JP Radar Kediri-Asap hitam membumbung ke angkasa. Menyusul bara api kemerahan yang membakar pabrik pengolahan limbah plastik di Dusun Balong, Desa Gogorante, Kecamatan Ngasem Jumat sore (9/8).
Imbas dari korsleting listrik itu yang membuat warga yang berkumpul di sekitar lokasi terlihat cemas. Takut api akan merembet ke permukiman mereka.
Pada saat yang sama, sekumpulan petugas pemadam kebakaran (damkar) tengah berjibaku. Bekerja keras menaklukkan api. Merelokasi, kemudian berusaha mematikan hingga tuntas.
Ada satu sosok petugas damkar yang menarik perhatian. Di antara para lelaki yang bekerja memadamkan api itu, dia adalah satu-satunya perempuan.
Tetap cekatan membantu rekannya. Beberapa kali dia menunjuk titik api yang masih ada.
“Itu, itu, masih ada api di sana,” teriak Nia Lestiana, nama wanita ini, sambil mengarahkan telunjuknya ke satu tempat.
Perempuan asal Kudus, Jawa Tengah ini adalah salah satu pegawai negeri sipil (PNS) di bidang Pencegahan Kebakaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kediri.
Yang membuatnya selalu berinteraksi dengan api ketika ada kebakaran yang terjadi.
Selain Nia, ada satu lagi anggota damkar perempuan. Namanya, Farida Tussolichah.
Bedanya, Farida berstatus pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Selain itu, saat kebakaran sore itu dia tidak bertugas.
Bagi Nia, menjadi petugas damkar bukanlah impiannya sejak kecil. Bahkan, ketika mendaftar test calon PNS pada 2019, dia masih tak membayangkan juga akan bertugas di lapangan.
Meskipun formasi yang dia pilih adalah bidang pencegahan kebakaran.
“Waktu itu saya mengira pekerjaan saya di bagian administrasi saja,” kenang lulusan D3 Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang ini.
Dia juga tak mengira menjadi wanita satu-satunya yang mendaftar di formasi itu ketika tes CPNS pada 2019. Apalagi, antara pengumuman diterima dan masa bergabung terpaut agak lama.
“Saat itu sedang pandemi. Setelah tes, baru 2021 mulai (bertugas),” terangnya.
Awalnya, dia sempat canggung menjadi satu-satunya petugas damkar perempuan. Namun, ketika mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) damkar di Bogor, pikirannya mulai terbuka. Dia bertemu dengan banyak petugas wanita seperti dirinya. Kekhawatiranya pun sirna seketika.
“Ternyata dari daerah lain juga banyak damkar yang perempuan,” ucapnya.
Sejak saat itu perempuan kelahiran 1996 itu tidak hanya mengurusi keadministrasian saja. Dia mulai sering ikut proses pemadaman, maupun panggilan lainnya. Seperti proses evakuasi ular, tawon, ataupun yang lainnya.
Ada satu peristiwa kebakaran yang sangat melekat di benaknya hingga kini. Yang memunculkan perasaan kelam. Karena saat itu dia merasa gagal menyelamatkan satu nyawa.
Kejadian itu terjadi pada 9 April 2021. Ketika ada kebakaran rumah di Desa Kunjang, Kecamatan Kunjang.
Sayangnya, informasi yang diterima petugas terlambat datang. Maklum, belum banyak yang tahu nomor damkar yang bisa dihubungi.
Ketika petugas tiba, api sudah membakar habis rumah milik Sujaemah. Perempuan 68 tahun itu terjebak di dalam kobaran api. Tak mampu meloloskan diri. Kebetulan, kerabatnya yang rumahnya bersebalahan juga sedang pergi.
Bisa dibayangkan bagaimana kondisi wanita tua itu tak bisa menghindari kobaran api. Tubuhnya hitam mengarang. Membuatnya sulit dikenali.
Nia dan petugas lain pun harus mencari lama di antara reruntuhan.
“Satu-satunya petunjuk saat itu adalah dengan mengikuti bau gosongnya. Nyuwun sewu ya, bau gosongnya manusia dengan yang lain itu berbeda,” terangnya.
Memang, semua itu bukan kesalahan petugas damkar. Toh, itu tak membuatnya bisa lepas dari rasa sesal. Tak bisa menolong korban.
Baca Juga: Pemuda Desa Bogem, Gurah, Kabupaten Kediri Sukses Jadi Petani, Ini Caranya
Tapi, pengalaman pahit itu tak membuatnya menyerah menjadi damkar. Sebaliknya, mendorongnya terus berusaha, agar bisa menolong banyak orang.
Farida Tussholichah juga sama. Perempuan yang sebelumnya menjadi petugas damkar di Kota Kediri, sejak 2020, ini mengatakan ada rasa bahagia bila bisa menolong orang lain.
“Ada rasa kepuasan tersendiri,” aku perempuan kelahiran 1994 ini.
Farida juga tidak jarang bertugas di lapangan. Beberapa kali melakukan pemadaman. Juga ikut mengatasi permasalahan lain.
Sebab, menurutnya, banyak hal remeh yang masyarakat tak bisa mengatasi, damkar yang jadi solusi.
Hal itulah yang membuatnya merasa lebih berguna, bisa membantu banyak orang.
Membuatnya rela menanggalkan gelar S1 hukumnya ketika mendaftarkan diri sebagai PPPK di bidang pencegahan kebakaran satpol PP.
Sebenarnya, di formasi lain, banyak yang membutuhkan S1 hukum. Dia pun berpeluang diterima.
Namun, perempuan asal Ngronggo, Kecamatan Kota itu lebih memilih formasi damkar yang syarat pendidikan terakhir hanya SMA. Alasannya hanya satu, karena dia sudah menaruh hati pada damkar.
“Dulu anak-anak banyak yang memilih jadi polisi, dokter. Tidak ada yang bercita-ita jadi damkar. Sekarang berbeda, banyak sekali yang ingin jadi damkar,” akunya dengan bangga.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah