JP Radar Kediri - “Lihat punya sekolah-sekolah lain kan juga bagus. Sempat mikir menang nggak ya? Ada takut tidak menang. Terus akhirnya ternyata menang, ya senang banget,” kenang Layla Khoirun Nikmah, asisten sutradara tim short video dari SMKN 2 Kota Kediri.
Saat ditemui di sekolahannya, gadis yang akrab disapa Layla itu tidak sendirian. Dia ditemani oleh anggota tim lainnya. Adalah sang sutradara yakni M. Rayhan Risqullah Saputra dan voice over Vania Rahma Asjhari. Sementara, Dian Klaudian Bella sebagai kameramen dan Ahmad Hendra Aulia Insani sebagai editor tengah di kelasnya masing-masing.
Mereka yang menjadi satu tim ini bukanlah dari kelas yang sama. Namun, mereka tergabung dalam ekstrakulikuler yang sama, yaitu Kiloe Journalist. Menariknya, ketika diberi amanah untuk mengikuti membuat video pendek, ternyata hal itu bukan sesuatu yang mengagetkan. Pasalnya, sekolah mereka setiap tahun memang ikut serta di school contest.
“Kami sudah cari konsepnya sudah lama sebelum jadwal school contest itu di-share di medsos (media sosial, Red),” kata Layla.
Oleh sebab itulah, mereka yakin bisa menang. Apalagi, mereka menganggap video yang dibuat tersebut berbeda dari yang lain. Yakni, sebuah video pendek yang diberi judul Svara Sunya dengan durasi waktu 3 menit 1 detik. Yang mana, mereka mengangkat cerita tentang seorang disabilitas.
Meski video yang dibuat singkat, namun proses produksinya tidak sesederhana seperti yang dibayangkan. Sebelum proses produksi dimulai, dibutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk persiapan awal. Mulai dari alur cerita hingga pencarian pemeran utama.
“Ganti-ganti pemeran utama,” kata Rayhan, sang sutradara saat ditanya salah satu proses sulit saat pra produksi.
Dia pun mengungkapkan pemeran utama berganti sampai tiga kali. Menurut mereka, hal itu memang wajar lantaran sang pemeran utama harus mendalami peran sebagai tuna rungu. Dan, tak semua orang bisa memerankannya. Pasalnya, pemeran utama harus belajar bahasa isyarat.
Ternyata, kesulitan proses pra produksinya tak hanya pada pemeran utama. Masalahnya, ada adegan menari yang juga ada dalam konsep video tersebut. Padahal, para pemeran yang sudah berhasil dipilih tidak bisa menari.
“Kan bukan asli penari, terus diajarin nari (oleh siswa lain yang bisa menari),” sambung Layla.
Kemudian, pada proses produksi pun juga tak berlangsung gampang. Ada salah satu adegan yang harus diambil berulang kali. Bahkan sampai lima belas kali. Yakni, pada saat adegan sang ayah pemeran utama tengah marah.
“Bahkan peran bapaknya sempat diganti,” lanjut Rayhan.
Meski begitu, video pendek itu akhirnya berhasil terselesaikan dengan proses produksi selama dua minggu. Yang mana, pengerjaannya dilakukan tepat saat libur sekolah berlangsung. Yang otomatis, mereka harus mengorbankan waktu libur mereka. Namun demikian, semua itu terbayarkan dengan gelar juara satu pada Short Video Competition School Contest XVI Radar Kediri.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah