Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Beginilah Kehidupan Wanita Lansia Asal Kediri Ini, Ingin Hidup Mandiri meski Renta dan Hidup Seorang Diri

Emilia Susanti • Jumat, 7 Februari 2025 | 16:00 WIB
LAYAK DIBANTU: Mbah Yem tinggal di rumah semipermanen di Keluarahan/Kecamatan Pare. Di usia tuanya dia tetap berusaha hidup mandiri.
LAYAK DIBANTU: Mbah Yem tinggal di rumah semipermanen di Keluarahan/Kecamatan Pare. Di usia tuanya dia tetap berusaha hidup mandiri.

JP Radar Kediri - Namanya Mujiem. Usianya 66 tahun. Tinggalnya di rumah yang sangat sederhana. Di lokasi yang sulit dijangkau.

Meskipun masih masuk wilayah ‘perkotaan’ tapi butuh upaya ekstra agar bisa menujunya.

Ukuran rumahnya tergolong mungil. Hanya lima kali tiga meter. Tentu tanpa desain rumit.

Hanya persegi panjang yang disekat jadi dua bagian. Satu untuk dapur satu lagu untuk tempat tidur.

Dindingnya? Dari triplek yang tak bisa dibilang bagus. Permukaannya bergelombang di sana-sini. Sebagian sudah mengelupas lapisan luarnya.

Belum lagi, sudah dicagaki-diberi penyangga-bambu. Sangat rawan ambruk!

Sakjane kepengen memperbaiki. Tapi golek tukang (pekerja bangunan, Red) angel (sulit, Red),” aku Mbah Yem, panggilan si empunya rumah.

Mengapa sulit? Ini terkait dengan akses menuju rumah Mbah Yem yang sulit. Bahkan, bagi yang belum pernah bertamu lebih baik membawa pemandu.

Kalau  mengandalkan Google Maps, dijamin bakal kesasar.

Dari jalan raya, rumah Mbah Yem tak bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor.

Harus berjalan kaki. Melewati jalan setapak dan sungai kecil.

Kalau bawa kendaraan bermotor, ya parkir di tepi jalan raya, Jalan Semeru, Kecamatan Pare.

Atau, menitipkannya pada warga yang berada di dekat Taman Baca Kemala Bhayangkari Kediri.

Setelahnya, baru berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit, barulah sampai ke gubuk Mbah Yem ini.

Di rumah ini Mbah Yem tinggal seorang diri. Meskipun dia sebenarnya memiliki anak.

Namanya Edi, usianya sekitar 30-an tahun. Namun, dia sudah berkeluarga dan tinggal serumah dengan mertuanya.

Mengapa tak ikut sang anak Mbah? “Campur besan (mertua anak, Red) itu gak nyaman,” aku Mbah Yem yang berkali-kali diminta pindah oleh sang anak ini.

Karena tak bisa membujuk ibunya agar pindah, Edi mengunjungi setiap hari.

Saat sore, untuk melihat kondisi sang orang tua.

Bagaimana menjalani hidup sendirian di hari tuanya itu? Bagi Mbah Yem, kesehariannya dia hadapi dengan biasa saja.

Tak pernah merasa sengsara. Selalu semringah alias berbahagia. Memberi sambutan hangat pada setiap orang yang ingin menemuinya.

Meskipun, setiap bicara sudah harus dengan suara keras dan nada tinggi.

Maklum, pendengarannya mulai menurun. Dan, dia selalu minta maaf dengan kondisinya tersebut.

Soal biaya hidup? “Teng peken (ke pasar, Red),” jawab Mbah Yem. Menyiratkan bahwa dia sehari-hari berjualan.

Apa yang dia jual? Apa saja yang bisa dia hasilkan dari sekitar tempat tinggalnya. Seringnya dia berjualan botok lamtoro dan simbukan.

Botok adalah makanan tradisional yang mencampur bahan-bahan itu dengan kelapa muda yang diparut. Kemudian dikukus dalam wadah daun pisang.

F3EBaca Juga: Dari Zero, Guru Asal Kediri Ini Sukses Jadi Pelatih E-Sport Indonesia

Kadang, Mbah Yem berjualan daun pisang. Kebetulan pohon-pohon pisang banyak tumbuh di sekitar rumah.

Atau, kalua ada yang menyuruhnya mencuci atau menyeterika, dia juga akan melayani.

Pokoke napa mawon (pokoknya apa saja, Red) asal kerja,” tegasnya.

Yang penting, dia berkali-kali menegaskan, pekerjaan itu halal. Juga tidak meminta-minta atau bahkan mencuri. Kalau diberi dia baru mau menerima.

Aja golek jalukan, aja golek utangan. We mengko lek utang gawe nyaur apa? Ya aja njupukan (jangan meminta-minta, jangan cari utangan. Nanti sulit membayarnya. Juga jangan mencuri, Red),” bebernya, seakan bernasihat.

Untungnya, Mbah Yem masuk data penerima bantuan dari pemerintah. Setiap bulan mendapat beras sekaligus uang tunai. Yang bisa menjadi penyambung hidupnya.

Dengan keadaan semacam itu, Mbah Yem merasa harus menikmati hidup dengan bersyukur.

Meskipun harapan memperbaiki rumah belum kesampaian. Juga, tidak ada fasilitas kamar mandi, cuci, dan kakus di huniannya yang sangat sederhana itu.

Bila mandi sang nenek harus berjalan ke sumber. Jaraknya 50 meteran dari rumah.

Ketika malam tiba, dan dia perlu ke tempat itu, senter adalah alatnya untuk menerangi jalan.

Bagaimana dengan soal minuman? Apakah juga memanfaatkan air sumber. Tidak.

Mbah Yem memilih membeli air mineral kemasan botol yang tidak terlalu besar.  Yang limbahnya bisa dia ganti dengan uang.

Baca Juga: Kisah Penjual Boneka Balon Keliling Asal Kediri yang Bisa Sekolahkan Anaknya hingga Sarjana

Botole dilumpukne, terus didol (botolnya dikumpulkan kemudian dijual, Red),” terangnya.

Sungguh, hidup yang dijalani Mbah Yem seperti anomali. Sebenarnya dia bisa tinggal dengan sang anak di lokasi yang lebih layak. Tapi, wanita renta ini memilih hidup sendiri.

Di antara pepohonan besar seperti belantara. Semua itu dijalaninya dengan senang hati. Tak takut hidup sendirian. Dan, kukuh untuk tidak menadahkan tangan!

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #gigih #Hidup Seorang Diri #rumah semi permanen #jawa pos #lansia