Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Blaru, Badas, Kabupaten Kediri: Puluhan Warganya Konsisten Geluti Pengolahan Kacang Mete

Habibaham Anisa Muktiara • Kamis, 8 Agustus 2024 | 17:08 WIB
BERKUALITAS: Kacang mete olahan warga Desa Blaru, Kecamatan Badas banyak diminati oleh para pelanggan.
BERKUALITAS: Kacang mete olahan warga Desa Blaru, Kecamatan Badas banyak diminati oleh para pelanggan.

JP Radar Kediri- Permintaan olahan kacang mete dari Desa Blaru tergolong tinggi. Apalagi saat menjelang hari raya Idul Fitri. Setiap menjelang lebaran, permintaannya akan berlipat-lipat. Potensi perputaran ekonomi itulah yang membuat banyak warga menggeluti bisnis tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh Mualim. Dia merupakan salah satu orang yang menggantungkan hidupnya dari bisnis pengolahan kacang mete. Pengalamannya tidak perlu diragukan lagi. Dia banyak mengambil bahan baku dari luar Jawa. Mulai dari Flores, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, hingga Sulawesi.

“Dulu kita kirim bibit mete ke Sulawesi. Kini kami ambil bahan baku mete justru dari sana,” jelas Mualim.

Memang, ada plus dan minusnya mendatangkan bahan baku dari luar Jawa. Salah satunya kualitas barang telah terjamin. Namun di satu sisi, ongkos dan harga belinya lebih mahal. Alhasil, Mualim harus merogoh kocek lebih dalam.

Meskipun begitu, dia tetap berusaha mempertahankan standar. Pasalnya, Mualim telah memiliki banyak pelanggan dan rekan bisnis. Sehingga tidak mungkin dia menurunkan kualitas produksi.

Usaha pengolahan kacang mete di Desa Blaru terbukti dapat membantuk finansial warga. Pasalnya, banyak warga di sana yang menggeluti usaha tersebut. Terutama mereka yang tinggal di Dusun Batan. Keberadaan industri rumahan ini juga mampu membantu ibu-ibu mendapatkan penghasilan tambahan.

Beragam Keripiknya Mampu Menembus Pasar Luar Kota

Sektor UMKM tumbuh subur di Desa Blaru. Salah satunya produksi keripik yang digeluti oleh Sobirin dan Fitri Suraida. Sejak tujuh tahun lalu pasutri tersebut dikenal membuat beragam keripik. Seperti keripik ketela, sukun, pisang, hingga belut.

Dalam memasarkan produknya, Sobirin tidak main-main. Dia menyasar pangsa pasar luar kota. Beberapa toko jajanan dan oleh-oleh ditembusinya. Mulai dari Kediri hingga Mojokerto.

“Awalnya kami ya coba-coba. Hingga tahu keuntungannya dan kami terus bertahan,” terang Fitri.

Usahanya dimudahkan dengan banyaknya bahan baku di desa. Sehingga dia tidak pernah kesulitan mendapatkan bahan baku untuk produksi. “Bahan baku tidak sulit mencarinya. Kami ambil dari sini saja,” ungkap ibu dua anak ini.

Tak hanya menjual produk di pusat oleh-oleh, Sobirin kerap mendapatkan pesanan dari para siswa di Kampung Inggris. Biasanya keripik buatannya dijadikan oleh-oleh saat pulang ke kampung halaman masing-masing.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #desa milenial #industri #umkm #kacang mete #jawa pos #Rumahan #Profil Desa