KEDIRI, JP Radar Kediri- Batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia. Seiring berjalannya waktu, jenisnya semakin beragam.
Seperti batik dengan pewarna alami. Seperti usaha batik yang digeluti oleh Wiwin Munawaroh, salah satu warga Desa Surat.
“Motif yang saya buat ini kebanyakan bertema flora dan fauna,” jelas Munawaroh.
Dia tidak menggunakan pewarna sintetis karena ingin menekan biaya produksi selama ini.
Tidak hanya itu saja, bahan untuk membuat pewarna alami dapat dengan mudah ditemukan. Salah satunya dari pengolahan kayu yang tidak jauh dari rumahnya.
“Bahan yang kami gunakan untuk pembuatan warna mulai dari kulit akar mengkudu, kulit mangga, dan kulit pohon,” terang perempuan kelahiran 1976 ini.
Selain itu, biasanya dia mendapatkan akar pohon dari lokasi pelebaran jalan. Dalam pembuatan pewarna alami memang memerlukan proses yang lama.
Sebelum dilakukan proses perebusan, bahan pewarna terlebih dulu ditumbuk. Setelah bahan halus, baru dimasukan air untuk direbus. Perebusan dilakukan dengan menggunakan tungku berbahan bakar kayu.
“Untuk pembuatan warna tidak pernah saya hitung berapa lama. Yang menandakan warna air sudah pekat sesuai dengan warna yang diinginkan,” ungkapnya.
Selama ini dia berhasil membuat warna cokelat, kuning, hijau, dan merah. Sedangkan untuk warna biru, dia masih membeli.
Dari warna-warna yang dibuatnya, warna merah paling sulit untuk dibuat. Untuk mendapatkan warna merah, bahan yang digunakan adalah akar mengkudu.
“Untuk pewarnaan selanjutnya, saya sudah membuat banyak untuk persediaan,” terang Munawaroh.
Sementara itu untuk motif, dia menggunakan motif-motif kuno. Motif kuno seperti parang, lasem, sekar jagad, kawung dan lainnya.
Dengan proses pewarnaan dan motif kuno ini membuat batik buatannya memiliki ciri khas tersendiri.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah