JP Radar Kediri - Deretan tanaman langsung tertumbuk mata ketika melewati jalanan di Dusun Jombangan. Beragam sayuran, mulai bawang, sawi, hingga pakcoy.
Ada di kanan dan kiri jalan. Sebagian berada dalam polybag. Sebagian lagi tumbuh di pot berbahan plastik.
Pot-pot dari plastik itu sangat menggoda perhatian. Bukan saja terbuat dari barang bekas-botol bekas air minum dalam kemasan (AMDK) ukuran besar-, bentuknya pun unik.
Ada yang ditempatkan tidur. Kemudian dilubangi di bagian punggung, sebagai lubang tanam. Sedangkan yang ujung botol yang berlubang ditambahi belalai, dari bekas selang pembuangan mesin cuci.
Diberi rangka kawat di dalamnya. Lengkap dengan dua kuping besar di kiri dan kanan, membuat pot ini berbentuk gajah.
“Pot sampai hiasan bunga matahari itu terbuat dari botol air minum kemasan,” terang Ismiati, salah seorang warga dusun yang berada di Desa Tertek, Kecamatan Pare ini.
Hiasan bunga matahari yang ditunjuk wanita itu berada di depan rumahnya. Terbuat dari bilah-bilah botol bekas AMDK. Dipadu dengan bambu sebagai batangnya.
Ornamen ini ada di depan setiap rumah di dusun ini.
Dusun ini memang khas. Mampu memanfaatkan barang-barang yang tidak terpakai menjadi sesuatu yang berguna.
Tidak lagi menumpuk di tempat pembuangan sampah. Dan, Ismiati-lah inisiator kegiatan ini. Bersama dengan sang suami, Darsino.
“Awalnya, dulu, karena ada lomba desa inovasi. Yang mengangkat program gemar tabur,” terang perempuan yang juga ketua kelompok wanita tani (KWT) di desanya, Sinar Gemilang.
Program gemar tabur adalah gerakan masyarakat menanam buah dan sayur. Wadahnya, di polybag.
Agar lebih menarik, polybag itu kemudian ditempatkan di dalam pot yang terbuat dari bekas botol AMDK.
Usai lomba, aktivitas positif itu berlanjut. Sayur hasil tanam terus terjual. Bahkan, pot-pot bunga dari botol bekas juga banyak yang terjual.
Pembelinya adalah orang-orang yang melintasi dusun tersebut. Yang terpikat dengan keunikan bentuk pot.
“Waktu itu botol bekas AMDK masih langka. Terpaksa beli ke pengepul rosok,” Darsino menimpali cerita sang istri.
Awalnya, harga botol bekas itu hanya Rp 1.000. Ketika tahu bahwa digunakan untuk kerajinan, si pengepul menaikkan harganya.
Menjadi Rp 5 ribu per botol. Karena memang laku, mereka pun tetap membeli.
Rumah tak berpagar milik pasutri ini menjadi tempat percontohan membuat kerajinan pot. Akhirnya, banyak warga desa yang ikut membuat kerajinan serupa.
Jumlahnya hingga sepuluh orang. Toh, pasutri ini tak merasa tersaingi. Karena setiap perajin punya kekhasan karya sendiri-sendiri.
“Kalau pesanan terlalu banyak, atau saya tidak bias, langsung saya arahkan ke teman-teman pembuat pot tersebut,” kata laki-laki yang juga ketua rukun tetangga (RT) ini.
Kini, upaya pemanfaatan sampah tersebut meluas. Tak hanya botol bekas AMDK saja.
Juga sampah-sampah plastik lain. Seperti bekas kresek pembungkus makanan dan minuman serta lainnya.
“Sampah plastik itu dipotong kecil-kecil, dijadikan ecobrick,” terang ibu empat anak ini.
Ecobrick adalah membuat benda keras dari bahan plastik bekas. Cacahan plastik tersebut dimasukkan ke dalam botol plastik.
Botol-botol yang telah terisi penuh dan mampat itu yang dijadikan bahan kerajinan.
“Bisa dibuat kursi, meja, rak, dan hiasan dinding,” jelas Darsino.
Dalam upaya mengumpulkan sampah plastik itu, Darsino dan istrinya tak tanggung-tanggung.
Tak hanya dari warung di lingkungannya, juga ketika bepergian mereka tak segan membawa pulang sampah-sampah tersebut.
Pun, ketika singgah di warung, Ismiati tak segan meminta bekas bungkus makanan dan minuman.
Sayang, khusus untuk ecobrick, pasutri ini belum berani menerima pesanan. Penyebabnya adalah kurangnya tenaga perajin.
Namun, dia tak segan bila ada yang meminta belajar membuat kerajinan dari ecobrick.
Upaya pasutri ini menarik perhatian dinas lingkungan hidup kebersihan dan pertamanan (DLHKP).
Lembaga itu meminta mereka memberi pelatihan di desa lain. Juga mengisi pelatihan kerajinan tangan di beberapa sekolah.
Selain fokus pada pengolahan limbah sampah botol dan bungkus makanan, Darsino juga memanfaatkan sampah bekas makanan untuk budidaya maggot.
Larva dari lalat black soldier fly (BSF) itu kemudian digunakan untuk pakan lele.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah