KEDIRI, JP Radar Kediri - Namanya Aksel Za Trigaskara. Hidupnya tak pernah jauh dari dunia musik. Lahir dari rahim sang ibu yang merupakan dedengkot CB Band, band legendaris dari Kediri di era 1980-an, Atien CB. Kemudian, ketika dewasa memilih pula musik sebagai jalan hidup. Selain sebagai penerus generasi CB Band, pemuda yang biasa dipanggil Axel CB ini juga frontman grup band pop rock Snapburn. Dia juga drummer Qodir Band, band dari Ibu Kota yang juga dibentuk oleh Abdul Qodir Jaelani, anak musisi kenamaan Ahmad Dhani.
Bagi Axel, musisi zaman now selalu dihadapkan pada dua hal. Idealisme dan komersialisasi. Meskipun semuanya kembali ke diri masing-masing musisi.
“Musik zaman sekarang tak bisa ditebak. Allround, semua bisa dijual. Tapi ada beberapa yang segmented,” ujarnya.
Nah, situasi ini jadi tantangan besar bagi dirinya. Aliran rock metal dianggap hanya tersegmentasi bagi penikmat musik tertentu.
“Karena di jalur musik rock dan pop, karakter saya tak bisa dituntut mengikuti musim banget. Meskipun sebenarnya harus realistis juga karena cari duit,” urainya.
Tentu dia punya siasat. Yaitu menyeimbangkan karya bernuansa idealis dengan komersil. Atau, yang sesuai dengan minat pasar musik. Karena resep eksis adalah mengembangkan musikalitas dan bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Selain itu, memanfaatkan platform digital juga keniscayaan. “Kalau mau menembus pasar musik zaman sekarang, harus wajib memanfaatkan platform digital. Karena anak muda zaman sekarang digital,” sambung pria 26 tahun asal Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Pesantren ini.
Walaupun, menurutnya, kualitas musik yang dikemas media digital tetap tak bisa mengalahkan versi fisik. Seperti dalam bentuk CD, kaset pita, maupun piringan hitam atau vinyl.
“Sebenarnya hasil music-mastering yang dicetak di kaset ataupun vinyl itu jauh lebih bagus dari platform digital. Karena digital itu masih ke-compressed dan segala macam, bukan real hasil mastering-nya,” katanya.
Berbeda dengan Riant Daffa, musisi beraliran balada asal Gringging, Kabupaten Kediri ini lebih memilih perform offline dibanding digital steaming platform (DSP).
“Di awal memang nekat fisik saja,” aku penyanyi solo ini.
Menurutnya, aliran yang dia pilih lebih idealistis. Berisi lagu yang mengkritisi sesuatu. Nah, peminat aliran ini masih sangat sedikit.
“Kalau kebanyakan orang itu memilih lagu sesuai dengan mood atau kondisinya saja. Sementara aliran yang seperti ini tidak bisa. Hanya orang-orang yang memang memiliki konsen di isu itu saja (yang menyukai),” aku pemilik dua album dalam bentuk CD ini.
Album keduanya adalah “Pertanian Hari Ini”. Dirilis pada 2022. Untuk mengenalkan pada khalayak musik, dia mengundang kenalannya yang juga musisi. Kemudian melakukan performe terlebih dulu. Setelah itu baru menawarkan membeli CD-nya.
Riant juga melakukan tur konser di berbagai daerah di Jatim. Seperti Kediri, Blitar, Jombang, Sidoarjo, dan Lamongan.
“Tur dilakukan sepuluh hari, itu kolaborasi dengan dua musisi lain” terangnya.
Riant mengaku, karena tidak semua orang menyukai genre musiknya. Sasaran memasarkan CD adalah kolektor. Dengan banyak bergabung di komunitas musisi akan memperbanyak channel-nya. Sekaligus mempermudah menjual dan mengenalkan lagunya.
Namun, seiring berjalannya waktu, Riant harus merambah ke DSP. Karena tidak semua penggemarnya itu bisa menikmati musiknya. Bukan karena tidak mau membeli kaset rilisan, namun karena tidak punya player-nya. Ada pula yang ingin datang melihat Riant perform namun tidak ada waktu untuk datang.
“Di Tiktok sama IG itu banyak petani sawit atau petani dari luar Jawa merekam video pas di kebun, terus diunggah dengan backsound lagu pertanian saya,” akunya.
Adha Buyung, pentolan Kiara Kelana-grup band indie dari Pare, Kabupaten Kediri-juga mengakui ketergantungan musisi pada platform digital. “Sepertinya nyaris semua musisi di Indonesia memasarkan lagunya melalui platform digital,” terang vokalis serta gitaris ini.
Buyung memiliki alasan mengapa dirinya memilih platform digital untuk memasarkan lagu. Salah satunya adalah karena jangkauan yang lebih luas.
“Tinggal klik dan seluruh dunia bisa dengar,” jawab Buyung.
Bukan hanya soal masalah pemasaran. Digitalisasi musik juga membuat pembajakan lagu minim terjadi. Bagaimana bisa? Yaitu karena tiap platform media sosial yang mereka gunakan akan otomatis mendaftarkan lagu tersebut sebagai milik peng-upload. Namun tentu dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah memiliki file master dari lagu tersebut.
“Jadi hak milik lagu itu jelas. Asalkan bisa membuktikan dengan memiliki file master maka semuanya aman,” tambah pentolan band yang terkenal dengan lagu ‘Aksara Jiwa’ itu.
Selain itu seorang musisi bisa mendapat royalti dari platform media yang mereka gunakan. Jumlahnya pun bervariasi. Namun yang pasti mereka bisa mendapat royalti sebanyak jumlah lagu mereka didengarkan.
“Bahkan sangat mungkin royalti dari platform itu lebih banyak dari honor manggung,” pungkasnya sembari mengatakan jika jumlah mereka manggung dalam satu bulannya masih dalam hitungan jari.
‘Selama Masih Bernyawa, Tak Dep Kaset-Kaset Ini’
“Kata anak saya, kalau capek nggak bisa melanjutkan, suruh nutup saja tokonya. Tapi saya nggak rida (rela, Red).” Begitulah respons Indrawati Sumadi, penjual kaset dan compact disc (CD) di Jalan Kapten Tendean ketika ditanya alasan dirinya bertahan dengan bisnis ini.
Bagi perempuan yang akrab disapa Indra itu, kaset dan CD sudah seperti bagian hidupnya. Toko kaset bernama ‘Sumadi Kaset’ tersebut sempat berjaya beberapa dekade silam. Seiring kejayaan permusikan di era rekaman kaset serta CD.
“Dulu sehari bisa menjual 500 keping (CD),” ujarnya mengenang masa-masa jaya itu.
“Sekarang sehari laku 5-6 keping saja sudah bagus,” lanjutnya.
Keterpurukan bisnis kaset, menurutnya, semakin parah pascapandemi Covid-19. Semakin sedikit masyarakat yang membeli kaset. Hanya tinggal segelintir orang saja. Itupun kebanyakan para kolektor yang kerap berburu media musik jadul ini.
Para pembeli itu tak hanya warga Kediri. Juga datang dari luar daerah. Bahkan, ada yang dari luar provinsi. Bagi mereka, kiosnya seperti surga dengan deretan CD dan kaset pita. Mulai dari kaset penyanyi pop lawas, band legenda luar negeri, sampai kaset sang ‘raja dangdut’ Rhoma Irama. Semuanya berjajar rapi.
“Kaset nostalgia yang masih banyak dicari,” lanjut perempuan asal Purwoasri, Kabupaten Kediri itu.
Semakin berkembangkan industri musik digital membuat bisnis musik konvensional semakin tergerus. Tak hanya peminatnya saja yang berkurang, tapi juga produksi kaset dan CD yang terbatas.
“Kalau kaset pita mulai 2010 sudah tidak ada produksi. Jadi saya hanya mengambil stok lama. Kalau CD, pesannya harus minimal tiga ribu keping,” tandas ibu tiga anak itu.
Merintis usaha kaset dan CD sejak 1989 membuat Indra tak bisa lepas dari dunianya itu. Mulanya, ia dan mendiang suaminya—Sumadi—menjual kaset pita. Sebelum menetap di kios, ia dan suaminya bahkan harus berkeliling menjajakan dagangannya.
“Dulu waktu kaset CD mulai naik daun tahun 1994, saya sama suami keliling dari panggung ke panggung. Setiap ada acara musik, kami selalu mengikuti. Ngenalin orang-orang dengan CD musik. Karena waktu itu—apalagi yang di desa—belum banyak yang tahu,” kenangnya.
Pasang surut bisnis kaset sudah pernah ia hadapi. Di puncak kejayaan kaset dan CD, ia bisa membuka beberapa cabang, mempekerjakan karyawan, hingga membangun rumah dari jeri payahnya. Terakhir, cabang penjualannya di kawasan Gelanggang Olah Raga (GOR) Jayabaya juga harus gulung tikar karena sepi.
“Sekarang kalau untuk kebutuhan keluarga saja masih cukup. Tapi untuk karyawan sudah nggak sanggup,” sambungnya yang kini bertahan hanya dengan satu kios miliknya.
Matanya berkaca-kaca menceritakan seberapa jauh ia sudah hidup dengan kaset dan CD. Angan-angan untuk menutup tokonya pernah terpikirkan. Pelanggan setianya—termasuk para pecinta musik nostalgia—yang justru melarangnya tutup usaha. “Alhamdulillah kok masih ada peminat kaset. Saya mau tutup saja nggak boleh sama pelanggan,” katanya.
Kalaupun saat ini peminatnya banyak berkurang, baginya kios ‘Sumadi Kaset’ itu akan terus beroperasi. Menjadi saksi bisu perkembangan industri musik di tengah cepatnya arus digitalisasi.
“Selama saya masih diberi nyawa, tetap tak dep (saya jual, Red) kaset-kaset ini,” ujarnya dengan nada yang mantap.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah