JP Radar Kediri - Barisan kirab itu melintasi aspal jalanan desa. Dipimpin seorang penari perempuan.
Berkebaya dan berselendang putih, tangan sang penari bergerak gemulai. Selaras dengan langkah pelannya di depan tiga sesepuh yang mengekor di belakangnya.
Tiga pria berbeskap hitam dan berblangkon cokelat itu membawa uba rampe sesajen. Yang berjenggot putih panjang tangan kirinya menopang anglo dengan api yang membara.
Berbincang dengan rekannya pembawa bunga sesajen sepanjang perjalanan.
Di belakang mereka ada dua baris perempuan yang masing-masing membawa keranjang bambu berisi bunga bercampur beras kuning.
Yang mereka tebar sambil berjalan. Diikuti barisan bocah berpakaian adat.
Setelah itu ada dua andong, kereta kuda yang beroda empat. Salah satunya ditumpangi oleh Kepala Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren.
Setelah itu, barisan warga yang membopong aneka tumpeng raksasa membuntuti. Tumpeng itu berisi aneka sayur, buah, dan beragam makanan.
Mereka adalah warga Lingkungan Kwangkalan, salah satu lingkungan di Kelurahan Tempurejo, yang tengah menggelar kirab budaya. Tapi, tidak ada gemerlap hiasan berlebihan.
Tidak ada pula sound system menggelegar yang menggetarkan kaca.
“Kalau kirab seperti sound horeg itu bagian dari budaya sekarang. Ya nggak apa-apa. Tapi kalau kami tetap sakral, melestarikan budaya,” ujar Sudarsono, ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sumber Banteng.
Memang, setiap tahun sedekah bumi dan kirab seperti itu rutin digelar. Dan, hingga saat ini, mereka konsisten mengusung format tradisional yang sakral dalam pelaksanaannya.
“Ini wujud upaya kami melestarikan kebudayaan. Insya Allah dengan adanya wisata ini, bisa berkelanjutan juga budayanya,”
Kirab budaya tersebut berakhir di Sumber Banteng, salah satu destinasi wisata di Kelurahan Tempurejo.
Mata air yang berada di Kelurahan Tempurejo itu masih menjadi pusat sendi kehidupan wilayah ini. Pengelolaan sumber air itu diselaraskan dengan upaya nguri-uri budaya Jawa.
Apalagi, dari sumber air itupula, sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat setempat bisa terus hidup.
“Kami percaya, dengan sedekah bumi, berkah melimpah,” katanya.
Demi kesakralan, prosesi dipimpin pegiat budaya yang datang secara khusus. Berasal dari abdi dalem Keraton Surakarta.
Meskipun demikian, daya tarik kirab ini sangat kuat bagi warga. Tak hanya di Lingkungan Kwangkalan, juga dari tempat lain. Tak segan mereka ikut berebut sayuran dari tumpeng raksasa yang diarak.
“Alhamdulillah ini tadi dapat buah-buahan. Paling banyak bengkuang,” ujar Nur Kofifah, warga setempat yang menenteng satu kresek besar berisi hasil berebutnya.
“Ini semua hasil bumi dari apa yang masyarakat jual. Jadi apa-apa yang dia jual, dia sedekahkan. Kerja samalah, gotong royong untuk dibuat gunungan,” sambung Sudarsono lagi, sembari menyebut, produk pertanian seperti bengkuang dan singkong termasuk paling banyak diproduksi di daerah tersebut.
Sedekah bumi itu juga dibarengi dengan pembersihan mata air. Harapannya, mata air itu bisa terus menghidupi masyarakat sekitar.
Nilai luhur itu agaknya juga masih diyakini masyarakat hingga saat ini. Dengan melestarikan mata air melalui sedekah bumi, mereka percaya berkah berikutnya dari bumi juga akan lebih melimpah kembali.
Salah satunya melalui hasil panen buah dan sayur di sekitar Sumber Banteng.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah