JP Radar Kediri - Hunian itu bernama Rumah Kemanusiaan Gusdurian. Lokasinya di Jalan Pangrango Pongan, Kecamatan Pare. Bisa dicari melalui Google Maps.
Namun, aksesnya tergolong sulit. Meskipun letaknya tak jauh dari keramaian. Harus melewati gang sempit yang jalannya bergelombang.
Bangunan ini terdiri dari bilik-bilik berjajar, mirip tempat kos. Ukurannya tak terlalu besar. Tapi, kalau untuk tempat tidur kapasitas dua orang masih cukup.
“Setidaknya tempat ini lebih layak dibandingkan harus tidur di emperan toko atau telantar di pinggir jalan,” ucap pemilik rumah, Anugerah Yunianto.
Bukan tanpa alasan bila pria 51 tahun yang karib disapa Anto ini berkata seperti itu. Penghuni bilik berdinding anyaman bambu, biasa disebut gedek, itu adalah para orang lanjut usia (lansia).
Hampir semuanya orang telantantar. Dibuang oleh keluarganya. Ditemukan di terminal, emperan toko, atau bahkan di hutan.
“Beberapa ada yang sengaja dititipkan keluarganya, dengan berbagai alasan,” jelas Anto.
Saat itu, para lansia yang ditampung di Rumah Kemanusiaan Gusdurian itu terlihat bersantai. Duduk di depan kamar.
“Total ada 35 lansia,” Anto menyebut jumlah penghuni.
Sambil menghela nafas sedikit panjang, Anto bercerita dia tak pernah membayangkan akan membangun tempat tinggal untuk lansia telantar seperti itu.
Meskipun dia menampung satu atau dua lansia. Ternyata, lama-lama jumlah yang harus dia tampung bertambah. Akhirnya harus membuat kamar sederhana dari gedek.
"Pokoknya tidak kepanasan tidak kehujanan," katanya.
Baca Juga: Dari Zero, Guru Asal Kediri Ini Sukses Jadi Pelatih E-Sport Indonesia
Merawat puluhan lansia tentu tidak mudah. Beruntung, adik dan anak-anaknya memberi dukungan.
Walaupun sebenarnya sang adik, Yunita Maria, sempat menentang habis-habisan. Sampai diwarnai pertengkaran hebat akibat perbedaan pendapat itu.
"Dulu ya sering ngersula (mengeluh). Sewajarnya orang ingin punya rumah sendiri, fokus rawat anak, kerja untuk diri sendiri. Dipikir nalar itu nggak bisa (menampung dan menghidupi lansia telantar dalam jumlah banyak). Lha mas ini (Anto, Red) orangnya sabar. Kalau aku jahat," ucap wanita 45 tahun ini menggebu-gebu. Menceritakan bagaimana dia berselisih paham dengan sang kakak.
Meskipun marah dan tak sependapat, toh Nita tetap saja dengan ringan tangan membantu.
Terutama untuk urusan dapur. Turun langsung memasak tiga kali sehari, pagi, siang, dan sore.
Menentukan menu makan sendiri. Selalu berpikir apa yang pas untuk konsumsi orang tua.
Apa yang dilakukan kakak adik ini memang tak biasa. Meski kondisi ekonomi juga tak pasti, mereka nekat merawat puluhan lansia dengan segala keribetannya.
Lalu, dari mana dana yang mereka dapat untuk membangun dan menghidupi para lansia ini?
"Ada donatur," jawab Antok.
Meski begitu, belum ada donatur yang rutin memberikan bantuan setiap bulan. Tetapi bantuan tetap saja datang.
Sehingga belum pernah menghadapi kondisi buruk sampai tidak ada dana.
Di sisi lain, keduanya masih bisa menghasilkan uang. Antok memiliki usaha isi ulang air minum, dibantu oleh lansia yang masih sehat.
Sementara, Nita juga memiliki keahlian memasak dan memijat.
Tentu saja, mengelola tempat untuk para lansia tak bisa disebut mudah. Selain harus merawat orang-orang tua dengan berbagai kondisi, perlu juga biaya operasional yang harus dikeluarkan setiap bulannya.
Bila dirinci, Nita membutuhkan beras 10 - 12 kilogram dalam sehari. Lalu, dia juga memerlukan Rp 300 - Rp 500 ribu dalam seminggu untuk menyediakan masakan sehari-hari.
Untuk listrik, Antok harus merogoh kocek Rp 600 - Rp 700 ribu setiap bulannya. Dan masih banyak pengeluaran-pengeluaran lainnya. Utamanya saat ada yang sakit.
"Karena di sini nggak ada ambulans ya kami bawa pakai bentor, pakai sepeda motor, becak," tambahnya sembari menyebut lansia asli Kabupaten Kediri akan mendapat bantua biaya saat dibawa ke RSKK.
Ya, salah satu harapan yang diharapkan oleh Antok adalah fasilitas ambulans. Dia pun mengatakan sudah membuat pengajuan ke Pemerintah Kabupaten Kediri tahun lalu.
Hanya saja, hingga kini fasilitas itu belum didapatkannya.
Antok ingin rumah untuk para lansia ini terus ada, dari generasi ke generasi. Terbaru, dia berencana membangun kamar-kamar baru di sebuah lahan yang tak jauh dari tempat tinggal yang sekarang.
Karena dia merasa trenyuh ketika terpaksa menolak lansia yang ingin tinggal tapi ditolak akibat keterbatasan tempat.
"Saya menolak sembilan lansia. Rasanya miris. Kalau saya terima terus di sini nggak ada tempat, nanti di sini jadi telantar," akunya.
Lahan yang dimaksud Antok itu hanya berjarak sekitar 50 meter. Antok mengaku lokasi rumah untuk lansia itu tidak jauh-jauh agar tetap bisa memantau.
Dia mengaku ingin membuat tempat yang aman dan nyaman untuk para lansia. Tak hanya itu, dia juga merencanakan ada tempat untuk ruang usaha ataupun tempat berkebun sederhana.
Yang mana, para lansia memiliki aktivitas positif sekaligus produktif.
"Harapannya bisa terealisasi tahun ini," katanya sembari menyebut pihaknya membuka lebar pihak-pihak yang ingin bekerja sama.
Terlepas dari itu, bapak tiga anak ini selalu menekankan dalam wawancara mengenai pentingnya menghargai orang tua.
Sebabnya, berbagai para lansia yang tinggal dengannya memiliki berbagai cerita yang menyayat hati.
Fakta yang terjadi di rumah singgahnya mengartikan ada beberapa orang yang mungkin sudah tidak memiliki nilai-nilai.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah