Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Kepuh, Papar: Home Industrinya Berhasil Menjadi Sentra Produksi Kerupuk Puli

Habibaham Anisa Muktiara • Kamis, 27 Juni 2024 | 17:04 WIB
MANDIRI: Sentra pembuatan kerupuk puli di Desa Kepuh, Kecamatan Papar diawali dari kegiatan pelatihan.
MANDIRI: Sentra pembuatan kerupuk puli di Desa Kepuh, Kecamatan Papar diawali dari kegiatan pelatihan.

JP Radar Kediri - Usaha pembuatan kerupuk puli ini dikembangkan oleh Rumisih. “Saya membuka usaha ini sejak tahun 2003, setelah mengikuti pelatihan oleh pemerintah desa,” cerita Rumisih tentang usaha krupuk pulinya.

Sejak saat itu, sejumlah warga Kepuh khususnya di Dusun Jatiringin memutuskan untuk memulai usaha produksi kerupuk puli. Rumisih bercerita bahwa hingga saat ini sudah ada puluhan orang yang memproduksi kerupuk puli. Karena itu, desa ini bisa disebut sentra.

Namun, yang skalanya besar sementara masih ada enam tempat. Rumisih termasuk salah satunya. Kini, per harinya dia bisa memproduksi hingga 10 kilo kerupuk puli. Untuk membuat krupuk tersebut, dia sudah memanfaatkan tenaga mesin.

Meski begitu, ia masih membutuhkan tenaga seorang karyawan untuk proses pengemasan. “Biasanya, anak saya juga membantu,” imbuhnya.

Kerupuk tersebut nantinya dikemas dan diberi label. Per kemasan seberat 0,25 kilogram dijual seharga Rp 5 ribu. Jika sudah dikemas, kerupuk puli mentah produksinya bisa bertahan hingga setahun. Untuk pilihan rasa hanya ada rasa bawang saja.

Dalam pemasaran produknya Rumisih mengaku tidak menemui banyak kendala. Sebab kebetulan, kerupuk ini juga populer di masyarakat. Namun, persoalan justru sering diemui dalam proses produksi. Apalagi, saat musim hujan seperti sekarang ini. Lama produksi yang biasanya sehari, bertambah jadi dua hari.

Ditambah lagi, jika musim hujan pesanan kerupuk pun berkurang. Meski omzet turun, dia tak lantas menghentikan proses produksi. “Memang ada pasang surutnya. Kalau udah musim panas atau waktu bulan puasa pesanan pasti melonjak,” kata Rumisih.

Kelola Usaha Pengolahan Bawang Merah Goreng sejak 2012

Tak hanya dikenal akan sentra krupuk pulinya. Di Desa Kepuh juga terdapat usaha pengolahan bawang merah goreng. Usaha tersebut dikelola oleh seorang perempuan bernama Kasri. “Usaha ini mulai dirintis pada tahun 2012,” cerita Kasri tentang usaha penggorengan bawang merah tersebut.

Kasri bercerita bahwa sebelumnya adalah seorang petani bawang merah. Namun, pada tahun 2012 lalu, dia terkena musibah. Karena harga jual bawang merah yang anjlok, dia kesulitan memasarkan hasil panennya. “Banyak yang sisa di rumah,” imbuhnya.

Karena tidak ingin hasil panennya membusuk, Kasri memiliki ide untuk  mengolah bawang tersebut. Caranya dengan menggorengnya. “Kalau busuk ruginya bisa makin banyak,” ucapnya.

Produk olahannya tersebut dikemas dalam plastik kecil. “Jadinya berenteng. Satu rentengnya isi 10 kemasan,” ujar Kasri. Per rentengnya dijual seharga Rp 3.500. Bawang merah goreng yang sudah dikemas tersebut lalu dititipkan ke sejumlah toko sembako di pasar Bogo.

Siapa sangka, produknya ternyata lumayan laris. Saat itu, dia pun memutuskan fokus untuk menekuni usaha tersebut. “Bahan baku mulai saya stok dari luar,” aku Kasri.

Dalam perkembangannya, bawang goreng produksinya dijual dalam tiga jenis kemasan. Yaitu kemasan plastik rentengan, plastik besar, dan toples. Bawang goreng dalam plastik besar dijual Rp 3 ribu per kemasan. Sedangkan bawang goreng dalam toples ia jual Rp 25 ribu.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #desa milenial #papar #kediri #Home industri #jawa pos #kerupuk puli