya pasutri ini memang gemar berwirausaha. Sebab sejak muda sudah mencoba berbagai jenis usaha. Baik makanan, fashion hingga perhiasan mutiara. Dan yang menjadi pelabuhan terakhir adalah usaha perhiasan mutiaranya.
Editor : Mahfud