KEDIRI, JP Radar Kediri - Tidak melulu di bidang pertanian. Salah satu potensi warga Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan adalah memproduksi kerupuk dari tepung tapioka.
Tepatnya terbuat dari lamuk. Yakni endapan kedua dari sari ketela pada pembuatan tepung tapioka. Endapan ini kerap dibuang begitu saja oleh produsen tepung.
Usaha ini merupakan milik salah satu warga desa yang bernama Sri Wahyuni. “Sudah lima tahun lebih saya menelateni usaha ini,” ungkap perempuan yang kerap dipanggil Sri.
Dia bercerita bahwa emplek-emplek berbeda dengan kerupuk. Baik dari bahan dan olahannya.
“Kalau kerupuk tidak membutuhkan banyak bumbu, tapi kalau emplek-emplek ciri khasnya banyak bumbu, juga ditambah tepung lamuk,” terangnya.
Pembuatan emplek-emplek membutuhkan tapioka, tepung lamuk, udang rebon, cabai, bawang merah, bawang putih, serta penyedap rasa.
Prosesnya, tepung tapioka dan tepung lamuk dicampur. Sementara bumbu-bumbunya diblender. Lantas dari hasil blenderan tersebut dicampur dengan tapioka dan lamuk.
“Setelah dicampur ya langsung dibentuk adonan dan didang,” ujar istri Ribut ini. Setelah dikukus selama 15 hingga 30 menit, adonan emplek-emplek lamuk dipotong tipis-tipis.
Sebelum akhirnya adonan yang telah dipotong tipis-tipis ini dikeringkan dan digoreng. “Ini beraneka rasa. Ada yang balado, jagung manis, sapi panggang, dan rasa pedas,” papar perempuan berputra dua ini.
Rasa yang bervariasi ini agar berbeda. Pasalnya, selama ini emplek-emplek lamuk hanya memiliki rasa yang gurih. Selain itu, Sri juga mengemas emplek-empleknya menjadi tiga varian.
Yang bungkus kecil sekitar lima buah emplek-emplek harganya Rp 500. Sedangkan yang bungkus seperempat kilo harganya Rp 5.000. Serta emplek-emplek dalam bungkus setengah kilo harganya Rp 12.500.
Sementara itu, pemasaran emplek-emplek melalui mulut ke mulut dan media sosial. Tak ayal, usahanya menerima banyak pesanan dari berbagai daerah di Jawa Timur. “Ada yang dari Malang, Surabaya juga,” ucap Sri.
Diakui Sri, usaha yang telah menghasilkan omzet Rp 2,5 juta per bulan itu sempat diragukan masyarakat.
Pasalnya, tepung lamuk selama ini dikenal memiliki zat asam yang tinggi. Namun, menurut Sri, yang memiliki zat asam tinggi bukan industri rumahan seperti adonan yang dia buat.
Terbukti, sejak 2016 usahanya telah mendapat izin resmi dari dinas kesehatan. Sehingga emplek-emplek yang digandrungi banyak pelanggan luar kota itu aman. “Sudah ada izin resmi dari kesehatan juga,” pungkasnya.
Kembangkan Industri Tepung dan Kerupuk
Usaha home industri tepung terigu dan kerupuk berjalan turun-temurun di Desa Bulusari. Dua usaha ini berjalan beriringan. Sebab, para pengusaha kerupuk membutuhkan tepung dari pengusaha tepung.
“Tepungnya pengusaha-pengusaha kerupuk ya dari pengusaha tepung di desa kami, tapi seringkali kurang stok dan ambil juga dari luar,” terang Kepala Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, Agus Utomo.
Agus menjelaskan bahwa pembuatan tepung berasal dari singkong yang dikupas kemudian digiling.
Setelah digiling, singkong diambil sari atau airnya dengan cara diperas. Air perasan itu kemudian didiamkan dalam wadah agar mengendap.
Hasil endapan kemudian dijemur hingga kering. Bubuk endapan yang kering itulah yang dijadikan tepung.
“Para produsen tepung di sini tidak menjual hingga ke luar desa. Alasanya untuk mencukupi kebutuhan pengusaha kerupuk saja tepung mereka kurang,” imbuhnya.
Pengusaha tepung mendapatkan bahan baku singkong dari berbagai daerah. Meski di Desa Bulusari juga ada kebun singkong namun jumlahnya tidak mencukupi.
Dalam sehari ada sekitar delapan hingga sepuluh truk pengangkut singkong mengirim ke Desa Bulusari.
Padahal satu truk nya bisa mengangkut delapan ton singkong. Namun di saat musim penghujan seperti sekarang ini produksi tepung sedang terhenti. Sebab para pengusaha tak bisa menjemur tepungnya dengan baik.
Hal ini akan sangat mempengaruhi kualitas tepung. “Saat ini berhenti semua mbak karena tiap hari hujan,” imbuhnya.
Karenanya, pengusaha kerupuk memesan terigu dari luar desa. Perbandingan pengusaha kerupuk dengan tepung adalah 1 banding 2.
Pada musim kemarau lalu di Desa Bulusari ada 88 pengusaha kerupuk dan 44 pengusaha tepung.
Untuk pembuatan kerupuk sendiri caranya adalah tepung dicampur dulu dengan air panas dan bumbu. Lalu diaduk hingga menjadi adonan dan berbentuk gulungan-gulungan.
Setelah itu diiris berbentuk bulat menggunakan mesin pemotong. Kemudian di oven agar matang. Jika sudah lalu dijemur hingga kering.
Hasil olahan ini sudah terkenal dan kirim di mana-mana. Misalnya seperti ke pusat oleh-oleh atau hingga ke luar kota.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Andhika Attar Anindita