KEDIRI, JP Radar Kediri- Juwet adalah salah satu desa di Kecamatan Kunjang. Desa ini memiliki tanah yang subur.
Jadi tidak heran sektor pertanian di sana bagus. Sebab hampir semua tanaman cocok ditanam.
Persawahan di Desa Juwet cocok ditanami oleh berbagai jenis tanaman. Baik tanaman padi hingga sayuran. Hal tersebut didukung oleh tanah yang subur dan perairan yang lancar.
“Tanaman padi atau sayur mayur dapat tumbuh subur di desa ini,” terang Kasi Pelayanan Desa Juwet Sunarko.
Dia menjelaskan mayoritas warga di sana merupakan petani. Setidaknya ada sekitar 80 persen.
Sunarko menerangkan bahwa tak hanya padi yang menjadi komoditas andalan di sana. Beberapa sayuran juga banyak ditanam.
Seperti cabai, brokoli, kangkung, terong, dan tomat. “Sayur-sayuran di desa kami juga cukup unggul,” ucapnya.
Bahkan, penjualan sayur-sayuran dari desa ini tidak hanya di Kediri saja. Kebanyakan malah ke luar Kediri.
Penjualan hingga luar kota ini karena Desa Juwet memiliki penampungan sayur sendiri. Sehingga tengkulak-tengkulak langsung datang ke sana.
Alhasil, sayur asal Desa Juwet langsung dibawa ke luar kota untuk dijual mulai dari Pasar Ploso, Jombang hingga ke Krian, Sidoarjo.
Sektor pertanian ini cukup membantu perekonomian warga Juwet. Walau begitu, Sunarko menerangkan mayoritas petani desanya masih bercocok tanam padi. Mencapai sekitar 80 persen. Sedangkan sisanya sayuran.
Dengan potensi yang besar ini pihak desa terus berupaya melakukan peningkatan kuantitas dan kualitas pertanian mereka. “Kami terus mencoba meningkatkan pertanian di desa kami,” pungkasnya.
Lestarikan Tradisi Nyadran Menyambut Bulan Sura
Acara nyadran di Desa Juwet menjadi agenda tahunan. Tradisi ini dilakukan untuk menyambut datangnya bulan Sura. Serta wujud rasa syukur atas berkah yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.
“Tradisi Nyadran ini dilakukan setiap tahun. Setelah nyadran akan dilanjut dengan kesenian wayang kulit,” jelas Ngatini, salah satu tetua di Desa Juwet.
Baca Juga: Unik! Air di Sumber Urung-Urung Desa Lamong, Badas, Kabupaten Kediri Berubah Warna ketika Sore Hari
Warga meyakini jika tidak ada pertunjukan wayang maka akan datang bala atau musibah. “Ini merupakan suatu tradisi dan kita sebagai sesama manusia juga harus bisa saling menghargai,” ucapnya.
Terakhir adalah kegiatan doa bersama. Selanjutnya, masyarakat akan makan bersama dengan makanan yang telah dibawa.
“Tradisi nyadran ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah,” tutur Ngatini.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah