JP Radar Kediri- Antusiasme masyarakat terhadap pengajian Teras Gubuk yang diasuh Muhammad Abdurrahman Al Kautsar alias Gus Kautsar sangatlah tinggi. Tidak hanya mereka yang nyantri atau alumni Pondok Pesantren Al Falah, Mojo, Kabupaten Kediri saja, juga masyarakat umum.
Termasuk para penghobi Vespa yang memiliki beragam karakter. Setiap kali pengajian, jemaah yang datang bisa mencapai ribuan orang.
Salah satu pemikatnya adalah cara penyampaian materi ngaji yang enak. Apa yang diberikan oleh putera pasangan KH Nurul Huda Djazuli dan Ny Hj. Nafisah Huda tersebut sangat mudah diterima. Terutama oleh kalangan muda, kalangan milenial.
Walau demikian, melubernya jemaah di setiap pengajiannya itu bagi Gus Kautsar bukan sesuatu yang paling penting. Terutama dalam pengajian rutin Teras Gubuk.
"Nggak penting bagi saya. Saya juga gak pernah memperhatikan (jumlah jemaah). Artinya kedatangan ini tambah banyak atau kurang itu nggak penting karena kami ini santri. Karena menurut kami ngaji ya ngaji saja," dalihnya.
Berapa pun yang datang mengaji ya harus tetap mengaji. Entah itu banyak atau bahkan hanya dua orang saja.
"Mau orangnya dua ya suasananya ya harus begitu. Anaknya dua ratus suasananya ya harus begitu. Kan, gitu (jumlah yang hadir, Red) nggak pentinglah. Gak pernah pingin tau, gak pernah pingin ngecek," tegasnya.
Hanya saja, jika ingin ngaji dengan mengajak orang di luar santri, harus siap menjamu. Berbeda ketika mengaji khusus dengan santri yang notabene selalu mengaji ada atau tidaknya suguhan.
Berdasarkan pengalaman Jawa Pos Radar Kediri dalam kajian Teras Gubuk jemaahnya memang dijamu. Pada pada Rabu Wage lalu (26/2) yang datang diberi bungkusan nasi kepal.
Disediakan pula kopi yang bisa dinikmati sepuasnya. Selain mereka juga diberi lembaran salinan kitab Irsyadul Ibad yang akan dikaji.
"Dulu orang tua pernah dawuh kalau pengin ngaji di luar memang yang non-santri dan lain sebagainya, kamu harus siap menjamu mereka. Maka kami akan siapkan semampu kami. Kalau ada kopi ya kopi. Kalau ada makanan ya kami kasih makanan. Biasanya ya begitu. Semampu kitalah pokoknya nggak pengin ngoyo saja," aku bapak dari Ning Chasna Nayluver dan Gus Nayef Sambudigdo ini.
Terkait cara dakwah yang dibawakan, Gus Kautsar menolak menyebutnya sebagai dakwah.
Menurutnya, dia hanya menceritakan, membacakan atau mengungkapkan apa yang telah dipelajari dan didengar dari guru-gurunya.
"Tidak pernah niat berbuat berdakwah. Saya sering kali diasumsikan kalau saya masuk ke temen-temen Vespa misalnya, itu untuk menyebarkan dakwah di sana. Nggak, saya datang memang suka Vespa dulu tapi nggak kuat beli," akunya merendah.
Seperti kajian yang dilakukannya dalam rutinan Teras Gubuk, Gus Kautsar mengaku tidak punya niatan dakwah. Tak lain hanya untuk menambah teman.
Walau demikian, dia menegaskan punya niatan kuat untuk mengenalkan Ponpes Al Falah Ploso. Di manapun dan kapanpun itu.
"Tapi saya tidak pernah berniat berdakwah. Untuk apa gitu, nggak lah. Nggak mampu saya. Bukan kapasitas saya dan saya nggak punya kemampuan untuk itu," tandasnya merendah.
Soal metode ngajinya, yang bisa diterima semua kalangan termasuk anggota komunitas Vespa, Gus Kautsar menyebut tak berbeda dengan para pendahulunya. Hal-hal seperti itu memang sudah dilakukan keluarga dan pendahulunya.
Dia mencontohkan KH Munif Djazuli, sang paman. KH Munif merupakan ulama yang memang sering berdakwah kepada para berandalan.
"Orang-orang yang didakwahi itu seperti ini (seperti anak Vespa yang notabenenya jauh dari agama). Namun itu benar-benar dakwah. Benar-benar berada di jalur luar biasa. Kalau saya cuma cari teman saja. Kalau paman kami benar-benar, artinya langkah yang kami lakukan (bergaul dan berdakwah dengan komunitas vespa) tidak berbeda. Karena dulu orang tua kami biasa seperti itu. Orang tua kami bergaul dan berteman pada siapapun," jelas Gus Kautsar.
Dia mengatakan, seorang santri tidak mungkin terlalu jauh dari para pendahulunya.
"Saya sudah ngomong berulang kali, saya menolak penuh siapapun yang ngomong kalau saya perintis bukan pewaris. Kalau untuk urusan ngaji apalagi urusan berdakwah nggak bisa. Dakwah ini adalah warisan yang diwarisi dari guru, kemudian gurunya guru, dan gurunya sampai Rasulullah," tegasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah