JP Radar Kediri - Dorong Kemandirian Pelaku Usaha di Desa Kedungsari, Kecamatan Tarokan.Produksi Gerabah Setiap Hari, Rencanakan Perluas Produksi.Warga Desa Kedungsari, Kecamatan Tarokan banyak yang memproduksi gerabah. Bahkan, usaha tersebut sudah berjalan secara turun-temurun.
“Dulu di desa ini banyak perajin tembikarnya, kini sudah mulai berkurang,” ujar Damiyati.
Memang Desa Kedungsari dikenal sebagai sentra perajin gerabah. Mulai dari cobek, asbak, kuali, hingga mainan alat masak untuk anak. Sedikitnya ada delapan perajin gerabah di desa ini. Namun setelah para pendahulu pembuat tembikar meninggal, jarang anak-anaknya meneruskan usaha tersebut.
Begitu juga di keluarga Damiyati. Hanya dia dan kakak pertamanya yang mau melanjutkan usaha kerajinan tersebut. “Dulu saya pertama kali belajar membuat tembikar ketika berusia 15 tahun,” tutur ibu satu anak tersebut.
Baca Juga: Profil Desa Sambi, Ringinrejo, Kabupaten Kediri: Melihat Kreativitas Warga Membuat Barongan
Setelah tidak melanjutkan sekolahnya, Damiyati lebih sering membantu orang tuanya untuk membuat tembikar. Mainan masak-masakan merupakan karya pertama yang dia buat. Hanya dengan melihat saja, dia dapat dapat mengembangkan menjadi banyak bentuk.
Dalam setengah hari, istri dari Gito, 48 dalam satu hari bisa memproduksi 100-200 unit wadah untuk pakan kelinci. Sementara itu, dalam sekali bakar bisa mencapai 450-500 unit dalam waktu dua jam. Hanya saja, produksinya sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku.
Tidak hanya Damiyati. Di desa tersebut juga terdapat Kadir yang juga perajin tembikar. Di tangannya, gerabah tidak hanya menjadi peralatan rumah tangga. Namun menjadi sebuah seni yang bernilai tinggi. “Keluarga saya dulu adalah perajin gerabah,” kenangnya ketika ditemui di rumahnya.
Baca Juga: Profil Desa Semen, Pagu, Kabupaten Kediri: Dorong Kemandirian UMKM Warga Desa
Kadir memiliki ide untuk menyulap tanah liat tersebut menjadi kerajinan asbak hingga guci. Benda pertama kali yang ia buat adalah manukan. Bahkan untuk membuat gerabah, suami dari Sri Supriatin itu pernah berkuliah di jurusan seni.
“Untuk ide saya mencari dari sekeliling saya,” imbuhnya. Gerabah karya Kadir lebih berwarna. Gerabah yang sudah dalam keadaan kering dia hias dengan cat warna-warni.
Berkurangnya perajin gerabah di desanya membuat Kadir merasa prihatin. Agar ada regenerasi, dia menyiapkan ketiga anaknya menjadi penerusnya.
Keripik Buatannya Terjual hingga ke Luar Kota
Banyak warga Desa Kedungsari yang memiliki usaha pembuatan makanan ringan. Bahkan penjualannya hingga keluar kota. Salah satu yang menarik adalah produk makanan ringan dari bahan baku cabai. Usaha tersebut dijalankan oleh Kholisatun.
Baca Juga: Mau Awet Muda? Kamu Bisa Lakukan Collagen Stimulator
“Usaha ini sudah saya lakukan sejak tahun 2009,” cerita Kholisatun.
Kholisatun menjelaskan bahwa usaha snack dari cabai itu diaplikasikan menjadi keripik ketela pedas. Tidak hanya laku di Kediri saja. Produk ketela pedas tersebut bahkan sampai keluar kota.
Selain Kholisatun, pemilik usaha makanan ringan lainnya adalah Dewiyanti. Produknya adalah keripik ketela, keripik jamur, keripik tempe, kembang gula, dan keripik bayam. Pemasaran produk ini sampai ke Sidoarjo, Ngawi, Malang, Semarang, Bandung, Yogyakarta, hingga Jakarta. Produk makanan ringan ini memanfaatkan sumber daya yang ada di Desa Kedungsari. Seperti ketela, bayam, dan jamur.
Baca Juga: Ketika Bajingan Tengah Naik Daun di Mata Kaum Muda
Pemasarannya dalam sehari bisa sampai empat kardus. Dalam satu kardus berisi 40 bungkus. Selain itu juga pemasaran yang dilakukan dengan sistem online. Melalui Facebook, Instagram dan Whatsapp miliknya.
Namun begitu, produk miliknya juga dijual di toko offline. “Produk kami ini akan tahan dalam waktu dua minggu,” ungkap Dewiyanti. Produk makanan ringan itu harganya berkisar antara Rp 8 ribu sampai Rp 12 ribu per bungkus.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah