Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus Ramadan: Masjid Al Amin Sambi Kediri Lakukan Renovasi Total Tanpa Hilangkan Ornamen Kuno

Ayu Ismawati • Kamis, 4 April 2024 | 16:23 WIB

 

Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri- Masjid satu ini terbilang megah untuk ukuran tempat ibadah yang berada di  desa. Yang terjadi melalui perjalanan panjang nan penuh perjuangan. Termasuk merenovasi total masjid lama yang telah berdiri sejak 1933.

Masjid Al-Amin namanya. Lokasinya di Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri. Tepat di tepi Jalan Surya, di Dusun Petung. Jalan yang menghubungkan Kecamatan Ringinrejo dengan Kecamatan Kras.

Bila melihat tahun diresmikan, masjid ini masih sangat belia. Baru awal 2024 ini. Namun, bila menelusuri sejarahnya, Masjid Al Amin usianya sudah puluhan tahun. Karena hasil renovasi masjid lama yang dibuat pada 1933.

“Awalnya masjidnya jauh lebih kecil. Karena mempertimbangkan kondisi masjid yang sudah tua dan banyak kayu yang sudah lapuk, akhirnya direnovasi total,” terang Hartoyib, yang juga salah seorang pengurus masjid.

Sekilas, hasil renovasi masjid wakaf ini menampilkan gabungan unsur modern, Jawa, dan Timur Tengah. Unsur modern nampak dari fasad bangunan yang terbuka tanpa kanopi. Termasuk seluruh dindingnya yang dilapisi keramik dengan unsur warna hitam dan putih.

Di area fasad  terdapat ornamen lengkungan yang erat dengan arsitektur khas Timur Tengah. Maklum, masjid ini memang terinspirasi dari masjid terbesar kedua di dunia; Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi.

“Awalnya dari insinyurnya memang inspirasinya dari sana (Masjid Nabawi, Red). Tapi selama perkembangannya, ada beberapa penyesuaian di desainnya,” urai pria yang biasa disapa Toyib ini.

Penyesuaian desain itu salah satunya mempertimbangkan sisa peninggalan masjid lama. Agar aspek sejarah tak serta-merta hilang, beberapa furnitur dan ornamen dibiarkan tetap ada. Meskipun tak di tempat yang sama seperti sebelumnya.

Salah satunya saka guru atau empat tiang dari kayu jati yang dulu menopang bangunan utama. Pilar-pilar itu masih ada. Termasuk lampu gantung tua yang juga  ditempatkan di tengah keempat saka guru.

“Ini dulu dari kiai yang mewakafkan masjidnya berpesan agar saka gurunya tidak dihilangkan. Akhirnya tetap ada di sini tapi kami letakkan di luar,” sebutnya, sambil menunjuk  saka guru yang kini berada tepat di depan pintu utama.

Sentuhan arsitektur khas Jawa juga nampak dari atap yang berbentuk limas, khas rumah Joglo. Hanya saja, di puncak atap diberi ornamen kubah.

Beralih ke interior, kesan modern dan Timur Tengah lebih mendominasi. Ornamen-ornamen lengkungan banyak ditemui. Di antaranya ornamen jendela dan mihrab.

Uniknya, mimbar dibuat lebih tinggi dan menyatu dengan dinding. Tempat imam menyampaikan khutbah itu hanya bisa diakses dari dalam mihrab.

“Dibuat seperti di Masjid Nabawi. Jadi lebih tinggi tempatnya,” terang Toyib.

Proses membangun masjid megah ini tidak sebentar. Butuh waktu lima tahun hingga diresmikan. Penyebabnya, dana yang digunakan semuanya dalah swadaya masyarakat.  

“Dulu, di awal pembongkaran (masjid lama), kami pengurus masjid sempat takut kalau nggak bisa jadi. Sedangkan masjidnya sudah terlanjur dibongkar,” ujar Toyib, mengenang kegamangan panitia kala itu.

Saat itu, panitia renovasi hanya mengantongi Rp 100 juta. Hasil dari  infak masjid. Panitia pun mencoba melakukan terobosan penggalangan dana. Yakni, dengan mengumpulkan sumbangan dari pengendara yang melintas di jalan di depan masjid.

Pilihan itu bukan tanpa risiko. Panitia sering jadi sasaran kemarahan orang yang merasa terganggu.

“Sudah sering dikatain orang-orang. Dipisuhi. Tapi kami tetap lanjutkan demi terbangunnya masjid ini,” tandasnya.

Selama lima tahun itu pula, total sumbangan yang terkumpul dari pengendara sangat fantastis. Totalnya, Rp 3 miliar! Dengan dana swadaya sebanyak itu tak hanya bisa membangun masjid yang fungsional, menampung lebih banyak jemaah. Melainkan juga menghadirkan tempat ibadah yang megah dan indah, kebanggaan masyarakat setempat. Termasuk membangun menara yang bersinar di malam hari.

“Kalau malam hari lebih bagus lagi. Di setiap sudut masjidnya ada lampu sorot. Di menaranya juga ada lampu warna-warni yang menyala setiap malam,” pungkasnya. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #masjid modern minimalis #jawapos #kuno