Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengapa Jemaah Majelis Taklim Ibadallah yang Diasuh Gus Elham Selalu Istikomah?

Emilia Susanti • Kamis, 6 Maret 2025 | 17:32 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri- Majelis Taklim Ibadallah usianya masih setahun. Sangat muda bila dibanding jemaah pengajian lain.Namun, pengikutnya sudah ribuan.

Buktinya, kartu parkir yang dibuat sebanyak 2,5 ribu keping sampai habis!

Keistikomahan jemaah MT Ibadallah sangat tinggi. Bahkan, ketika hujan, mereka masih mau  datang di rutinan tiap malam Jumat itu.

Karena kekharismatikan Gus Elham? Sang kiai muda buru-buru menolak anggapan itu. Kemudian menyebut faktor nasab alias kerutunan yang membuat jemaahnya istikomah.

“Dulu, ngapunten, kakek saya itu terkenalnya adalah sosok kiai yang kharismatik, si Mbah Kiai Mudhofir Ilyas.

Dari dulu, dari mudanya, Mbah Kiai Mudhofir Ilyas itu sudah menjadi sosok yang dicari-cari oleh masyarakat ketika mereka mempunyai masalah,” dalih sang kiai muda.

Selanjutnya, Gus Elham pun bercerita. Memberikan gambaran tentang sosok kakeknya itu.

Yang dulunya, banyak masyarakat mencari Kiai Mudhofir untuk mencari solusi atas permasalahan-permasalahn yang didapat.

Gus Elham memberikan contoh. Kala itu, pernah ada seorang warga yang datang karena kehilangan sapi.

Setelah sowan sapi itu ternyata bisa ditemukan. Sayang,  Gus Elham tidak memberikan secara detail bagaimana proses penemuan sapi itu.

“Alhmadulillah karena pancen keyakinan si tamu kepada Mbah Kiai Mudhofir, lantaran Mbah Kiai Mudhofir, sapinya itu tadi ketemu. Seperti itu contone,” ceritanya.

Intinya, masyarakat zaman dulu masih mempercayai hal-hal yang berbau mistik. Mungkin bila diistilahkan, sosok Kiai Mudhofir dulunya adalah seorang dukun.

Banyak masyarakat datang kepadanya untuk mencari obat atau solusi untuk masalah.

Tak hanya dari masyarakat Kaliboto, Tarokan, melainkan juga daerah lain seperti Malang atau bahkan Sumatra. Semakin hari, orang yang mencari makin banyak.

“Kharismatik kan kayak yang berbau-bau apa ya, dukun, ngonowilah (seperti itulah, Red). Mistik seperti itu.

Zaman dulu lo ya, kalau jaman saiki wis gak payu ngono kuwi (zaman sekarang sudah tidak laku hal-hal seperti itu, Red),” tegas Gus Elham.

Karena itulah, sosok Kiai Mudhofir masih dikenang oleh masyarakat. Utamanya bagi warga Kaliboto, Tarokan.

Yang pada akhirnya, keturunannya masih tetap dicari hingga sekarang. Apalagi, keturunan dari Kiai Mudhofir Ilyas juga lulusan dari Pondok Lirboyo. Tak terkecuali Gus Elham.

“Saya tidak sengaja dilahirkan dari nasab seorang kiai. Saya tidak bisa memilih. Ya (banyaknya jemaah saat ini ada) karena guru-guru saya.

Barokahnya guru-guru saya, barokahnya kakek-kakek saya terdahulu,” terangnya.

Bagi Gus Elham, dirinya bukanlah apa-apa tanpa nasabnya. Lantaran nasab itu pula dia berusaha untuk terus belajar.

Walau ajakan ngaji yang dilakukannya tidak sama dengan para pendahulunya. Melainkan dengan caranya sendiri.

“Masyarakat sini itu melihat kakek saya, akhirnya cucunya pun dicari orang, gampangannya seperti itu. Jadi orang kumpul sebanyak itu, tidak lepas dari sosok Kiai Mudhofir Ilyas.

Apalah daya saya seumpama tidak menjadi cucu si Mbah Kiai Mudhofir Ilyas, pasti nggak bisa apa-apa saya,” jelasnya.

Ternyata, bukan hanya soal nasab yang membuat jemaahnya istikomah mengikuti pengajian rutinannya. Gus Elham menuturkan bahwa Nduwu menjadi alasannya.

Khususnya Nduwu Gede. Yang katanya bisa membuat orang betah.

Nduwu berawal dari kata dawaun. Masyarakat itu meyakini kalau lokasi sini itu sebagai obat. Dawaun itukan bahasa arab, arti dawaun adalah obat.

Karena orang Jawa tidak bisa mengucap dawaun karena tidak lanyah, akhirnya ngomongnya Nduwu,” ceritanya.

Gus Elham menjelaskan Nduwu sudah seperti tempat sakral bagi masyarakat sekitar. Bukan saja sebagai obat fisik, melainkan juga batin. Dan itu sudah berlaku sejak nenek moyangnya.

“Jadi orang-orang yang sumpek-sumpek, budrek-budrek, berangkat ke sini itu plong masalah. Di rumah banyak masalah, ke sini bisa plong.

Jadi itu salah satu yang membuat krasan (betah) karena terasa adem ayem (tenang, Red) pikiran dan hati. Jadi tempat itu pengaruh,” tekannya lagi.

Terakhir, Gus Elham mengaku akan terus melanjutkan rutinan dari MT Ibadallah. Intinya, dia ingin terus bermanfaat bagi orang banyak. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.   

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #guselham #pengajian #majelis #ceramah #Istikomah #jawapos