JP Radar Kediri - Bumdes ini sudah ada sejak tahun 2015. Hanya saja baru diperbaiki di era Kepala Desa Moh Muslih. Tak hanya merombak pengurus. Namun juga bidang usahanya. “Di bawah era saya bumdes mulai kembali berjalan pada tahun 2020,” jelas Muslih.
Dia menjelaskan bumdes ini pernah berbisnis alat tulis dan fotokopi. Namun, tidak berjalan mulus. Salah satunya karena pandemi. Hanya berjalan selama empat bulan hingga lima bulan.
“Karena pandemi Covid-19, sekolah atau kantor ini semua WFH (work from home, red),” ucapnya. Alhasil, kebutuhan alat tulis kantor berkurang drastis. Sementara uang kas habis untuk biaya operasional. Akhirnya, unit usaha tersebut terpaksa berhenti.
Usai pandemi, bumdes ini kembali aktif. Hanya saja unit usahanya berganti pada usaha pertanian. Bumdes mendapatkan modal sebanyak Rp 115 juta. Dana tersebut sebagian digunakan untuk menyewa tanah kas desa.
“Dengan begini tanah kas desa ini dapat dimanfaatkan benar-benar untuk warga desa,” ungkap Muslih.
Dulunya saat dilakukan lelang, yang meminjam adalah warga desa. Hanya saja kemudian disewakan untuk warga luar. Sedangkan semenjak dikelola oleh bumdes, yang menggarap sawah merupakan warga lokal.
Sawah kas desa yang disewa tersebut ditanami tanaman tebu dan jagung. Hasil panen tersebut menjadi pemasukan untuk bumdes. Hanya saja untuk saat ini masih belum bisa menyumbangkan untuk pemasukan asli desa (APBdes). Karena untuk bisa menyumbang APBdes, bumdes harus ada keuntungan. Untuk menghitung keuntungan perlu berjalan selama dua tahun.
Kembangkan Industri Rumahan, Mampu Kurangi Pengangguran
Desa Banjarejo terkenal akan usaha pembuatan pot tanaman dan rumah bambunya. Salah satu pelakunya adalah Moh. Zawawi. Begitu terkenalnya, karya pot buatan Zawawi sudah dipasarkan di berbagai daerah. “Saya memulai usaha ini sejak tahun 2006,” ujarnya.
Kemampuan tersebut didapat dari kakaknya yang juga perajin pot taman. Lalu ia memulai usaha mandirinya. Lalu, berkembang ke pembuatan gazebo. Total karyawannya sebanyak 22 warga setempat. 14 diantaranya adalah karyawan pot taman yang setiap harinya mampu memproduksi 100 pot.
Pot ini masih menggunakan tenaga tangan. Tidak menggunakan tenaga mesin sama sekali. Hanya membutuhkan cetakan saja untuk bentuk-bentuk yang dipesan konsumen. Mulai dari bentuk kotak, persegi panjang, tabung, hingga berbentuk lesung.
Ayah 3 anak ini memiliki dapur sendiri di ruang terbuka di samping rumahnya untuk proses pembuatan pot. Karyanya mampu menjangkau Jogjakarta hingga Sampit. Ia memasarkan produk buatannya secara online maupun offline.
Sementara itu, Kepala Dusun Terate Sunari menilai keberadaan industri rumahan tersebut mampu mengurangi pengangguran.
“Cukup banyak yang ikut produksi di sini, mulai dari pot taman sampai produksi gasebo. Mayoritas warga asli sini,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah