JP Radar Kediri - Sujali adalah perajin barongan asal Desa Panjer, Kecamatan Plosoklaten. Dia memanfaatkan kayu jenis cangkring sebagai bahan baku. Kayu itu diperoleh dari hutan. Alasan menggunakan kayu cangkring karena kayu tersebut mempunyai beban yang ringan dan mudah dipahat. Selain itu, kayu cangkring juga memiliki karakter suara lebih merdu.
Sedangkan untuk membuat bagian jambang, Sujali menggunakan kulit kerbau dan drem tetes. Untuk membuat barongan, peralatan yang digunakan adalah alat pahat dengan berbagai ukuran.
Karena alatnya masih sederhana, proses pembuatannya cukup lama. Yang membutuhkan waktu lama adalah proses pemahatan. “Sebelum dipahat, terlebih dahulu digambar polanya terlebih dahulu,” ujar pria 54 tahun tersebut.
Setelah proses pemahatan, terlebih dahulu dilakukan pengamplasan. Pengamplasan ini bertujuan agar proses pengecatan lebih mudah. “Untuk ukuran yang paling besar, ini memiliki berat sekitar 45 kilogram,” ucap Sujali.
Barongan dengan ukuran besar ini merupakan barongan pertama buatan Sutaji. Barongan bewarna merah buatanya tersebut sudah pernah ikut berbagai kegiatan budaya. Salah satunya kegiatan 1000 barong yang diadakan di Simpang Lima Gumul.
Barongan buatannya tak hanya laris di Kabupaten dan Kota Kediri saja. Pesanan juga datang dari Tulungagung, Gresik, Surabaya, Jember, Pasuruan dan Malang. Selain itu, tak jarang pesanan juga datang dari luar Indonesia. Seperti dari Hongkong dan Malaysia.
Usaha Bolunya Berhasil Ciptakan Lapangan Pekerjaan Baru
Tidak hanya terkenal dengan pengerajin kesenian barongan. Desa Panjer juga terkenal dengan usaha kulinernya. Usaha tersebut digeluti oleh Iin Ardi Ningsih dan Zainal Arifin, suaminya.
Keduanya membuka usaha kuliner kue bolu. “Waktu awal membuka usaha dulu modal awalnya Rp 5 juta,” ucap ibu tiga anak itu.
Modal itu kemudian terus diputarnya. Meski awalnya hanya dijalani berdua saja, kini mereka sudah punya banyak pelanggan. Dari kerja keras yang dilakukan Iin dan suaminya mereka mampu bersaing. Dari yang semula hanya memproduksi saja, kini sudah memiliki tempat sendiri untuk pemasaran.
Suami istri ini tampaknya sadar akan kebutuhan pelaku-pelaku UMKM di Kecamatan Plosoklaten. Dengan saling bekerjasama, dia tidak hanya menjual makanan dari produksinya saja. Di gerainya itu ada juga produk makanan lain yang bukan bolu. “Ini produk UMKM dari teman-teman pelaku usaha makanan lainnya,” imbuhnya.
Kini setiap harinya dia bisa memproduksi lebih dari seratus kotak. Harganya beragam dari yang Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu. Apalagi nanti musim hajatan banyak pula yang memesan di tempatnya. Saat itu pula tenaga produksinya juga akan bertambah dan mampu memberikan efek bagi warga sekitar.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah