Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Selosari, Kandat, Kabupaten Kediri: Usaha Jamur Tiramnya Terus Tumbuh

Habibaham Anisa Muktiara • Jumat, 21 Juni 2024 | 16:24 WIB
KREATIF: Warga Desa Selosari, Kandat gotong royong menyiapkan tempat untuk budidaya jamur.
KREATIF: Warga Desa Selosari, Kandat gotong royong menyiapkan tempat untuk budidaya jamur.

JP Radar Kediri - Salah satu pelaku usaha budi daya jamur tiram adalah Ari Pribadi, 25, warga Dusun Mangunan. Dia menekuninya sejak 2013. Setelah lulus sekolah menengah atas. Pemuda yang sempat mendaftar polisi ini tertarik karena melihat kesuksesan teman-temannya.

Kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri, Ari menjelaskan kelebihan budidaya jamur tiram. Yang membuatnya kepincut. Yaitu panen bisa dilakukan setiap hari. Sehingga penghasilan pun bisa datang setiap hari pula.

Namun, upayanya itu sempat tersendat. Orang tuanya tak mendukung. Alasannya, karena sudah ada warga yang lebih dulu menekuni. “Orang tua saya takut kalau tetangga merasa tersaingi,” ujarnya saat ditemui di rumahnya.

Tapi, setelah memberi penjelasan, sang orang tua akhirnya luluh. Membolehkan anaknya menekuni budi daya jamur tiram.

Restu itu tak salah. Sebab, budi daya jamur tiram memiliki prospek yang besar. Bahkan, ketika pandemi pun tak terlalu terpengaruh. Pasarnya masih terbuka meskipun tingkat produksi mengalami penurunan.

“Selama pandemi berkurang 30 persen. Bila biasanya dapat 1 kuintal menjadi 70 kilogram,” terangnya sambil menunjukkan tempat membudidayakan jamur tiram di samping rumah.

Keunggulan jamur tiram yang lain, harganya terjangkau. Jamur tiram putih Rp 11 ribu dan jamur tiram cokelat berkisar Rp 16 ribu per kilogram. Peminatnya dari Kediri, Nganjuk, Tulungagung hingga Tuban. Ke depan Ari dengan jumlah jamur 35 ribu ini ingin membuat rumah makan dengan menu jamur. Sehingga dapat menjadi ciri khas Desa Selosari, karena budi daya ini juga didukung pemdes.

Manfaatkan Lahan Kosong untuk Budi Daya Ikan 

Tak hanya jamur, budi daya ikan konsumsi juga banyak ditekuni warga Desa Selosari. Berdasarkan data yang ada, hingga sekarang terdapat 40 orang yang menekuninya. Mereka tak hanya memelihara ikan hias, melainkan juga ikan konsumsi.

Salah satu pembudi daya ikan konsumsi adalah Dedi Kisworo. Laki-laki berusia 36 tahun tersebut sudah menekuni budidaya gurami sejak 2004. Sedangkan ikan koi dimulainya sejak 2015. Dia juga membuat kelompok perikanan bernama Mekar Sari pada 2006.

Inisiatif timbul karena Dedi memanfaatkan lahan kosong di rumahnya. “Saya bingung mau mengisi lahan itu. Dengan tanaman tak terlalu menguntungkan. Lalu saya diskusi dengan teman-teman hingga menemukan gurami untuk dibudidayakan,” paparnya ketika ditemui di rumahnya.

Untuk ikan koi ditekuni Dedi pada 2015. Saat itu gurami memasuki masa sulit. Banyak yang gagal panen. Sehingga kolam banyak yang kosong. Dedi lalu beralih ke koi yang banyak diminati penghobi ikan.

Sebagai penggagas kelompok perikanan, ia mendata ada 11 anggota. Namun sebenarnya ada 40 lebih warga pembudi daya ikan di Selosari. Ikan dari anggota kelompok ada yang ditaruh kolam rumah Dedi. Ada pula yang membuat kolam sendiri.

“Total ada 25 kolam gurami dan 10 hingga 15 kolam ikan koi milik kelompok Mekar Sari,” terang pria yang saat itu memakai baju merah.

Dedi mengaku, pernah menerima bantuan benih dari dinas perikanan. Selain itu, juga pakan dan alat perikanan. “Bantuan ini untuk keberlangsungan kelompok ikan Mekar Sari,” katanya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #kabupaten kediri #desa milenial #Budi Daya Ikan #kediri #jamur tiram #jawa pos