Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Siman, Kepung, Kabupaten Kediri: Kumpulkan Temuan-temuan Bersejarah agar Tak Terbengkalai

Habibaham Anisa Muktiara • Jumat, 19 April 2024 | 16:15 WIB

 

Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri- Desa Siman layak disebut desa sejarah. Karena banyak ditemukan benda-benda peninggalan era lampau, terutama Kerajaan Medang, yang sarat nilai. Benda-benda itu dikumpulkan dan tersimpan di Punden Mbah Bogor Paradah. 

Nama punden ini diambil dari tempat dia berdiri, di Dusun Bogorpradah. Bukan berupa makam tokoh atau raja. Melainkan ‘hanya’ sebagai tempat peristirahatan bagi Mbah Bogor Paradah.

Punden ini berada di bawah pohon besar. Di bagian bawah pohon terdapat dua arca berbentuk singa. Yang satu dalam keadaan utuh dan bagus. Sementara yang lain tanpa kepala, hilang entah ke mana.

“Di punden ini banyak sekali temuan benda bersejarah. Karena itu tetap kami jaga dan lestarikan,” ucap Kepala Desa Siman Subagiyo. 

Nilai penting punden ini ditegaskan pula oleh pemerhati sejarah Novi Bahrul Munib. Menurutnya, kata Paradah merujuk pada nama daerah pada masa Kerajaan Menang. Dan punden ini  berdiri di bekas permukiman kuno. Karena itu banyak ditemukan artefak-artefak penting. Karena itulah, langkah untuk menjaga dan melestarikan merupakan upaya tepat. 

“Punden ini menyimpan temuan artefak dan arca yang kental akan nama Paradah,” terang Novi Bahrul Munib.

Menurit Novi, yang jadi dasarnya adalah banyaknya temuan yang terkait dengan peradaban kuno yang ada di punden tersebut. Seperti umpak penyangga tiang bangunan, ambang pintu atau dorpel, dan lumpang batu.

Benda lain yang terkait dengan keseharian masyarakat kuno pun juga ditemukan. Seperti gerabah, pecahan keramik, dan batu bata kuno. Benda-benda itu terserak di kebun dan sawah milik warga.

Waduk Siman, Indah Pemandangannya, Enak Kulinernya 

Desa Siman juga memiliki pesona kekayaan alam. Paling terkenal adalah Waduk Siman. Waduk yang selalu jadi lokari ritual Melasti oleh masyarakat Hindu. 

Namun, waduk seluas 50 ribu meter persegi ini juga jadi jujukan para wisatawan. Terutama muda-mudi yang ingin menghabiskan waktu menikmati indahnya lanskap.

“Selain menjadi tempat Melasti, waduk ini juga menjadi tempat wisata,” terang Kades Subagiyo.

Menurut Subagiyo, Waduk Siman terbentuk setelah Gunung Kelud meletus. Di celah besar yang dihasilkan itulah kemudian menjadi danau buatan alias Waduk Siman. Kegunaan awal sebagai sarana irigasi. Namun, karena pemandangannya indah, akhirnya mengundang wisatawan datang. 

Selain menikmati keindahan alam, pengunjung juga dapat mencicipi kuliner yang dijual di warung-warung di sekitar waduk. “Paling ramai pas hari Minggu,” imbuhnya. 

Waduk Siman juga menawarkan berbagai aktivitas menarik bagi pengunjung. Selain bisa duduk santai di kursi di bibir waduk sambil menikmati keindahan alam, pengunjung juga bisa berolahraga. Berjalan, berlari atau bersepeda berkeliling waduk.

Dulu Waduk Siman merupakan aliran Sungai Serinjing, yang dibuat oleh Bhagawanta Bari. Dari prasasti yang ditemukan di daerah Siman, pada era Mataram Kuno sekitar abad ke 9, disebutkan Bhagawanta Bari membendung aliran Sungai Konto untuk kepentingan irigasi di lembah utara Gunung Kelud. Berkat jasanya, maka dia diberi tanah pardikan, seperti yang tercantum di Prasasti Harinjing, pemberian itu bertanggal 25 maret 804 Masehi. Yang jadi waktu penentuan hari jadi Kediri. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #desa milenial #jawapos #temuan bersejarah