JP Radar Kediri - Namanya Emil Wahyudiono. Pria ini menjadi nakhoda baru di Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri.
Meskipun demikian, keluarganya tetap berada di Jember. Tak mengikutinya di tempat kerjanya yang baru.
Toh, menjalani hidup jauh dengan keluarga tak mengagetkannya. Apalagi, dia sudah berkali-kali pindah tugas.
Di Nusa Tenggara Barat, Jember, Lumajang, Surabaya, dan Trenggalek. Sebelum akhirnya berlabuh di Kota Kediri.
“Penempatan pertama saya tahun 1996,” ujarnya saat ditemui langsung di ruang kerjanya pada Kamis (5/12) lalu.
Di ruangan itu selalu tersaji air kemasan. Tak hanya yang ada di meja tamu.
Juga beberapa botol lagi di mejanya. Pasalnya, Emil tergolong suka minum air putih.
“Air putih bagus untuk kesehatan,” ucapnya. Sepanjang wawancara, beberapa kali dia terlihat menenggak air putih tersebut.
Mengenalnya lebih dalam, kesibukan Emil ternyata tidak hanya di kantor. Tidak hanya sebagai Kepala BPS Kota Kediri. Di rumah, Emil menjalankan bisnis bersama istrinya.
Tepatnya bisnis bahan makanan organik yang dimulai sejak 2018 lalu. Di platform penjualan online, dia menamainya dengan ‘Tumbuh Organik Official Store’.
Produknya berupa tepung roti bebas gluten, tepung donat bebas gluten, dan lainnya.
“Awalnya karena anak saya alergi, kalau salah makan bisa sesak. Intinya makanan pabrikan nggak bisa. Jadi dia harus makan-makanan dari bahan organik,” ujar bapak tiga anak ini.
Jauh sebelumnya, Emil sudah berganti-ganti usaha. Dirinya dan istri pernah membuka lapak di alun-alun untuk berjualan kerudung.
Selain itu, dirinya juga pernah membuka usaha perawatan kecantikan.
“Motivasi berbisnis itu tidak hanya profit. Lebih ke berbagi, mengajak anak-anak untuk mau bekerja kalau ingin mendapat sesuatu. Harus tahu pangsa pasarnya,” jelasnya.
Emil memang orang yang tak suka berdiam diri. Di hari kerjanya, dia akan berupaya menyelesaikan semua tanggung jawabnya sebagai Kepala BPS Kota Kediri.
Pasalnya, Emil bisa disebut dengan family man. Sabtu dan Minggu akan dia habiskan bersama keluarga.
Kalaupun ada tugas mendesak, dia akan tetap pulang meski hanya beberapa jam.
“Pernah ada acara Sabtu acara. Setengah lima sore saya pulang, sampai Jember sekitar jam dua dini hari. Tidur sebentar, main sebentar dengan anak-anak, siang balik lagi,” akunya.
Sementara, dalam bekerja, Emil tak ingin menjadi orang yang kaku. Dia bahkan tak akan ragu terjun ke lapangan tanpa berpakaian dinas.
Menurutnya, hal itu adalah bentuk keluwesannya dalam bekerja.
Tak melulu harus secara formal untuk menggali data. Asalkan target pekerjaannya tercapai.
“Ya naik motoran biasa, pakai jaket. Beli pecel terus nanya-nanya, kok bisa awalnya jualan pecel, karena apa. Lalu ke pasar belanja sekaligus menggali data harga-harga. Untuk mengkroscek data dan menjaga kualitas data yang sudah saya terima dari tim,” cerita pria yang menggemari pecel sebelum ditempatkan di Kota Kediri ini.
Terakhir, dalam memimpin, Emil menerapkan prinsip Reko, Rampung, dan Rukun. Dia menyebutnya dengan 3R.
Artinya, harus ada perencanaan dalam bekerja. Kemudian dari perencanaan itu harus bisa tuntaskan.
Tak lupa, semuanya harus dilakukan dengan rukun. Yakni mengutamakan persaudaraan antara satu dengan yang lain.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah