JP Radar Kediri - Ruang pendingin, atau cold storage, itu lebarnya sekitar tujuh meter. Dindingnya berbahan galvanis, berwarna putih.
Dengan pintu selebar satu meteran. Ketika pintu terbuka, terkepul embun putih yang terasa dingin, anyles, di kulit.
Di dalamnya, ada tumpukan daging ayam beku. Jumlahnya ribuan ekor, dengan total berat mencapai 60 ton. Ditempatkan dalam karung, yang setiap karungnya berisi 25-30 pak daging ayam potong beku.
“Bergantung ukurannya, besar kecilnya,” terang sang pemilik, drh Nila Ni’ama Aza, sambil menunjukkan satu pak ayam potong beku, yang kemasannya bertuliskan SK.
Wanita yang meraih gelar dokter hewan dari Universitas Airlangga ini adalah pemilik rumah potong ayam. Lokasinya di Desa Menang, Kecamatan Pagu.
Hebatnya, rumah potong ayamnya satu-satunya di Kediri yang menjadi rekanan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dalam program penanganan stunting.
Keterlibatannya dalam penyuplai daging ayam untuk Bapanas itu terjadi sejak 2020. Namun, saat itu dia hanya sebagai pemasok untuk rekanan badan tersebut.
Baru pada 2023 dia menjadi rekanan langsung.
“Karena tendernya, ternyata, harus dengan rumah potong ayamnya langsung. Kebetulan, semua izin sudah lengkap,” sebutnya.
Sejak itulah dia menjadi satu-satunya pemasok dari Kediri untuk program stunting. Yang, menurutnya, kebutuhannya mencapai 47 juta ekor per tahun.
Sebagai rekanan, menurut Nala, dia harus memenuhi kriteria ketat yang diterapkan pihak Bapanas. Termasuk, rumah potong memiliki peternakan ayam sendiri.
Dan kebetulan, dia memang sudah memiliki beberapa kandang ayam. Yang lokasinya terpisah dengan rumah potong.
Baca Juga: Pemdes Belor, Purwoasri, Kediri Beri Pelatihan Pembuatan Kue untuk Berdayakan Kaum Perempuan
“Pengecekan kualitasnya juga sangat ketat,” ucap wanita bersuamikan Muhammad Iriyanto ini.
Selain memiliki rumah potong, Nala juga punya 30-an peternakan ayam potong. Yang tersebar di sepuluh lokasi. Di Kediri, Tulungagung, Madiun, dan Jombang.
Selain itu, sang suami juga membuka bisnis pakan ternak. Bahkan, awal bisnisnya bermula dari toko pakan ternak itu.
Perjalan bisnis wanita ini juga tak mulus. Beberapa kali sempat jatuh-bangun. Bahkan, pernah merasakan merugi Rp 400 juta ketika mengawali dengan ayam Jawa super, yang biasa disebut joper.
Ketika pandemi, bisnis Nala juga sempat terpengaruh. Jatuhnya harga ayam saat itu membuatnya merugi hingga hampir Rp 4 miliar. Menyebabkan dia kehilangan empat aset, yang di antaranya berupa tanah.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel
Editor : Anwar Bahar Basalamah