Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dua Pelajar SMK Negeri 1 Plosoklaten Raih Juara di Lomba Kompetensi Siswa Jawa Timur

Habibaham Anisa Muktiara • Selasa, 7 Mei 2024 | 17:00 WIB
JUARA: Adinda Melisa Laura dan Balkis Intan Putri bersama para guru pembimbing menunjukkan trofi LKS Jatim.
JUARA: Adinda Melisa Laura dan Balkis Intan Putri bersama para guru pembimbing menunjukkan trofi LKS Jatim.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Dua gadis, dengan seragam atas putih dan bawah abu-abu muncul dari balik pintu lobi SMKN 1 Plosoklaten. Keduanya terlihat ceria. Wajahnya sumringah. Yang sangat antusias ketika diminta bercerita pengalamannya memenangi lomba kompetensi siswa (LKS) tingkat Jatim beberapa waktu lalu.

Dua gadis itu, Adinda Melisa Laura, 18, dan Balkis Intan Putri, 17, memang baru saja menorehkan prestasi bagus. Keduanya menjadi juara dua dan tiga dalam ajang yang berlangsung di Madiun, 23-26 April lalu.

“Saat pengumuman pemenang Balkis sempat nangis. Saat namanya tidak dipanggil ketika pengumuman juara ketiga,” cerita Dinda. Balkis yang disebut hanya tersenyum.

Pengumuman pemenang berlangsung 26 April lalu. Lokasinya di gedung milik Politeknik Perkeretaapian Indonesia. Pada saat itu hanya nama Dinda yang dipanggil saat pengumuman juara tiga. Sedangkan nama Balkis tidak disebut.  “Pada saat itu saya nangis di tempat duduk sambil kirim WhatsApp ke pembimbing. Soalnya mengira bakal juara tiga tapi ternyata mendapatkan juara dua,” timpal Balkis.

Meski sama-sama mengikuti Lomba Kompetensi Siswa SMK XXXII se-Jawa Timur, Dinda dan Balkis mengambil kategori perlombaan yang berbeda. Untuk Dinda, yang merupakan siswa kelas 11 jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura ini mengikuti lomba di bidang agronomi. Sedangkan Balkis yang kelas 11 jurusan Agri Bisnis Perikanan Air Tawar ini mengambil LKS Fishery.

Agar bisa mewakili sekolah dalam ajang bergengsi si Jawa Timur tersebut, Dinda dan Balkis lebih dulu mengikuti seleksi yang ketat. Sebelumnya, Dinda juga mengikuti lomba karya tulis ilmiah (LKTI) di Univerisitas Tribuana Tungga Dewi Malang. Siswa asal Dusun Karangnongko, Desa Sumberagung, Kecamatan Plosoklaten ini membuat LKTI tentang efektivitas pupuk organik cair dari limbah yang mudah didapatkan di sekitar. Pada saat itu bersama dengan anggota timnya menggunakan limbah tahu ini mendapatkan juara dua.

“Karena di LKTI ini mendapatkan juara dua, oleh guru pendamping ini disuruh untuk melanjutkan ke LKS,” ungkap Dinda.

Tapi, Dinda masih diseleksi lagi. Bersaing dengan teman satu timnya saat di LKTI. Akhirnya, dia yang terpilih dan rekannya jadi cadangan.

Setelah terpilih menjadi perwakilan, Dinda langsung melakukan persiapan selama tiga bulan. Dalam LKS, bungsu dari dua bersaudara ini mengangkat tentang pemanfaatan pupuk semi-organik (semok). Berbeda dengan ketika LKTI namun bahannya tetap dari limbah.

Bahan untuk membuat Semok ini adalah air cucian beras, air kelapa, kotoran sapi, kapur tohor atau gamping, mono-kalium phospat (MKP), pupuk urea, NPK, dan plant growth promoting rhizobacteria (PGPR), yaitu kelompok bakteri menguntungkan yang baik untuk pertumbuhan tanaman.

Menurut Dinda, Semok menjembatani petani agar beralih dari pupuk kimia ke pupuk organik. “Pupuk ini sangat cocok digunakan di lahan yang kandungan PH-nya kurang,” imbuhnya. Dengan diberikan pupuk semok, diharapkan tanaman ini dapat menyerap unsur hara dengan cepat.

Jika Dinda sukses dengan pupuk semoknya, Balkis sukses dengan vitamin atau suplemen untuk ikan. Bahan yang digunakan adalah belimbing dan temulawak.

Pada awalnya Balkis, yang tepaksa masuk di jurusannya saat, ini enggan mengikuti LKS. Karena takut dia mengerjakan setengah-setengah. Apalagi dia harus bersaing dengan 11 siswa lain yang ikut seleksi.

Seiring berjalannya waktu, enam anak mengundurkan diri. “Lima anak itu kemudian diseleksi lagi menjadi tiga, dan akhirnya saya yang terpilih,” terang Balkis.

Putri dari pasangan Teryono dan Binti Maftuhah ini melakukan persiapan selama enam bulan. Sebab, inovasi yang dia lakukan tergolong baru. Sebelumnya, banyak yang meneliti temulawak dan belimbing, namun dalam keadaan terpisah. Sementara dia melakukannya dengan menggabung kedua bahan tersebut.

“Percobaan ini dimulai Desember, diawali dengan tiga akuarium,” kenang Balkis. Karena ikannya mati dan gagal, ia kemudian mengulang dengan menggunakan 10 akuarium. Dari percobaan kedua ini masih banyak yang mati. Dia kembali mencoba ulng. Kali ini dengan empat akuarium.

Setelah percobaan berkali-kali, akhrinya berhasil. Dengan menggunakan vitamin atau suplemen dari bahan temulawak dan belimbing dapat mempercepat pertumbuhan ikan. Dalam masa pertumbuhan 30 hari, satu ekor bisa meningkat 1,2 gram dari berat sebelumnya.

“Alasan kenapa saya menggunakan belimbing, karena selama ini masih jarang dimanfaatkan,” kata remaja anak ke dua dari dua bersaudara tersebut. Saat musim panen, blimbing ini banyak terbuang. Padahal blimbing tersebut dapat dikeringkan dan dijadikan bahan suplemen. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kompetensi siswa #prestasi #plosoklaten #lomba #smk #pelajar