KEDIRI, JP Radar Kediri - “Kegiatan ini sudah dilakukan sacara turun temurun,” terang Kepala Desa Wonotengah, Kecamatan Purwoasri H Suhud.
Suhud menjelaskan ada alasan khusus kenapa doa bersama ini berlangsung di Punde Mbah Gemang. Alasan pertamannya karena Mbah Gemang ini dianggap sebagai sesepuh desa. Dia merupakan sosok yang babat desa pertama kali.
“Selain mengenang sejarah, juga untuk memanjatkan doa kepada Tuhan YME,” ucapnya. Perangkat bersama dengan warga desa berdoa bersama untuk kebaikan desa. Harapannya agar desa selalu aman dan bebas dari segala musibah.
Kegiatan ini biasanya dilakukan mulai pukul 07.00 WIB. Seluruh warga desa akan membawa nasi berkat masing-masing. Sedangkan untuk kepala desa bakal membawa tumpeng. Setelah didoakan bersama, semua makanan tersebut akan disantap bersama.
Selain doa bersama untuk kegiatan suroan, pemdes bersama warga melakukan tahlilan setiap malam Selasa wage. Hanya saja, untuk kegiatan tahlilan saat malam selasa wage ini memang tidak banyak. Namun, tujuan kegiatan sama. Yaitu berdoa untuk kebagikan desa dan mendoakan leluhur.
Konsisten Dukung dan Bantu Promo UMKM Warga Setempat
Warga Desa Wonotengah, Kecamatan Purwoasri banyak yang berkecimpung di dunia usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Seperti yang dilakukan oleh Suhartati, 46, dan Muchson, 54. Meski memiliki jenis masing-masing, namun keduanya sama-sama memproduksi makanan ringan.
“Di desa ini ada banyak warga yang bergelut di dunia umkm,” jelas Kepala Desa Wonotengah, Kecamatan Purwoasri H Suhut.
Suharti tercata memiliki enam macam snack. Enam snack tersebut yaitu kacang sembunyi, keripik pisang, molen pisang, molen kacang, stick, dan onde-onde. Semua varian snack tersebut dikembangkan secara bertahap.
“Sebelum dikemas seperti ini, awalnya dulu saya hanya jual dengan kemasan Rp 500,” ujar Suharti. Awalnya, produknya itu hanya dikirim ke warung-warung. Tak disangka peminatnya banyak. Alhasil, dia mengembangkan usahanya tersebut.
Setelah mendapatkan saran dan dukungan, Suharti mulai berani menjual produknya di toko-toko pada 2017 silam. Tak ayal, snack dengan brand Krezta tersebut semakin terkenal. Di lain sisi, Suharti secara tidak langsung membuka lapangan pekerjaan baru. Sebab untuk dapat memenuhi pesanan dia membutuhkan tenaga kerja tambahan.
“Produk saya ini dijual di supermarket Kediri, Nganjuk, Kertosono, dan Jombang,” kata Suharti.
Sementara itu, Muchson membuat camilan dari ceker dan usus ayam. Tak hanya mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Dia juga membantu warga sekitar untuk berpenghasilan. “Sebenarnya dulu yang memiliki usaha ini adalah adik dari istri saya,” ujar Muchson.
Hanya saja, usaha kerupuk ceker tersebut masih awalnya belum memiliki izin. Untuk meneruskan usaha tersebut, Muchson sempat belajar dahulu pada 2013 silam. Dari hasil belajarnya tersebut dia mencoba memasarkan ke tempat oleh-oleh yang berada di Mengkreng.
“Rupanya jika ingin memasukkan produk di pusat oleh-oleh ini harus ada izinnya,” imbuhnya.
Sambil belajar meningkatkan kualitas produk, dia langsung mendaftarkan perizinan. Secara perlahan usaha snack ceker ayam dengan brand Sakifa Tiga Putra tersebut semakin berkembang. Meski proses pembuatannya masih manual, kualitasnya terjamin. Bahkan pengirimannya ada yang sampai ke Bali.
“Selain kerupuk ceker ayam, juga ada kerupuk ceker bebek, dan keripik usus,” kata Muchson. Ceker bebek dan keripik usus buatannya memiliki kualitas yang tidak kalah bagus.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah