KEDIRI, JP Radar Kediri- Desa ini terkenal karena jadi sentra pembuat material bangunan. Salah satunya ada di Dusun Templek. Yang menjadi pusat pengrajin genting dan batu bata dari tanah liat.
Jangan heran, ketika memasuki wilayah Dusun Templek, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, sejauh mata memandang yang terhampar adalah deretan genting mentah yang sedang dijemur. Karena nyaris semua warga dusun adalah pembuat atap rumah dari tanah liat itu.
Salah satu di antaranya adalah Yatmi. Perempuan 48 tahun ini sudah lebih separo usianya dia gunakan untuk memproduksi genting.
“Saya mulai usaha ini setelah menikah, ketika berusia 19 tahun,” cerita Yatmi saat ditemui di rumah sekaligus tempat pembuatan genting.
Menurut wanita ini, genting yang terbuat dari tanah liat punya keunggulan. Terutama bila dibandingkan dengan genting yang terbuat dari semen.
"Genting dari tanah liat terasa jauh lebih dingin. Karena ketebalannya, rumah pun terasa sejuk,” suluknya.
Sebab, masih menurut wanita ini, genting tanah liat tidak menyerap panas. Cocok untuk rumah di iklim tropis seperti Indonesia. Juga, lebih kuat dalam menahan beban. Jika pemasangannya hati-hati, air hujan tidak merembes ke dalam.
“Genting dengan bahan tanah liat ini bisa tahan hingga 25 tahun,” kata Yatmi.
Kalaupun ada kelemahan, genting tanah liat lama-lama pudar warnanya. Karena sering terpapar sinar matahari dan terkena air hujan. Namun hal itu bisa disiasati dengan mengecat tiap genting sebelum dipasang di rangka atap. Cat genting juga berguna untuk menjauhkan genting tanah liat dari lumut.
Memanfaatkan Sumber Celeng Jadi Edu-Wisata
Tak hanya kaya dengan pertanian, Desa Gadungan juga punya kekayaan air yang melimpah. Termasuk mata air bernama Sumber Celeng. Dengan airnya yang jernih dan debitnya yang tinggi membuat sumber air ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan air irigasi atau rumah tangga, juga disiapkan menjadi edu wisata.
Sumber ini berada di Dusun Sumberbahagia. Tidak pernah surut meskipun musim kemarau. Di sekitarnya kaya akan vegetasi. Maklum, selain masuk wilayah dusun tapi juga ada di kawasan Perhutani.
“Sumber Celeng ini dikelilingi oleh puluhan jenis pohon,” jelas Kepala Desa Gadungan Dari Purwanto.
Dari menjelaskan, Sumber Celeng memiliki luas sekitar 2,6 hektare. Dikelilingi pohon jati, balsa, sengon, kayu putih, jeruk lemon, kelengkeng, dan durian. Di dekatnya ada juga lahan pembibitan seluas 6,3 hektare.
“Jadi pembibitan pohon kayu putih, jati, dan berbagai pohon lainnya,” imbuhnya.
Fungsi utama Sumber Celeng adalah irigasi. Mengairi sawah-sawah di sekitarnya. Kemudian, bila kemarau, juga banyak warga desa yang beraktivitas dan bermain. Terutama anak-anak, yang berenang di kolam sumber karena tak terlalu dalam.
Karena mengundang daya tarik warga untuk datang, Pemdes Gadungan berusaha mempertahankan kelestarian. Dengan menjaga dari tindakan merusak lingkungan seperti pencemaran. Bekerja sama dengan pembinaan masyarakat desa hutan (PMDH), pemdes melakukan antisipasi dari sikap tak bertanggung jawab seperti membuang sampah sembarangan.
“Kedepannya pemerintah desa akan membuat edukasi wisata di Sumber Celeng,” ungkap laki-laki 47 tahun ini.
Pemdes pun mempersiapkan MoU dengan Perhutani sebagai pemilil kahan. Setelah itu, melalui karang taruna dan badan usaha milik desa (bumdes) akan menjalin kerja sama di bidang pembibitan.
“Nantinya wisata edukasi ini dilengkapi dengan outbound dan lokasi untuk pertemuan,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah