KEDIRI, JP Radar Kediri - Masjid ini sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Tepatnya ketika Perang Jawa berakhir dengan tanda tertangkapnya Pangeran Diponegoro. Prajuritnya yang melarikan ke Kediri, salah satunya, membangun masjid di Desa Adan-Adan ini.
Namanya Masjid Al-Falah. Namun orang-orang sekitar lebih mengenalnya dengan sebutan masjid Candi Kidul. Merujuk pada lokasi masjid tua ini yang berada di Dusun Candi bagian selatan. Salah satu dusun di Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri.
Masjid ini diperkirakan sudah ada sejak 1830. Akhir era Perang Jawa atau juga dikenal dengan Perang Diponegoro. Dan, masjid ini memang dibangun oleh salah seorang prajurit Diponegoro. Yang memilih melarikan diri ke timur setelah pimpinannya diperdaya pasukan Belanda.
Sosok prajurit Diponegoro itu adalah Kiai Irsyad. Dia juga merupakan Adipati Pekalongan, yang memilih kabur ke wilayah Kediri. Hingga membuka lahan di daerah yang kini bernama Desa Adan-Adan.
“Saat mukim di sini, selain bikin gubuk untuk tempat tinggal juga bikin musala. Itulah cikal bakal Masjid Al-Falah ini,” terang Badrul Komar, yang merupakan cucu buyut dari Kiai Irsyad.
Selang dua tahunan, setelah area hutan bambu itu dibuka oleh Kiai Irsyad, banyak orang yang berdatangan dan tinggal di wilayah ini. Akhirnya, bersama dua orang tokoh yang masih kerabatnya, Hasan Munadi dan Mad Dasim, Kiai Irsyad memutuskan menjadikan musala menjadi masjid. Sekaligus untuk menyebarkan agama Islam.
“Ketika mulai ramai pendatang. Dibangun jadi masjid. Dari situ juga awal mula penyebaran Islam (semakin massif),” terang laki-laki usia 54 tahun itu.
Lokasi masjid itu berdekatan dengan Situs Candi Adan-Adan. Dulu, reruntuhan candi banyak berserakan dan tidak terawat. Kiai Irsyad pun menggunakan sebagian batu bata candi untuk membangun masjid.
Hal itu bisa dilihat dari dimensi tembok masjid utama yang lebar. Menunjukkan disusun dari batu bata material candi yang ukurannya besar-besar.
“Yang masjid utama bagian putra, tembok kelilingnya itu besar-besar. Katanya memang bagian dalam itu dari batu candi. Makanya temboknya tebal,” terang Badrul.
Hal ini diperkuat oleh para pemerhati sejarah. Yang membenarkan bahwa tembok masjid ini memang dibuat dari material reruntuhan candi.
“Karena mungkin dulu belum tahu bahwa itu (material candi) merupakan benda bersejarah. Makanya menurut informasi yang beredar, beliau menggunakan untuk membangun masjid,” terang Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Eko Priyatno.
Kembali ke soal masjid, Badrul menerangkan, rumah ibadah ini sudah menjalani tiga kali renovasi besar. Jadinya, sudah tidak ada bangunan orisinil seperti di masa Kiai Irsyad, kecuali bangunan sumurnya.
“Kalau sumur itu sejak masa Kiai Irsyad sampai sekarang masih tetap. Dan tidak pernah kering. Pembaruan cuma dilepo (diplester, Red) saja,” terangnya sembari menunjukkan sumur yang terlihat sisi bawahnya disusun menggunakan batu bata besar yang diperkirakan merupakan material candi.
Rehabilitasi pertama dilakukan oleh Kiai Jaelani, putra Kiai Irsyad. Dulunya, empat saka guru di bangunan utama masjid bukanlah dari kayu jati. Kiai Irsyad menggunakan kayu bendo untuk menyangga masjid itu. Karena Kiai Jaelani merasa kayu bendo rapuh dan tidak awet, lantas dia merehabnya menjadi kayu jati.
Kiai Jaelani juga menaikkan pondasi masjid. Karena dulunya wilayah itu merupakan cekungan, sehingga ketika hujan air akan menggenang di sekitar masjid.
Rehabilitasi bangunan masjid berikutnya pada masa Kiai Mohammad Sholeh, ayah Badrul, atau cucu Kiai Irsyad. Dia kembali menaikkan pondasi. Selain itu juga menguruk sekitar masjid agar daerah itu menjadi datar.
“Makanya pondasi masjid kependem. Akhirnya masjid ini mungkin pondasinya dua atau tiga,” terangnya.
Sekitar 2003-2004, kubah lama yang terbuat dari tanah liat, berbentuk seperti kendi, diganti dengan kubah yang lebih modern. Namun ternyata karena itu muncul beberapa keanehan. Yakni puluhan genting yang tiba-tiba pecah dengan sendirinya. Konon, hal itu karena kubah keramat yang tidak boleh diganti.
“Setelah saya cari (pecahan kubah lama) saya coba taruh di atas plafon, sampai sekarang sudah tidak ada kejadian lagi. Dan pecahan kubah sekarang juga masih di sana,” terangnya.
Di depan masjid, terdapat jam bencet yang masih dipelihara. Pernah sekali akan dibongkar, namun setelahnya banyak yang kesurupan. Karena itulah jam kuno tersebut tidak dibongkar. Hanya diperbaharui agar lebih indah dengan dipasangi keramik.
“Kalau dulu ini digunakan untuk mengetahui waktu salat. Dan di masjid kuno memang bencet menjadi simbol. Istilahnya jadi porosnya masjid,” terangnya.
Menara yang terhubung di tempat salat jemaah perempuan, juga merupakan bangunan baru. Dibangun pada 2000-an. Awalnya konsepnya meniru menara Masjid Kudus. Namun karena tukang yang dipekerjakan tidak ada yang bisa, alhasil tidak dibuat dengan persis.
“Jadi yang penting ada nyantik-nyantik di bagian pinggirnya,” jelasnya.
Di masjid utama, terdapat tiga pintu kupu tarung. Menurut Badrul, angka tiga dalam Jawa berarti ratu. Yang memiliki arti bahwa masjid itu seperti kerajaan.
“Kan mirip tata caranya, khotib ketika berkhotbah, semua kan harus diam. Seperti halnya ratu ketika memberikan titah,” terangnya.
Tiga pintu juga menjadi simbol lain. Yaitu menunjukkan penerapan sunah adanya jumlah ganjil.
Sebenarnya ada lagi bagian masjid yang masih orisinal sejak zaman Kiai Irsyad. Yakni bedugnya. Namun Bedug itu sekitar 1980-1990-an dipindahkan ke Masjid di Bulurejo, Menang, Pagu.
“Karena di sini (Masjid Al Falah) sudah ada bedug lain. Dari pada tidak berfungsi, jadi diberikan ke sana,” terangnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah