JP Radar Kediri- antara berbagai karya busana dari beberapa negara di dunia, Batik Panji dan Tenun Wikara mulai menunjukkan pamornya. Jumat (4/10) lalu, dua produk wastra asli Kabupaten Kediri itu mejeng di panggung internasional. Tepatnya di Lao Fashion Week (LFW) 2024 yang digelar di Laos dan Prancis.
Adalah Embran Nawawi, perancang busana yang membawa kain wastra itu ke kancah internasional. Selama 1 – 4 Oktober 2024, produk budaya lokal itu dipamerkan di event yang berlangsung di Prancis dan Laos tersebut.
“Ada beberapa jenis batik yang kami bawa. Termasuk batik kontemporer yang menampilkan Batik Panji dan Tenun Wikara ini,” ungkap Embran.
Desainer nasional itu memang dikenal dengan produk-produk batiknya. Tahun ini merupakan tahun ke sepuluh dia menghadiri event tersebut. Setiap tahunnya dia selalu membawa produk batik baru dari daerah yang berbeda.
Tahun ini, batik dari Kabupaten Kediri, Pamekasan, dan Tulungagung jadi beberapa yang ikut mejeng di sana.
Berbagai produk wastra itu tampil lewat berbagai mode busana. Salah satunya mode casual atau baju santai dan koleksi street fashion. Termasuk di antaranya adalah dua koleksi busana dari perpaduan kain Batik Panji dan Tenun Wikara khas Kabupaten Kediri yang dikemas dalam tampilan busana ready to wear ala anak muda.
“Ini memang PR besar kami membuat kain tradisional menjadi fashion modern yang juga harus wearable,” tandasnya.
Diakui Embran, persiapannya menghadapi gelaran yang diikuti lebih dari sepuluh negara di dunia itu cukup singkat. Baju-baju yang dibawa pun ditentukan dalam waktu tiga hari sebelum keberangkatan menuju Laos.
Namun, cepatnya waktu berlalu di jadwal yang padat itu terbayarkan dengan reaksi penonton yang antusias dengan karya wastra Nusantara itu.
Terlebih, rangkaian acara itu bertepatan pula dengan Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2024. Bisa merayakan hari batik di depan delegasi negara-negara di dunia tentu sangat membanggakan bagi pria yang juga pernah ditunjuk sebagai pengarah acara Kediri Fashion Batik Festival (KFBF) 2023 dan 2024 itu.
“Mereka kemarin sampai tutup mulut semua (tidak bisa menghujat, Red). Karena mereka baru lihat ternyata batik bisa dipakai fashion casual, baju street, baju berlibur, baju seni, dan bisa dijadikan baju mewah,” ungkapnya sembari menyebut tidak sedikit pula duta besar berbagai negara yang menawar untuk membeli produk batiknya.
Koleksi berbahan Batik Panji dan Tenun Wikara itu langsung ditawar oleh Dubes Jepang. Wastra asli Kabupaten Kediri itu memang menjadi pusat perhatian di antara koleksi-koleksinya yang lain. Praktis, eksistensi kain-kain tradisional pun semakin naik kelas lewat gelaran tersebut.
“Mereka kaget waktu lihat, dan pas masuk berita TVnya Laos, baju kita juga di-shoot terus detailnya karena unik,” kenangnya sambil tersenyum bangga.
Hal tersebut membuktikan jika semakin banyak masyarakat internasional yang membuka mata dengan eksistensi batik. Termasuk setelah peragaan busana berlangsung, banyak yang memberikan ucapan selamat hari batik kepada desainer asal Jakarta itu.
“Jadi kita benar-benar merayakan hari batik dan mereka melihat bahwa batik bisa dibuat baju apa saja. Bukan sekedar tempel-tempel jadi baju. Dan yang jelas, nama Indonesia jadi lebih harum kemarin,” ungkapnya.
Sebelumnya, koleksi busana yang menggabungkan kain Batik Panji dan Tenun Wikara itu lebih dulu tampil di ajang Kediri Fashion Batik Festival (KFBF) 2024. Saat itu, dua koleksi tersebut dikenakan oleh muse KFBF 2024 sebagai ikon event busana terbesar di Kabupaten Kediri yang digagas oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dan Dinas Perdagangan Kabupaten Kediri.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah