Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kesukaannya pada Karnaval Membuat Pria Asal Kediri Ini Panen Cuan saat Musim Agustusan

Habibaham Anisa Muktiara • Senin, 2 September 2024 | 18:17 WIB
KREATIF: Sugeng Hadi Waluyo menunjukkan kreasi kostum karnaval buatannya.
KREATIF: Sugeng Hadi Waluyo menunjukkan kreasi kostum karnaval buatannya.

JP Radar Kediri - Jarum jam menunjukan pukul 09.00. Masih tergolong pagi. Tapi, suasana jalanan di salah satu gang di Desa Siman, desa yang masuk wilayah Kecamatan Kepung, sudah lengang. 

Mayoritas rumah dalam keadaan tertutup pintunya. Ditinggal para penghuninya beraktivitas, terutama ke sawah dan ladang.

Tapi, tidak  di  kediaman milik Sugeng Hadi Waluyo. Si pemilik rumah sibuk di teras. Membersihkan kostum-kostum beraneka rupa.

“Ini sedang menyiapkan untuk disewa,” terangnya, sembari mempersilakan tamunya masuk rumah.

Duduk beralas karpet biru, bergaris hitam, pria yang disapa Sugeng ini kemudian bercerita. Tentang bisnisnya di bidang persewaan kostum karnaval.

Yang, harus diakui, sangat menguntungkan ketika memasuki musim-musim seperti ini, Agustusan.

“Penyewanya sampai berasal dari Kertosono (wilayah Kabupaten Nganjuk, Red),” cerita pemuda 24 tahun ini.

Jasa penyewaan yang dia tekuni sejak dua tahun lalu ini mengalami masa panen ketika orang banyak menggelar karnaval atau pawai-pawai.

Sejak awal Agustus hingga September ini sudah banyak yang booking. Bila dirupiahkan, pendapatannya mencapai Rp 6 juta.

“Kalau harga sewanya ya bergantung sulit tidaknya membuat kostum itu,” terang Sugeng. Kemudian menyebut kostum Lembu Sura harganya bisa Rp 1,2 juta per hari. Kostum ini bahkan sudah dipinjam hingga lima kali.

Kebisaannya membuat kostum karnaval didapat secara otodidak. Lulusan SMK jurusan multimedia ini hanya berbekal kesukaannya melihat pawai dan arak-arakan. Yang mendorongnya membuat kostum agar bisa digunakan dalam acara seperti itu.

Diapun kemudian searching di internet. Juga, tidak segan bertanya serta belajar dari orang yang pernah membuat kostum karnaval.

“Waktu itu mau beli mahal. Sementara ingin buat sendiri tidak bisa,” kenangnya.

Meskipun sudah menggeluti dunia pembuatan kostum sejak dua tahun lalu, Sugeng mengakui baru tahun inilah dia merasakan ‘panen’.

Lima kostum yang dia siapkan. Yaitu kostum panji, lembu, candi prambanan, Lembu Sura, dan pasukan berkuda.

Kostum pertamanya adalah panji. Berbahan spon hati atau busa ethylene vinyl acetate (EVA). Selain murah juga mudah dibentuk. “Bisa untuk kostum ukiran dan 3D,” jelas anak bungsu dari tiga bersaudara ini.

Proses belajarnya diwarnai suka duka. Sering terluka di jari tangan. Akibat tersayat cutter. Terutama ketika membuat sayatan paling kecil.

Karya pertamanya itu punya tinggi satu meter. Beratnya, sekitar dua kilogram. Awalnya kerangka bambu, namun akhirnya diganti besi agar awet.

Karya inilah yang dia ikutkan di Fashion Carnival yang digelar Desa Wonorejo, Kecamatan Puncu. Bersaing dengan wakil dari berbagai daerah hingga Kalimantan. Sayang, di ajang yang berlangsung pada 2021 itu dia belum mendapat gelar.

Gagal, justru memacu motivasinya. Sugeng bertekad membuat kostum yang lebih bagus. Lahirlah kostum Lembu Sura.

“Yang menjadi tantangan ini membuat sebuah dongen ini menjadi desain kostum,” cerita laki-laki kelahiran 2000.

Pembuatan kostum ini tidak kalah rumit. Hiasan gunung dan Lembu Sura harus seimbang. Juga ukiran api yang melambangkan amarah. Sugeng sampai menghabiskan enam lembar spon hati.

Kostum inilah yang beberapa kali menang lomba. Di Tulungagung dan Kota Malang.. “Setelah ikut lomba banyak yang menyewa kostum,” terang Sugeng.

Tahun ini dia juga membuat kostum untuk ajang Jember Fashion Carnival (JFC). Bertema catur dengan bahan Paduan dari barang bekas dan baru. Yaitu kardus dan sedotan.

Sugeng mewujudkan tema itu dalam rupa pasukan berkuda. Lengkap dengan senjatanya.

Dari semua bagian pembuatan kostum, paling sulit ini ketika merekatkan bagian bahan kardus dan spon. Sebab sempat beberapa kali terlepas.

Selain itu juga memastikan agar kerdus tersebut tahan air. Karena kelemahan kardus jika terkena air akan menjadi lemas.

Dan itu membuatnya mencari ide agar tersebut tidak terjadi. Salah satunya dengan menambahkan cat yang tahan air.

“Sebelum pakai kardus bekas bungkus mainan sempat pakai kardus air mineral ternyata kurang besar,” ungkapnya.

Kardus ini digunakan untuk bahan membuat sayap dan gunungan. Sayap dan gunungan ini motif papan yag ada dicatur. Kardus yang digunakan ini bekas bungkus mainan.

Proses pembuatan tiga bulan. Karena detailnya lebih rumit dari kostum sebelumnya. Namun usahanya tidak sia-sia, karena dalam ajang tersebut ia mendapatkan best performance tingkat Junior.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kediri #Asal #karnaval #panen cuan #pria