Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kreasi Olahan Tahu Takwanya Warga Desa Mlati, Mojo, Kabupaten Kediri Jadi Produk Unggulan

Habibaham Anisa Muktiara • Selasa, 1 Oktober 2024 | 02:50 WIB
TAHU KUNING: Produksi tahu kuning asli Desa Mlati, Mojo, Kediri jadi unggulan.
TAHU KUNING: Produksi tahu kuning asli Desa Mlati, Mojo, Kediri jadi unggulan.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Kecamatan Mojo memang terkenal dengan usaha warganya dibidang produksi tahu. Salah satunya di Desa Mlati.

Usaha tahu takwanya sudah mampu dipasarkan ke luar Kabupaten Kediri. Seperti usaha tahu takwa milik Bahrudin, yang ia dirikan sejak 2015 lalu.

“Sebenernya sudah lama usaha ini, hanya kalau punya pabrik sendiri memang baru 2015,” terang suami dari Sriwulan ini.

Bahrudin memiliki niat untuk belajar. Dari sana, dia mampu mendirikan usaha sendiri serta mengajarkan ilmunya pada orang lain.

Tahu yang diberi label DTT ini mempekerjakan dua orang yang merupakan warga desa Mlati.

“Sebenarnya masih ada beberapa lagi, hanya bagiannya berbeda. Kalo untuk pabrik memang dua,” terang ayah tiga anak ini.

Pemasaran produk tahu takwa asli Desa Mlati ini sudah sampai Blitar, Tuban, dan Jombang.

Yang membuatnya dikenal sampai luar Kediri karena Bahrudin pernah mengikuti event-event tentang tahu. Dia juga menjelaskan bila usaha tahu takwanya ini memiliki sertifikat.

Selain itu dia juga mengaku bila tantangan dalam produksi tahu takwa adalah persaingannya. Sehingga dia memutuskan untuk berinovasi dengan tahu takwanya.

Jaga Lingkungan dan Kerukunan, Warga Dirikan Bank Sampah

Keberadaan Bank Sampah di Desa Mlati merupakan bentuk pengabdian masyarakat kepada lingkungan.

Namun kelompok ini tidak semata-mata hanya memperhatikan kebersihan semata. Mereka juga memanfaatkan wadah tersebut untuk menjaga kerukunan.

Dwi Rahmawati, 38, merupakan pentolan kelompok bank sampah Mlati Asri. Kelompok ini sudah berdiri sejak 2 Januari 2018. Ini menjadi salah satu pengabdian warga setempat kepada lingkungan.

Setelah disediakan bank sampah, masyarakat yang ingin membuang sampah tidak kesulitan. Lantaran sudah disiapkan tempat terpisah sesuai jenis sampahnya.

Seperti plastik, kardus, dan sebagainya. “Agar sampah-sampah tidak bercampur, kami terlebih dahulu memilahnya," terang Dwi.

Pengumpulan sampah dilakukan dua hari setiap minggunya. “Saya keliling untuk mengumpulkan sampah, tanpa ada pungutan biaya,” terang Dwi.

Sedangkan barang-barang yang masih bisa digunakan seperti kardus, koran, hingga kain perca disulap menjadi prakarya. Menjadi kotak seserahan, miniatur kapal, hingga lampion.

Rupanya ada cerita lain dari pembentukan bank sampah. Dulunya, warga sekitar cenderung membakar sampah yang tidak bisa dijual ke tukang rosok. Hal tersebut membuat asap pembakaran sampah mencemari udara.

Namun, setelah ada bank sampah warga dapat menabung dari sampah yang mereka kumpulkan.

Warga jadi memiliki tabungan dari program tersebut. Uang tabungan tersebut bahkan dapat digunakan untuk pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Bank Sampah Mlati Asri tidak hanya mengambil dari warga desa saja. Namun juga mengambil dari sekolah yang berada di sekitar desa.

"Kami ingin membuat lingkungan yang bersih bersama masyarakat sekitar," tandasnya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #radar #warga #kediri #takwa #mojo #Olahan #tahu #desa #produk #unggulan #Kreasi #Mlati #jawa pos