JP Radar Kediri - Madu lebah lanceng banyak dijual di berbagai platform online. Sayangnya, keaslian madu tersebut kadang tak dapat dipastikan. Karena itulah Arif mencoba memulai budidaya lebah lanceng.
Untuk mendapatkan madu tersebut, Arif mencari batang bambu yang berada di sekitar rumahnya. “Pada saat itu saya dapat batang bambu di kandang milik tetangga,” ujar ayah tiga anak ini.
Satu bulan kemudian, anak pertama dari tiga bersaudara ini memiliki ide untuk beternak lebah lanceng. Untuk memulainya, dia memesan langsung kepada pemotong bambu. Tanpa mempelajari dasarnya, dia langsung memesan 10 ruas bambu. “Pada saat itu saya mau belajar dari teman asal Solo, namun ditolak,” tutur Arif.
Alasannya karena dia tidak memiliki bunga yang digunakan untuk makanan lebah. Teman tersebut akan mengajarkan bila Arif sudah memiliki persiapan. Karena memelihara lebah tanpa adanya persiapan sama saja dengan menyiksa ciptaan tuhan.
Di halaman rumah kontrakannya, anak pasangan Abdul Rohim dan Yatimah ini menanam bunga-bunga yang disukai lebah. Mulai dari air mata pengantin, jatropa, dan santos. Dari kotak-kotak tersebut terkumpul madu hingga setengah gelas. Namun setiap panen, dia hanya mengambil dua per tiga hasil panen. Karena tidak ingin lebah kehabisan cadangan makanan.
Pada 2020 lalu, pria kelahiran 1986 ini mulai merasakan hasilnya. Dari 5-6 kotak, dia bisa mendapat satu liter madu. Itu dalam kurun waktu tiga bulan. Jika 20 kotak baru mendapatkan tiga liter. Itupun jika lebahnya adalah koloni super.
Waktu kasus Covid-19 meningkat, pesanan madu ini mencapai 25 liter. Satu liter ini dijual dengan harga Rp 450 ribu. Baru pada tahun 2021, Arif mendatangkan lebah Biroi dari Sulawesi. Satu kotak ini berharga Rp 400 ribu. “Saat ini di sini ada satu lebah Sulawesi, satu Lampung dan 13 lokal,” kata Arif.
Manfaatkan Kandang, Rintis Usaha dari Nol
Tak hanya budidaya lebah madu. Di Desa Adan-Adan juga terdapat pembudidaya jamur tiram. Usaha tersebut digeluti oleh Mar’atus Sholihah. “Dulu awalnya usaha olahan lele. Kemudian beralih mencoba melakukan budidaya jamur,” ungkap perempuan 45 tahun itu.
Mulanya, dia hanya memiliki lima log saja. Karena awalnya dia terbatas tempat. Hingga akhirnya dia memanfaatkan kandang di rumahnya untuk budidaya tersebut. Beruntung, suaminya selalu mendukung. Kandang itu akhirnya diperbaiki.
“Setelah di perbaiki, saya mulai memasan log lebih banyak lagi,” imbuh perempuan kelahiran 1978 ini.
Dia benar-benar memulai bisnisnya dari nol. Mar’atus belum tahu cara mengelola dan memasarkannya. Alhasil, setiap kali panen dia harus berkeliling desa. Itu dilakukan untuk menjajakan hasil panen jamur tiramnya.
Tak hanya itu, dulunya dia juga hanya menjual secara mentah. Namun, kini dia mulai mengolah jamur-jamur tersebut menjadi jajanan. Salah satunya menjadi keripik jamur. “Biasanya juga sering dijadikan oleh-oleh dari desa,” ucap Mar’atus.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah