Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Kisah Mursalim, Mantan Striker Persedikab di Divisi Utama usai Gantung Sepatu

Emilia Susanti • Kamis, 16 Mei 2024 | 18:55 WIB
JEJAK PRESTASI: Mursalim menunjukkan piala dan medali yang diraihnya dari berbagai ajang kejuaraan sepak bola.
JEJAK PRESTASI: Mursalim menunjukkan piala dan medali yang diraihnya dari berbagai ajang kejuaraan sepak bola.

Para zoomer, sebutan untuk generasi Z, mungkin tak kenal dengan sosok ini. Begitu pula dengan generasi milenial lainnya. Wajar, karena Mursalim hadir ketika generasi tersebut belum lahir atau baru saja hadir ke dunia.

Ya, pria yang berdomisili di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare ini merupakan pesepak bola di era 1990-an akhir hingga awal 2000-an. Bagi penggemar olahraga ini di era itu, kemungkinan, mengetahui sosok ini.

“Saya dulu striker Persedikab. Berduet dengan Musikan. Itu dulu Persedikab masih main di Divisi Utama (sekarang setara Liga 1, Red),” kenangnya saat ditemui di rumahnya, di Dusun Tegalsari.

Ketika itu, Persedikab Kediri berada di masa kejayaannya. Berkompetisi di level tertinggi persepakbolaan tanah air. Melampaui Persik Kediri yang masih berkutat di Divisi Dua. Pada saat itulah, nama Mursalim dikenal banyak orang.

Tetapi, seiring perjalanan waktu, lambat laun namanya meredup. Sejalan dengan bertambahnya umur yang membuat performa menurun. Lalu, pada 2006, Mursalim memutuskan gantung sepatu. Ketika usianya sudah 29 tahun.

“Saya masih bermain, tetapi di level yang lebih bawah,” terangnya.

Di sisi lain, Mursalim juga merupakan seorang honorer di Pemerintah Kabupaten Kediri. Itu dimulai sejak 2004, sebelum pensiun dari Persedikab Kediri. Kemudian, pada 2010, dia baru diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Meski mundur dari Persedikab, dia tak berhenti bergulat dengan dunia sepak bola. Mursalim kemudian mendirikan sekolah sepak bola (SSB), pada 2002 silam. Yang dia beri nama SSB Tunas Muda, yang berganti menjadi SSG FC Pare pada 2022 silam. Tempatnya di Pare. Terjun langsung menjadi pelatih. Meskipun saat itu dirinya belum memiliki lisensi.

“Saya baru punya lisensi tahun 2018 akhir,” ujarnya.

Ternyata, proses mendapatkan lisensi ini menjadi sebuah titik balik baginya. Dari materi yang didapatkannya, banyak pengetahuan baru yang membuatnya merefleksikan diri. Mursalim merasa banyak kesalahan yang diperbuatnya semasa muda.

“Saya sadar ternyata melatih anak-anak itu tidak bisa disamakan saat saya dulu berlatih di zaman saya,” akunya.

Menurutnya, banyak kata-kata kasar yang dilontarkan pelatih ketika sedang memberi materi. Ternyata, dia menyadari itu bukan hal yang seharusnya ditiru. Begitupun dalam bentuk latihan yang diberikan. Tidak seharusnya anak-anak diberikan latihan fisik seperti yang dulu dia jalani dulu.

Tak hanya itu, pengetahuan baru yang didapatkan juga memberikan pandangan baru untuknya. Lalu, membuatnya memiliki cita-cita baru. Yakni, menciptakan bintang-bintang sepak bola dari lingkup terbawah.

“Kabupaten Kediri itu luas. Ada banyak kecamatan. Satu kecamatan ada banyak desa. Pasti ada bintangnya. Saya ingin mewadahi orang-orang yang ada di desa itu,” ungkapnya.

Oleh karenanya, usai mendapat lisensi itu Mursalim menjalankan program Sport for Development atau S4D. Kemudian, dia membuat liga sepak bola di Kabupaten Kediri. Yakni untuk usia U13, U15, dan U17. Menurutnya, dari situlah dia bisa menciptakan pemain sepak bola andal. Mencetak bintang-bintang dari desa di Kabupaten Kediri.

“Saya tidak akan ambil lisensi lagi, cukup lisensi D. Biar yang muda-muda yang melatih (pemain profesional, red). Karena, saya ingin membina yang muda-muda untuk mencetak bintang. Meski bukan saya (yang melatih, red), tetapi jejak dari mana dia berasal akan tetap ada,” tandasnya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah