JP Radar Kediri - “Saat musim kemarau, angin sedang kencang. Umumnya layang-layang akan banyak dicari orang,” terang Agung Pujianto, perajin layang-layang di Dusun Baba’an, Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem.
Pria 37 tahun ini menyulap tas kresek menjadi layang-layang karakter. Bukan sembarang tema. Dia justru memilih genre horor. Karakter hantu buatannya mulai dari kuntilanak, genderuwo, dan pocong.
Sesuai karakter kuntilanak, Pujianto juga berkreasi dengan rambut hitam yang panjang. “Bahan utama yang digunakan untuk membuat layangan ini adalah tas kresek,” imbuhnya.
Tidak hanya karakter hantu saja. Agung juga membuat layang-layang dengan karakter lego yang berupa ninja. Layang-layang berukuran 90 sentimeter dan panjang 1,5 meter membutuhkan dua kresek ukuran besar dan satu kresek ukuran kecil. Semenatara bahan untuk membuat kerangka layangan menggunakan bambu dan benang.
Sebelumnya dia juga membuat layang-layang berbentuk burung hingga gapangan. Untuk membuat layangan karakter Agung pertama melihat tutorial di Youtube. “Awal membuat sampai dua kali percobaan. Karena yang sulit adalah memasang tali gocinya dan membuat layangan terbang,” terang Agung.
Awalnya, dia membuat layang-layang dengan karakter kuntilanak. Setelah berhasil, Pujianto langsung mengembangkan sendiri karakter yang digunakannya.
Ketika memasuki musim kemarau, angin yang berembus kencang membuat layang-layang terbang dengan mudah. Sehingga banyak orang beli kepadanya. Namun, berbeda saat musim penghujan.
Baca Juga: Inilah Klub Pesepeda RSUD Gambiran, Spesialis Touring Malam Hari Lintasi Hutan
Puluhan Tahun Geluti Usaha Pembuatan Gerabah dari Bambu
Tak hanya dijadikan kerangka layang-layang. Warga Desa Tugurejo juga menyulap bambu menjadi gerabah berbagai bentuk. Seperti apa yang dilakukan Ahmad. Bahkan, usaha itu telah digeluti selama puluhan tahun. “Saya sudah membuat tampah sejak tahun 1965,” jelas Ahmad.
Karena usianya tidak lagi muda, dia dibantu oleh anaknya. Hartoyo, sang anaknya bertugas mengumpulkan dan memotong bambu-bambu. Sedangkan Ahmad yang merangkai potongan bambu tersebut menjadi gerabah.
Setelah itu, Ahmad juga menganyam potongan bambu menjadi tampah. Seharinya, Ahmad dan Hartoyo bisa menghasilkan hingga 20 buah tampah. Nantinya, gerabah buatan mereka akan dibawa dan dijual ke pasar.
Di Desa Tugurejo tidak hanya Ahmad saja yang masih bertahan sebagai pembuat gerabah. Namun ada juga orang-orang seumurannya yang membuat tampah.
Dulu memang pernah diadakan pelatihan menganyam bambu. Harapannya agar produk gerabah dari Desa Tugurejo tidak hanya tampah. Namun bisa membuat gerabah jenis lainnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah